Senin, 05 Maret 2018

14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional


Judul tulisan ini mungkin cukup jarang dan aneh, karena ketika saya searching di Google “Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional”, tidak ada sama sekali artikel yang menuliskan postingan itu. Sebagian besar artikel yang berkaitan adalah “Cara Menjadi Pembicara Handal” atau “Cara Menjadi Pembicara Seminar yang Baik.” 

Well, karena ini baru, saya ingin berbagi pengalaman saya dan saya merasa teman-teman juga bisa menjadi pembicara di forum-forum internasional. Bukan dengan konferensi self-funded, bahkan fully funded sehingga penyelenggara membiayai pesawat, hotel dan makanmu demi beberapa menit kau berpidato di depan ratusan bule. Mau gak mau? Meski tulisan ini sepenuhnya hasil pengamatan pengalaman pribadi dan teman-teman saya, mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya.



Januari 2016 adalah pertama kalinya saya menjadi seseorang yang berbicara di depan audiens bule; berbicara dengan bahasa Inggris dalam sebuah acara internasional ICFP 2016 di Bali Nusa Dua Convention Centre (80% dari 3000 audiens adalah bule, diantaranya adalah para stakeholders bahkan Pak Presiden Jokowi & Pak Habibie). Saat itu saya mahasiswa tingkat 2 Psikologi UNJ. Dan konferensi itu jauh lebih bergengsi daripada yang saya pikirkan sebelumnya. Konferensi tersebut fully funded: saya mendapatkan tiket pesawat PP Garuda Indonesia, kamar VIP hotel bintang 5 termahal di Bali selama 6 malam yg jendelanya langsung menghadap pantai Nusa Dua, dan juga uang saku sebesar 2,5 juta rupiah.

Setelahnya, saya menjadi lebih mudah mendapat beberapa channel untuk menjadi pembicara internasional. Mulai dari unjuk ide di Forum Pemuda PBB New York USA; memberikan sambutan di sebuah Forum inovasi se-Asia Pasific (IYFI) di Suntec Singapura; bahkan ketika saya tidak apply apapun namun di email mendapat undangan untuk menjadi pembicara di Rapat 150 Peneliti Asia dan seluruh pesertanya adalah S3 (Ph.D atau Dr, saya pembicaranya malah S1).




November 2018 insyaa Allah saya menjadi presenter ICFP 2018 di Kigali, Rwanda. Desember 2018 juga saya menjadi pemateri sekaligus juri penerima peserta OpenCon 2018 di Toronto, Kanada.  Semuanya dengan travel scholarship/fully funded (tiket pesawat, hotel, makan dibiayai) kecuali Forum PBB di New York itu dengan sponsor. Alhamdulillahnya, itu pun dibantu pemerintah hingga 40 juta rupiah.

Kalau teman-teman bilang saya pasti pintar dengan IQ tinggi? Saya jawab tidak.

Saat SMA saya selalu berada di peringkat-peringkat terakhir di kelas, nilai saya sering nol, dan seringkali terancam tidak naik kelas. Saya juga sempat menunda satu tahun sebelum bisa berkuliah karena saya tak lulus SNMPTN 2012. Kuliah tingkat satu, saya mahasiswa luntang-lantung dengan mengikuti lima organisasi sekaligus. Lalu seringkali saya gugur di medan perjalanan, hehe. (Baca tulisan saya sebelumnya: Hikmah Peringkat Terakhir)

Meski begitu, saya merasa jalan masa depan sebenarnya terpampang lebar di depan mata saya. Mungkin tidak mudah dan mungkin masih panjang. Tapi saya tahu ke arah mana saya akan berjalan agar menginspirasi lebih banyak orang lain. Well, dengan cara saya sendiri.

