Selasa, 29 November 2016

[Cerpen] Bocah Dalam Hujan



Cerpen Aku terbangun saat sinar matahari jatuh di pelupuk mataku. Silau. Cece membuka jendela kamar dan kulihat jam dinding menunjukkan jam delapan pagi. Huwaaa!!! Aku terlambat sekolah. Kenapa jam weker tidak berdering, ya? Padahal aku sudah nge-set biar berdering jam enam. Bodo, ah! Aku langsung bergegas menuju kamar mandi tapi bukan buat mandi, melainkan buat cuci muka dan gosok gigi doang.

“Ce, kenapa gak bangunin Rafli, sih? Cece tau kan, kalau Rafli sampai gak sekolah, mama gak bakal ngasih uang jajan seminggu?!” lontarku protes keluar dari kamar mandi. 

“Cece udah bangunin Mas Rafli tadi pas subuh, tapi Mas Rafli tidur lagi,” kata si cece sambil ngeberesin ranjangku yang berantakan.

Kok bangunin pas subuh, sih? Ya iyalah Rafli tidur lagi!” balasku. Aku membuka pintu lemari dan melirik ke arah cece. Wanita 50 tahun itu manggut-manggut mengerti isyaratku dan berjalan keluar dari kamar.

“Emang Mas Rafli gak sholat subuh?”

“Banyak nanya nih, ah! Tenang aja, ce. Allah kan maha pengampun!”

 “Mas Rafli ada bener juga, ya? Tapi salah Mas Rafli sendiri sih, pacaran dengan Neng Hepinya kelamaan! Oia, kata Mang Udin mobil lagi di bengkel, nyonya tadi nelpon Mas Rafli naik taksi aja,” kata si cece masih bertahan di ambang pintu kamar. Ia terkekeh saat melihatku mau mengganti baju.“ “Ih, Mas Rafli seksi deh!” ucap cece genit. Aku melotot dan langsung menutup pintu kamar. 

            GRRRHH!!!! Sumpah serapah nyembur dari mulutku gak karuan. Mobil lagi di bengkel?! Aku bener-bener terlambat sekolah kalau gini. Gak tau mau nyalahin siapa, aku mulai menyalahkan jam weker yang gak berdering jam 6 tadi. Jam weker durjana!

Sudah 5 menit, tapi mobil sedan berwarna biru dengan tulisan taksi di atasnya gak satupun nongol. Kulirik jam tangan, sekarang jam delapan lewat lima belas. Aku sih pengennya bolos sekolah aja terus kabur main game online, tapi mengingat kemarin mama marah-marah gara-gara aku ketahuan main PS di rumah Anton. Akhirnya, aku ketahuan ngumpet di kolong kasur dan Anton ketahuan pura-pura sakit biar gak sekolah. Mana aku tahu kalau mama mau jenguk Anton sebagai anak dari sahabatnya mama.

            Sebuah angkot menepi. Pria tua dekil itu membunyikan klakson, isyarat biar aku masuk. Kumohon, aku belum pernah naik angkot sebelumnya. Anak tunggal seorang pejabat tinggi negara naik mobil angkot??

            “Mas, mau ke SMA Merah Putih, kan?” tanya si sopir.

“Emang napa?”

            “Saya mau lewat situ juga soalnya. Murah ko’, cuma 2000 aja.”

            Taksi kapan lewat, ya?” Aku bergumam sambil membuang muka. 

            “Mas, daripada naik taksi 20.000,  gak dateng-dateng lagi!”

            Angkot itu terus bertahan. Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku mendengus dan masuk ke dalam angkot. Mobil itupun meluncur dengan sangat lambat, mungkin agar bisa melihat jika ada penumpang lain yang mau naik. Sebuah aroma masuk melewati lubang hidungku, itu pasti campuran bau ayam, bau amis ikan, bau keringat, dan berbagai macam bau lainnya. Membuatku mau muntah. Aku mulai ngedumel gak jelas.

            “Anak muda jaman sekarang aneh-aneh aja ya, A? Apa itu gaya terbaru?” tanya seorang ibu terkikik menunjuk ke kakiku. Apa ada sesuatu yang aneh? Aku pun melihat kakiku dengan muka heran. DEG! Sepatuku beda sebelah. Satunya sepatu sekolah dan satunya sepatunya Mang Udin. GRRRHHH!!!!! 

Aku berlari sekuat tenaga menuju sekolah. Gerbang sudah dikunci tapi biar begitu aku tahu celah lain di sekolah ini. Aku pun berhasil masuk ke pekarangan tanpa ketahuan satpam. Setelah itu langsung berlari masuk kelas mendahului seorang pria setengah botak, berkumis lebat, berbadan tinggi, besar, dan tegap. Guruku di pelajaran berikutnya. Akhirnya akupun berhasil mendahuluinya, semua mata mengarah ke arahku tapi aku cuek dan duduk di bangku paling belakang samping si Anton.

            “Kemane aje lu, Rap?” tanya Anton.

            “Tadi malam gue pacaran sama si hepi kelamaan jadi gue bangun telat, puas lu?”

            “Hepi? Hape maksud lu?”

            “Apa lagi?! Banyak nanya lu, ah!”

