Selasa, 30 Januari 2018

Pidatoku di Negerinya Atap Dunia

Dua bulan lalu (2-3 Desember 2017) aku menginjakkan kakiku di negerinya atap dunia—Nepal untuk pertama kalinya.  Kusebut pertama kalinya karena harus ada kedua dan ketiga kalinya aku mengunjungi Nepal. Tentu dalam rangka kegiatan yang lain seperti hiking dan trekking berjalan mengelilingi pegunungan tertinggi di dunia (Himalaya) sejauh 250KM.


Gak kebayang jalan kaki dari Kuningan ke Jakarta dengan suhu -10 derajat celcius. Ulala... ngebayanginnya excited banget! >_<!! Apalagi kalau udah punya suami; suami aku harus orang yang tahan jalan 250KM di bawah suhu ekstrem dengan beban puluhan kilogram di punggung uaaaahhhh..... #apasih.

Well.. tapi sayangnya kemarin aku ke Nepal bukan buat hiking/trekking... melainkan rapat dan rapat dan rapat. Termasuk menyiapkan pidatoku sendiri saat selang-selang rapat karena aku belum menyusun teks apapun selama di Indonesia! Dan yang menjadi penyimak adalah 150 peneliti asia dari China, India, Nepal, Amerika Serikat, Inggris, Bangladesh, Pakistan, dsb.
 
Rapat... rapat.. rapat...

Sebagian besar dari peneliti yang hadir sudah meraih gelar Ph.D (S3) pakar di bidang teknologi pendidikan maupun penelitian. Mungkin cuma aku yang fresh-graduate S1. 150 peneliti asia ini tergabung dalam sebuah Asian Regional Meeting “Open Access Research: Reaching Information Divide.” Acara ini sendiri diadakan oleh Open Access Nepal, SPARC, dan The Right to Research USA. Disponsori oleh Hewlett Foundation.

Aku mendapati seluruh pembicara memberikan presentasi rumit (data-data & materi tingkat advance). 

Sementara aku? Aku fresh-graduate S1 dan bukan seorang peneliti. Aku seorang mahasiswa biasa dan aku tidak punya latar belakang dalam biang teknologi pendidikan maupun riset. Tapi kekurangan itu kujadikan kelebihanku, setidaknya aku menjadi representative mahasiswa S1 korban kebijakan para pebisnis di balik sistem jurnal komersial.
 
Saya pembicara termuda. Wkwk.

For your information, open access adalah sebuah gerakan yang menyuarakan akses terbuka untuk semua jurnal penelitian secara gratis, bebas masalah teknis dan juga embargo. Salah satu mandat utamanya adalah pemangkasan jurnal komersial. Gerakan open access disuarakan oleh The Right to Research USA dan Scholarly Publication Asociation and Research Coalition (SPARC) yang berjasa membantu publikasi jurnal gratis seluruh dunia. Salah satu dari direktori open access adalah DOAJ.org (Directory Open Access Journals). Sementara komunitas penggeraknya di Asia bernama Open Access Asia.

Well berikut ringkasan konten pidatoku kemarin:

Lighting speech in front of bules

“Namaku Maryam Qonita dan aku baru lulus S1 jurusan psikologi UNJ, aku pengangguran sekarang dan aku tidak punya latar belakang apa-apa di bidang teknologi pendidikan (nadanya pede wkwk).

Bicara mengenai ‘open’ aku rasa gak segala sesuatu harus terbuka. Misalnya data pribadi klien yang berkunjung ke psikolog adalah sesuatu yang super duper rahasia. Jadi bukan hanya gak ada latar belakang dalam Open Access, latar belakangku juga sangat bertolak belakang dengan openness. (Candaan garing, tapi penonton tertawa. Pertama kalinya dalam hidupku bikin ratusan bule tertawa sambil pidato berdiri di depan. UAaaah!!! Teriak dalam hati. #MaafNorak).

Sebagai mahasiswa S1, seringkali aku butuh referensi jurnal bagus untuk menyusun makalah dan skripsiku. Sayangnya tiap kali aku dapat jurnal yang bagus, yaah jurnalnya bayar! Aku mahasiswa S1, aku gak punya uang dan aku gak punya pekerjaan untuk mendapatkan uang.

I began to connect the dots, to connect into something much bigger, aku bertanya pada teman-temanku yang lain dan sebagian besar dari mereka juga punya masalah yang sama. Itu artinya sebagian besar dari teman-temanku juga gak punya uang, sepertiku. Aku harap kita semua disini bukan berkumpul karena hal itu (Penonton ketawa lagi. I didn’t believe I could make a joke in english.).