Lalu ini beberapa tips ala Maryam Qonita, untuk kamu-kamu bisa sering jadi pembicara di forum-forum bergengsi tingkat internasional di Luar Negeri.
.
Percayalah, Setiap Kesempatan Kecil Mengubah Hidupmu. Maka Lakukanlah Dengan Sungguh-Sungguh dan Sepenuh Hati.

Kesempatan kecil yang mengubah hidup saya adalah ketika saya menjadi volunteer dalam program PPA-PKH (Pengembalian Pekerja Anak-Program Keluarga Harapan) bersama BKKBN, P2TP2A dan juga Dinas Sosial tahun 2015. Waktu itu saya membimbing 100 anak-anak putus sekolah untuk kembali meniti impian mereka. Sebagai gantinya, saya banyak mendapat curhat dari anak-anak yang putus sekolah tersebut, mulai dari jadi tukang batu, buruh cuci atau harus menikah dengan pria yang 10 tahun lebih tua. (Baca tulisan saya sebelumnya: Kesempatan Kecil yang Mengubah Hidup)

Tulisan kisah-kisah mereka itu yang saya kirimkan dalam aplikasi ICFP 2016. Dan pada akhirnya, pengalaman itu mengubah hidup saya secara drastis. Bukan saya yang mengubah hidup 100 anak itu, tapi mereka yang mengubah hidup saya. Kita tak pernah tahu, mungkin saja dunia ingin mengetahui kisah mereka, kan? 



Maggie disamping kiri saya

Salah satu teman saya saat ICFP 2016, Maggie, bahkan dinominasikan menjadi Sekjen PBB Utusan Pemuda (UN Secretary General envoy on Youth) karena pidatonya tentang sahabatnya yang dinikahi di usia dini. Kebetulan pidatonya jago bikin orang nangis dan emosional. Teman saya itu, yang sebelumnya belum pernah ke LN, sekarang kerjaannya keliling dunia melulu menemani petinggi PBB, Melinda Gates, dan para pemimpin dunia lainnya mulai dari blusukan di pedalaman-pedalaman Afrika hingga memimpin rapat pemimpin dunia di Washington DC.

Coba, lihatlah sekeliling. Tidak harus jauh-jauh mencakup seluruh Indonesia. Lihatlah masalah kelaparan, pendidikan, kesehatan, ketimpangan sosial, ekonomi, dsb yang ada di masyarakat sekelilingmu. Analisislah permasalahan tersebut dengan pisau analis yang tajam. Jadilah bagian dari solusi dan perubahan menuju yang lebih baik. Lakukanlah dengan sepenuh hati. Remember: Think globally, act locally.


Percayalah, para applicants yang diterima dalam konferensi fully funded tidak membeberkan data-data jumlah besar atau sejarah umum yang para juri sudah tahu. Atau mungkin mereka menuliskannya sedikit tapi sebenarnya para juri menunggu kontribusi nyata di masyarakat yang langsung terasa manfaatnya. Jika kau apply untuk menjadi speaker, berikanlah juri ‘BOOM’ sesautu yang juga akan menarik hadirin untuk menyimak pidatomu. Dan sesuatu yang menarik hati, ditulis dari hati.
.
Bergabung dalam Sebuah Gerakan/Komunitas/Organisasi Internasional Yang Memiliki Visi Universal.


Untuk bisa bergabung dalam berbagai organisasi internasional yang memiliki visi universal, kalian bisa banyak searching di Google, banyak membaca dan juga bertanya-tanya pada mereka yang memiliki afiliasi pada satu organisasi hingga membuatnya diundang kesana kemari untuk bicara di depan forum internasional.