            “Jailah, gitu aja marah. Kalo bukan gara-gara nyokap lu kemaren, kayaknya hari ini lu dah bolos, gue bener kan?”

            “Lu diem aja dah! Ini semua kan gara-gara lu juga! Coba kemaren lu gak ngajak gue maen PS, gue bisa main G-O di warnet sekarang dan juga gak perlu ngalamin hari sial kayak gini!”

            “Jah... itu kan pilihan lu sendiri, Rap,” ujar Anton. , “Betewe, lu koq beda hari ini, Rap. Biasanya lu kan wangi sembriwing gitu, koq aromanya jadi lain. Lu gak mandi, ya?”

            “Gue bilang lu diem aja!!” bentakku memenuhi seisi kelas. Saat yang bersamaan, pria setengah botak masuk. Dia melotot ke arahku dan mendehem keras. Rasanya jantung mau copot saat itu juga. Pak Dono emang orang paling serem sepanjang sejarah manusia. Jika saja dia duduk dengan Indiana Jones, Indiana Jones pasti bakal terlihat seperti banci.

            Aku dan Anton mengakhiri pembicaraan. Serempak semua kelas pun membisu setelah mengucapkan sambutan berupa salam. Pak Dono lalu mulai mengajar dan menjelaskan istilah-istilah biologi yang bikin kepala makin mumet. Sfingter pilorus, asam amino, pepton, velum palastini, bla bla bla.

            Pikiranku mulai mengawang. Meninggalkan ruangan kelas yang hanya menjejali otak dengan teori menjemukan. Kurebahkan kepalaku ke atas meja sejenak untuk menghilangkan penat dan kesuntukan. 

&&&

            Aku baru pulang sekolah dan sekarang sedang berdiri di halte pinggir jalan, menunggu bus antar kota. Orang-orang berlalu lalang, puntung rokok terurai burai, pengamen bernyanyi cempreng, pengemis masang wajah melas di emper-emper, pedagang asongan menjajakan dagangannya, semuanya bercampur baur jadi lautan manusia kumal dengan sengak bau keringat. Aku bener-bener mau muntah. 

            Langit berubah gelap, tak lama gerimis menyibak celah-celah hitam awan. Hujan datang dengan deras dan membasahi bumi. Desau angin terdengar kencang sekali bersama dengan kilat yang menyala-nyala. Seorang bocah 5 tahun muncul dengan bertelanjang kaki, bajunya dekil, tubuhnya kurus, dia membawa sebuah payung di tangannya dan menawarkannya kepadaku.

            “Cuma gope,” katanya. Aku masih gak ngerti sampai dia menawarkan payung yang dibawanya itu, “Murah, akan kupinjamkan jika kakak memberiku gope.”

            “Nggak, aku gak perlu,” ujarku melambaikan tangan.

            “Terimakasih, kakak!” ujar bocah itu. Dengan kakinya yang kurus ia kembali menjajakan payungnya pada orang lain dengan semangat. Seakan bocah itu gak mengeluh dengan kerasnya kehidupan yang terkadang angkuh. Aku tersenyum melihat kegigihan mereka sambil menahan malu pada diri sendiri dan mulai memperhatikan bocah itu sembari menunggu bus.

            Ojek payung, aku menyebutnya. Tak urung bocah ojek payung itu menggigil kedinginan membuntuti orang yang meminjam payungnya. Sesekali bocah itu menghapus air yang membasahi wajahnya. Tapi ia tetap tersenyum apalagi saat menerima gope logam dari para peminjam payung. 

            “Terimakasih, tuan!” katanya pada seorang pria yang meminjam payung buat berteduh di halte ini. 

            “Apa kamu nggak sekolah?” tanya pria itu.

            “Nggak, aku gak punya uang buat sekolah, aku juga harus ngurus emak yang lagi sakit,” jawab bocah itu polos. Aku makin menunduk malu, berapa banyak waktu mereka habiskan buat bekerja demi ibunya tanpa mengeluh, sementara nikmat yang kudapatkan bukannya membuatku tambah bersyukur, malah ngabisin waktu dengan mengeluh dan mengeluh.

            Bus yang kutunggu tiba, aku langsung berlari hendak menerobos derasnya hujan. Tapi aku terdiam gak sempat masuk, kehujanan, pandanganku buyar. Dengan setengah sadar, kudengar suara entah dari mana.

            “Ayo bangun! Bangun!” Mataku mengerjap-ngerjap. Wajah seseorang terlihat dengan samar-samar dan makin lama makin jelas. Orang itu memandangku dengan matanya yang melotot sampai sebesar bola pingpong. Seorang pria setengah botak, berkumis lebat, berbadan tinggi, besar, dan tegap memegang segelas sisa air mineral.

            Huwaaa!!!!
&&&


By: Maryam Qonita, dibuat tahun 2011.

Pencarian:


  • Ojek payung
  • cerpen islami
  • cerpen motivasi
  • cerpen 

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. ((Jika saja dia duduk dengan Indiana Jones, Indiana Jones pasti bakal terlihat seperti banci)) pas bagian ini aku ngakak kak hehehe������ dan pesan moralnya dapet banget meskipun diselipkan di antara hal-hal jenaka di dalam cerita

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...