Pertengahan 2015 aku pun mempelajari konsep Open Access, Open Data dan Open Education untuk pertama kalinya. Aku percaya kalau inilah solusi dari masalahku, juga solusi masalah temen-temenku yang lain; khususnya bidang akademia. Aku share dengan teman-temanku mengenai ide dari Open Access dan mereka setuju untuk mengadakan seminar tentang ini secara gratis. Kami mengadakan dua seminar di Jakarta, Open Conference 2015 Jakarta dan Open Conference 2016 Jakarta.
OpenCon 2015 Jakarta & Education Watch
(Panjang lebar menjelaskan mengenai 2 acara yang kuadakan bersama Education Watch UNJ dan Komunitas Peneliti Muda UNJ selama tahun 2015 dan 2016 dengan total lebih dari 300 peserta. Setidaknya, membanggakan almamater di dunia internasional adalah hal yang bisa kulakukan demi mengembalikan nama baik UNJ sebagaimana kampus ini telah memberikan banyak hal padaku terlepas dari kasus politik di dalamnya).
Aku percaya tak perlu jadi pakar untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Hanya perlu melakukan sebuah aksi lokal dan merekrut para ahlinya (dosen teknologi pendidikan, pustakawan, pegawai Kemenristek Dikti) sebagai pemateri. Setahuku Indonesia sendiri sudah memiliki kemajuan dengan adanya National Digital Library yang merupakan langkah dari E-Grand Design; dimana semua perpustakaan provinsi memiliki perpustakan digital masing-masing. Juga dengan adanya aplikasi iPusnas (menunjukkan sebuah aplikasi android) agar setiap orang bisa akses banyak sekali buku secara gratis
Dengan semua kemajuan gerakan Open Access di Indonesia, aku ingin berterima kasih pada Mr. Kanok Manirul Islam selaku ketua Open Access Bangladesh yang telah memberiku ide dan semangat untuk membangun Open Access Indonesia pertama kalinya. Untuk itu aku mohon kerjasama dan bantuan dari teman-teman semua. Terimakasih.”

Pidato sekian dan disambut tepuk tangan. Gugup banget sejujurnya.

I have made a lot of mistakes in my life. Thankfully, this one is not among of them. Aku gak tahu tapi mereka berkata bahwa mereka sangat menyukai isi pidatoku yang apa adanya dan apa yang ada di lapangan kenyataan (dalam hatiku sebagai seorang mahasiswa S1 yang bokek, gak punya uang, dan gak punya pekerjaan). Aku hampir gugup karena pembicara yang lain adalah Ph.D atau Dr. (S3) dan isi PPT mereka terlalu rumit untuk kumengerti... instead of trying to look smart, aku menunjukkan kekuranganku sebagai kelebihanku dan curhat apa adanya yang terjadi di lapangan.
With Nick Shockey di ruang rapat

Dan yang terbaik adalah saat aku mengobrol dengan Nick Shockey (direktur The Right to Research USA) di depan hotel Annapurna, hotel bintang 5 di Kathmandu Nepal tempat Nick menginap. Dia mentorku sejak 2015 dan dia sempat menolak aplikasiku tahun 2015 untuk berangkat ke Open Conference 2015 di Belgia (wajar sih, dari lebih 3000 pendaftar yang diterima hanya 100).

Open Con 2015 di Belgia.

Nick berkata bahwa dia melihatku memiliki banyak sekali kemajuan dan ya dia menjanjikanku untuk menjadi pemateri di Open Conference 2018 di Toronto, Kanada. Twist banget, karena aku baru membatalkan keberangkatanku ke Kanada dalam ICAP 2018 (konferensi self-funded ttg Psikologi) untuk alasan finansial dan semua uangku ingin jadi persiapan S2 (TOEFL, GRE, terjemah ijazah, dsb); justru aku malah tetap dapat ke Kanada tahun 2018 dengan scholarship (travel, akomodasi, hotel, makan dibiayai penyelenggara).
Pertama kalinya ngobrol dengan Nick secara langsung.


Well, honestly... aku mengerti bahwa panitia akan memberikan travel-scholarship cukup besar jika aku berangkat dari Indonesia.. jadi kuharap aku bisa diterima di perguruan tinggi di USA atau Kanada agar pesawatku cuma Rp 4juta PP bukan belasan atau puluhan juta. Bahkan jika aku gak ke Kanada, aku tetap ingin menjadi bagian dari gerakan ini; bukan karena mengharapkan apapun dari tim internal The Right to Research USA atau SPARC (sering keluar negeri gratis dibiayai dsb), melainkan karena aku ingin menjadi bagian dari solusi permasalahan akademia. Jadi kubilang pada Nick, tidak perlu.

Pertengahan Januari 2018 sebuah email masuk dari asisten direktur The Right to Research USA, Joseph McArthur dan apa yang dia kirim benar-benar sebuah di luar dugaan. Mereka memintaku untuk menjadi salah satu juri penerimaan aplikasi Open Conference sekaligus panitia penyelenggara di Kanada. Khususnya juri pendaftar mahasiswa yang masih S1. Itu artinya meskipun kutolak, aku harus tetap berangkat ke Kanada. Ketika menjadi bagian dari tim, mereka benar-benar mempertimbangkan setiap masukanku, termasuk mengundur acara yang tadinya awal November ke Desember. Kalau November, kemungkinan aku akan berada di Kigali, Rwanda (nge-take conference fully funded memang harus jauh-jauh hari guys).
 
Canada.. I am coming!

Thanks to Allah. Aku belajar di setiap kegagalan akan selalu ada hikmah. Dan percayalah kau tak pernah tahu apa yang Allah simpan untukmu di masa depan. Tahun 2015 tahu, aku berada di antara 3000 pendaftar yang aplikasinya ditolak panitia. Dan ya, sekarang aku jadi jurinya. Hehehehee... (senyum jahat #wkwk)

You Might Also Like:

Reaksi:
Comments
3 Comments

3 komentar:

  1. Maa syaa Allah... Kaya baca novel best seller aja...
    Sukses slalu

    BalasHapus
  2. Bisa nih buat novelnya based on true story

    BalasHapus
  3. Subhanallah keren mba..anakku jg namanya Maryam Qonita masih 7 bulan tapi.. :p
    Semoga bisa jd muslimah keren kaya mba jg.. :D

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...