 

Kalau saya, saya bergabung dalam OpenCon (www.opencon2017.org) yang merupakan komunitas penggerak yang mempromosikan pentingnya keterbukaan informasi, mengenai pendidikan, penelitian atau data pemerintah. Aplikasi saya ditolak pertama kalinya, tapi saya berkata bahwa saya ingin ikut berkontribusi dalam gerakan ini dan ikut mempromosikannya di Indonesia. Selama 2 tahun saya hanya menjadi ambassador di Indonesia. Karena tim internal OpenCon akhirnya mengetahui kinerja saya sebagai ambassador, akhirnya saya diangkat menjadi tim internal bahkan juri penerima aplikasi pendaftar di seluruh dunia. Setelahnya saya diundang bicara di Nepal dan Kanada. (Baca tulisan sebelumnya: Pidatoku di Negerinya Atap Dunia)

Di antarnya juga salah satu teman saya dari India Kanika Joshi SDSN Youth, dimana dia biasa diundang menjadi pemateri di berbagai event mengenai 17 Sustainable Development Goals. Karena dia bergabung dalam organisasi pemuda PBB yang resmi menangani 17 SDGs yaitu SDSN Youth. Situs SDSN youth sendiri membuka Open Recruitment setiap tahunnya untuk satu ambassador tiap negara.

Selain SDSN Youth, yang dekat dengan saya ada juga Women Deliver dan IYAFP. Dimana teman-teman saya yang tergabung dalam salah satu atau keduanya biasa keliling dunia untuk memimpin rapat para pemimpin dunia di WHO atau di John Hopkins University. Sebagian yang lain menjadi pembicara dalam konferensi high level meeting dengan 4000 peserta. Seperti ICFP atau Women Deliver Conference. Mereka komunitas anak muda yang biasa bicara di depan presiden, pejabat PBB, dan petinggi-petinggi dunia untuk bicara masalah kesehatan dan kesetaraan gender. Di Korea sempat ada gerakan twitter dengan hashtag #MeToo sampai trending topik. Kebetulan, penggagasnya adalah salah satu teman saya dari Women Deliver.

Untuk mencari organisasi yang pas dengan kalian? Bisa kunjungi situs www.opportunitydesk.org atau www.youthop.com atau www.oyaop.com. Setelah itu klik bagian Fellowship. Itu hanyalah sebagian database, sebagian besar fellowship informasinya berpencar. Jadi memang harus sering-sering googling berfaedah. Kalau kalian tidak tahu harus mulai dari mana, mulailah dari passion kalian.




Mengembangkan Kemampuan Menulis Esai/Paper/Artikel


Sebagai orang yang mewakilkan Indonesia bicara masalah kesehatan dan kesejahteraan di Forum PBB New York City, demi Allah, saya telah bertemu ribuan orang yang jauh lebih berkontribusi di bidang kesehatan daripada saya. Para aktivis sosial, pegawai dinas, anggota LSM, perawat dan dokter di ranah akar rumput. Perbedaannya saya menuliskan pengalaman saya dalam sebuah esai berbahasa Inggris sebagai aplikasi pendaftaran sebuah konferensi internasional di luar negeri. Karena mungkin saja, dunia ingin mengetahuinya.

Jadi kembangkanlah kemampuan menulis esai, paper atau artikel dalam bahasa Inggris. Banyak membaca tulisan-tulisan berbahasa Inggris di Internet juga bisa membantu. Kalian juga bisa mengecek grammar error dengan grammarly. Untuk konferensi akademik, berarti perlu menulis sebuah artikel penelitian yang datanya diambil dan diolah secara ilmiah. Analisislah permasalah dengan pisau analisis yang tajam. Lalu berikanlah solusi yang sustainable, implementable, dan unik.

.
Mencari Role-Model juga Mentor




Salah satu role-model saya untuk menjadi pemateri dalam berbagai forum internasional adalah Professor Richard Javad Heydarian asal Filipina. Dimana hampir setiap pekan dia selalu keluar negeri untuk diminta menjadi pembicara konferensi-konferensi besar atau mengisi kuliah di Harvard, Oxford, Stanford, Yale, Cambridge dan lain sebagainya. Seringkali juga menjadi narasumber di BBC, CNN dan The Newyork Times. Beliau telah menulis banyak sekali buku mengenai politik luar negeri Asia dan juga Timur Tengah. BTW, mendengar istilah Professor, kebayangnya pria tua berambut putih kan? Tapi... Prof Richard ini adalah seorang pria berusia 32 tahun! Dan ya gantengnya kayak di drama-drama... wkwk. 



