Sabtu, 07 April 2018

S2 Dulu atau Menikah Dulu?

Seseorang menasihati bahwa menikah itu bukan soal 'kapan?' (Serem banget udah kayak antrian). Melainkan bekal apa yg dimiliki sebelum menempuh ibadah terlama tersebut. Karena apa yg dilalui setelahnya adalah perjuangan berat nan panjang yang sesungguhnya.

Menuntut ilmu menuju jenjang yg lebih tinggi (S2) selama minimal 2 tahun itu sangatlah sebentar dan tidak ada apa-apanya dengan seluruh sisa umur hidup yg akan dijalani setelah menikah, berpuluh-puluh tahun lamanya.

Ingat, aktualisasi diri itu penting. Karena perempuan akan bekerja 2 kali lipat lebih berat daripada laki-laki. Jika ada seorang perempuan (yg sudah menjadi ibu sekaligus istri) benar-benar berprestasi, pahamilah bahwa usahanya sungguh tak terperi.

Kalau kata orang "sejauh apapun melangkah pada akhirnya perempuan akan kembali pada dapur dan kasur", stereotip yg masih kental di masyarakat Indonesia. Kembali atau tidak ke dapur dan kasur, perempuan juga harus tahu bahwa skill yg dimiliki bukan hanya skill fisik (pandai memasak & beres-beres rumah) tapi juga cerdas mendidik generasi.

Maka setiap cibiran ataupun stereotip orang pada perempuan yg berpendidikan tinggi atau terlalu tua untuk menikah, jadikan motivasi untuk melangkah lebih jauh. Bukan 'gila' pendidikan bukan pula ikut-ikutan... lebih dari itu, perempuan harus membuktikan bahwa dia mampu untuk melakukan lebih daripada sekadar minta atau menunggu dinikahi.

Jika takdir Allah memang harus menikah dulu dan takdir itu tidak bisa dilawan, yang jelas kita harus percaya bahwa rencana-Nya akan lebih indah daripada rencana manusia.




Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Semangatt ngejar cita-citanya, numpang share tulisan favorit tentang pernikahan.

    http://caturcatriks.blogspot.co.id/2009/02/pada-sebuah-ruang-kelas-bernama.html

    "Di umur 23 tahun, kata 'pernikahan' adalah kata yang terasa tak pas untuk dilekatkan pada diri saya. Tidak sebagai kata benda. Tidak sebagai kata sifat. Tidak juga sebagai kata kerja."

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...