Kalau kalian lihat instagram beliau www.instagram.com/richeydarian hampir tiap postingan selalu di berbeda negara. Hari ini Prof Richard di Indonesia, besok lusanya sudah mengisi seminar di Amerika. Dan dia jarang latepost setahu saya, karena beberapa fotonya saya yang ambil. Hihihi. Kayaknya beliau tinggal di pesawat terbang deh.


Untuk mentor, saya dekat dengan Joseph McArthur asisten direktur The Right to Research Coalition dan Nick Shockey directur SPARC (Scholarly Publication Association and Resources Coalition). Saya dekat dengan keduanya semenjak 2015 dan kebetulan kami rapat tiap pekan melalui UberConference untuk mengadakan sebuah konferensi di Toronto, Kanada. Dan dalam banyak hal seperti beasiswa atau S2, saya seringkali meminta rekomendasi dari Nick atau Joe.

Kalau temen-temen bertanya kepada saya bagaimana caranya mendapat mentor? Tidak ada cara khusus. Tapi, jika teman-teman sudah bergabung dalam sebuah event atau komunitas, maka jadilah bersemangat! Biasanya dalam konferensi besar seperti ICFP, ada sesi mentorship dan kita bisa dipasangkan dengan orang yang jauh lebih berpengalaman. Satu mentor satu mentee. Dan keep in touch. Jadilah seseorang yang mereka dapat melihatmu bahwa kau akan sukses di masa depan.

.
Networking dan Membangun Kepercayaan

Networking itu perlu banget. Jika kalian menghadiri sebuah event dan kalian masuk dalam sebuah grup whatsapp, jangan keluar dari grup whatsapp tersebut. Karena seringkali kesempatan-kesempatan berharga disebar secara terbatas antar kelompok. ICFP 2013, ICFP 2016 dan juga Women Deliver Conference kusadari kalau ternyata anak-anak muda yang menjadi moderator atau young speakernya yaaa... mereka lagi mereka lagi!

Itu juga ketika saya bergabung dalam OpenCon. Ternyata setelah bertemu langsung dengan komunitas OpenCon di Asia, mereka memberikan foto-foto OpenCon 2015, OpenCon 2016, dan OpenCon 2017 yang diadakan di Belgia, Jerman dan Washington DC ternyata pesertanya itu lagi itu lagi. Salah satu kawan baik saya dari India bernama Vrushali berkata: “Most participants I meet here (Nepal), I already met before in Washington DC and Germany.”.

Eits, jangan minder dulu guys. Karena selalu ada slot untuk orang baru dan ide baru. Tapi jangan heran, jika kalian telah memasuki sebuah konferensi yang merujuk pada satu bidang khusus, dan ternyata 50% peserta atau pemateri sudah saling mengenal satu sama lain meski berbeda negara.


Mengembangan Sebuah Ide/Inovasi/Produk Baru untuk menangani 17 SDGs


Ideas bring you places. Buatlah sebuah inovasi, produk, atau bisnis yang bisa menyelesaikan satu dari tujuh belas permasalahan SDGs. Karena banyak sekali kesempatan-kesempatan yang menyaratkan sebuah ide inovasi baru setiap kali kita mengisi formulir pendaftaran. Misalnya, sebuah startup yang fokusnya pada SDG3 yang merekam riwayat medis seseorang sehingga setiap kali orang tersebut berkunjung ke dokter, tinggal melihat rekam jejak penyakit atau riwayat kunjungan medisnya dsb.

Misalnya juga program UNESCO dan UNFAO yang mengadakan sebuah kompetisi berjudul World Food Programme bagi para pendiri startup yang dapat menyelesaikan permasalahan kelaparan di dunia. Ide-ide inovasi tersebut sangat berharga bagi kita dan bisa jadi tiket kita untuk keliling dunia. Karena satu ide yang berharga, percayalah seluruh dunia ingin mengetahuinya.
.
Googling Berfaedah


Apa yang biasanya kalian lakukan jika internet? Kemungkinan sebagian besar waktu yang kita gunakan di internet biasanya untuk media sosial seperti facebook, twitter atau instagram bukan? Tidak masalah menurut saya sih untuk bermain sosmed. Yang jadi masalah ketika seseorang sudah menjadi produk dari sosial media.

Daripada menghabiskan waktu untuk sosial media, lebih baik cari di google misalnya “Apply to speak” lalu mengatur postingan dalam rentang waktu terbaru. Biasanya muncul beberapa kesempatan untuk bicara di depan umum di luar negeri yang sangat bergengsi. Termasuk di antaranya adalah kesempatan di TEDx. Atau juga googling “Fellowship 2018” atau “Travel Grant” dsb.

Ratusan orang banyak yang  menghubungi saya lewat whatsapp ataupun message Facebook. Banyak dari mereka menghubungi saya meminta alamat atau email kemenpora, dikti, atau perusahaan-perusahaan untuk dikirimi proposal. Banyak juga yang menanyakan ke saya cara membuat paspor atau visa. Well, please, Inilah kenapa Indonesia miskin membaca. Sebagian besar dari orang-orangnya malas mencari informasi itu sendiri dan lebih suka cara mudah dengan bertanya pada yang lebih berpengalaman.

Sebelumnya saya Googling-in buat mereka karena saya pernah ada di posisi “tidak tahu harus mulai dari mana” sama seperti mereka, lama kelamaan saya menyadari tak bisa membiarkan orang-orang ini untuk terus-terusan bermental odol. At least saya menuliskan postingan ini untuk berbagi pengalaman sekaligus cara menjadi pembicara di forum internasional.

Di antara situs-situs yang bermanfaat juga: Opportunitydesk.org, youthop.com, oyaop.com, aseanop.com dan juga conferencealerts.com.
.
Mengasah Kemampuan Berbicara Dalam Bahasa Inggris




Ini juga penting sih. Namanya juga berbicara di depan bule, tentunya bicara dalam bahasa Inggris. Seringkali, mengirimkan video speaking juga diperlukan dalam seleksi menjadi pembicara. Mengirimkan video berbicara dalam bahasa Inggris juga salah satu syarat saya ikut ICFP 2016 dan juga Merit 360 Forum PBB di New York City.

Apakah bahasa Inggris saya sudah mahir? Well, tidak begitu sih. Bahasa Inggris saya justru dilatih ketika berinteraksi dengan teman-teman bule dalam konferensi-konferensi tersebut. Tapi minimal kuasailah basic english dimana kau bisa mengungkapkan semua ide yang kau maksud meski dengan kosakata sederhana. Banyak-banyaklah mix antara subjek, predikat dan keterangan.

Begini, saya berani bertaruh bahwa pembaca tulisan ini telah menguasai minimal 10 subjek bahasa Inggris, 10 predikat, dan 10 keterangan. Jika di-mix, 10x10x10 = 1000. Itu artinya Anda sudah dapat menguasai 1000 kalimat bahasa Inggris! Tinggal bagaimana seseorang sering-sering menggunakan bahasa Inggris hingga tidak lagi terasa kaku di lidahnya. Bukan bagaimana menguasai jutaan kosakata namun tidak pernah menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

.
Menjadi Populer


Well, karena saya bukan selebgram dan juga bukan artis atau youtuber, tapi cara ini mungkin efektif biar kalian bisa dapat kesempatan diundang di forum-forum Internasional. Misalnya Gita Savitri yang diundang bicara di Turki dalam sebuah talkshow “Youtube Gangs” bersama para youtuber dari berbagai negara lainnya. Bisa juga menjadi seorang artis seperti Tasya Kamila mewakilkan pemuda Indonesia dalam ECOSOC Forum di PBB, New York.

.
Menjadi Founder atau CEO dari Sebuah Organisasi Profit/NonProfit


Bukan hanya bergabung dalam sebuah komunitas internasional dengan visi universal, bisa juga kalian menjadi founder dari organisasi lokal/nasional/atau bahkan internasional. Karena seringkali, jika kalian ingin menjadi breakout speaker dan bicara dalam suatu kasus, kalian harus menjadi the most stand out dalam bidang itu. Misalnya, dalam OpenCon, meski aku bagian dari tim OpenCon, jika harus pitch ide ini di TED/TEDx, tentunya orang itu yang menjadi pembicara adalah mentorku Nick Shockey.

Seringkali juga dalam berbagai aplikasi konferensi non-akademik seperti Youth Assembly, dalam aplikasi esainya diminta mengenai kontribusi dalam organisasi profit/nonprofit yang berkaitan dengan 17 SDGs which will be great if you are the founder. Juga dalam berbagai high level forum internasional, syarat minimum aplikasinya adalah founder atau CEO yang bergerak dalam bidang tertentu yang sesuai dengan penyelenggara (misal bisnis, pendidikan, kesehatan, dsb).
.
Menulis Buku Best Seller

 



Tulislah sebuah buku best seller yang mungkin buku itu memberikan manfaat hingga dunia ingin membacanya. Bisa buku fiksi maupun non fiksi. Kategori fiksi biasanya memiliki nilai moral-moral kemanusiaan atau menyoroti masalah pendidikan. Contohnya Laskar Pelangi Andrea Hirata atau Negeri 5 Menara Ahmad Fuadi.  Untuk kategori non-fiksi misalnya buku “The Rise of Duterte” atau “How Capitalisme Failed Arab World” karangan Prof Richard Heydarian. Hehe. Dimana bedah bukunya seringkali menjadi kuliah khusus di berbagai universitas terkemuka dunia seperti Harvard atau Stanford.

.
Apply Konferensi Self-funded Lalu Mengajukan Sponsor


Merit 360 adalah program self-funded

Konferensi fully funded memang seleksinya sangatlah ketat. Ibarat dari 5000 pendaftar, bisa jadi yang diterima hanya 10-30 orang. Selain itu ada pula aplikasi konferensi self-funded. Konferensi buaaanyak banget, udah kayak kacang goreng, dengan biaya yang menguras kantong. Maka dari itu: pilihlah konferensi yang memang benar-benar bergengsi dan layak diperjuangkan. I’m serious. Kalian takkan mau melihat orang tua mengeluh karena ditagih utang sana-sini kan untuk sekedar selembar sertifikat konferensi yang sebenarnya tidak membawa perubahan apapun dalam hidup kalian?

Dalam bahasa blak-blakannya, penyelenggara konferensi dan program internasional biasanya memanfaatkan psikologis pelajar yang belum pernah keluar negeri untuk dijadikan bisnis. Mungkin normal jika biaya program tidak terlalu mahal, tapi pernah ada yang curhat ke saya untuk mengikuti program 2 minggu ke UK dengan biaya program saja 30 juta rupiah. Belum tiket pesawat dan visa. So please be careful guys.


Merit 360 adalah program self-funded dengan biaya program hingga 10 juta rupiah. Tapi worth it karena termasuk 2 minggu biaya akomodasi dan makan. (Baca tulisan saya sebelumnya: Pengalaman Unjuk Ide di PBB) Kalau saya sendiri misalnya nih bertahan hidup di NYC, sehari bisa habis 1 juta rupiah. Alhamdulillahnya pemerintah memberikan sponsorship total 40 juta rupiah ( Baca: Tips Mendapatkan Sponsor keluar Negeri)


Salah satu program self-funded yang tidak melakukan komersialisasi pendidikan menurut saya adalah Youth Assembly. Bayangin aja, tempatnya di PBB New York di General Assembly Hallnya, mendapat kesempatan bicara di depan di kursi nomor satu dunia, dan biaya programnya hanya 150 dolar!

.
Mengadakan Konferensi Sendiri dan Menjadikan Diri Sendiri Pembicara


Saya bicara saat IYFI
Mengadakan konferensi internasional sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit. Itulah yang saya lakukan bersama teman-teman di EdConex. Saya project leader IYFI 2017 di Singapura dan waktu itu saya memberikan talk di depan para peserta se-Asia Pasific. Yang alhamdulillah IYFI 2017 sukses diselenggarakan di Suntec, Singapore.

Jika kalian pernah membuat sebuah event di Indonesia, kalian juga bisa bikin event di luar negeri dengan peserta luar negeri. Bedanya: kontak sewa gedung di LN dan juga promosi iklan internasional. Just that. Tinggal kontak hotel, penyedia sewa ruangan convention centre, atau pihak universitas untuk sewa ruangan. Selanjutnya kontak potential speaker yang kemungkinan saking mahal dan suksesnya speaker tersebut, dia tak mau dibayar. Kalau dia dibayar, justru akan menghinanya (Bahkan 10 juta rupiahpun baginya kecil). Seperti co-founder Facebook misalnya? Atau CEO Perusahaan? Untuk menarik peserta, bisa melakukan iklan di Oyaop.com, opportunitydesk.org atau YouthOp.com. 

Doa Orang Tua




Doa orang tua adalah hal terpenting yang menemani kalian selama dalam perjalanan menuju mimpi kalian. Berhala itu ada dua, yaitu berhala hardware dan berhala software. Dimana seringkali kita tidak sadar bahwa kesuksesan dan keberhasilan kita disandarkan pada 2 hal itu.

Berhala hardware misalnya adalah uang. Kalau kita tidak punya uang, itu artinya kita tidak bisa sukses, tidak bisa masuk sekolah bergengsi, ikut program bergengsi dan sebagainya. Sementara berhala software itu adalah ikhtiar kita sendiri. Dimana seringkali kita merasa bahwa jika kita sudah berikhtiar habis-habisan, harusnya kita sudah berhasil. WRONG. Ikhtiar hanyalah salah satu bumbu untuk syarat mencapai pertolongan Tuhan. Bukan penyebab dari sukses itu sendiri.

Dan apa yang lebih kuat daripada doa orang tua untuk memperoleh pertolongan Tuhan?

You might also like:


Pencarian:
  • cara menjadi pembicara dalam seminar 
  • cara menjadi pembicara sukses 
  • syarat menjadi pembicara yang baik  
  • menjadi pembicara yang efektif 
  • cara menjadi pembicara yg menarik 
  • kiat menjadi pembicara hebat  
  • forum internasional
  • Tips mendapatkan sponsor acara keluar negeri
  • cara menjadi pembicara yang baik di depan umum  

Reaksi:
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. dalam beberapa tahun terakhir kebanyakan orang-orangnya yang hadir itu-itu saja? apakah ini karena kompetisi untuk berada dalam tingkat tersebut sangat ketat? atau justru yang pernah ikut mendapat kepercayaan lebih?

    BalasHapus
  2. Sejujurnya, saya merasa yang pernah ikut mendapat kepercayaan lebih. Jadi biasanya saya mulai dari bawah, misal ambassador atau membuat event dengan mengundang mereka. At least orang-orang itu mengetahui kinerja saya. Kalau mereka sudah memberikan rekomendasi, jadi jauh lebih mudah.

    Tapi selalu ada slot untuk orang-orang baru sih, dan setiap orang baru yang datang dalam satu bidang tertentu akan memahami bahwa sekitar 50% peserta yang lain sudah saling mengenal.

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...