Jumat, 26 Januari 2018

Indonesia Terakhir ~ Novel Journey Part 1

Awal tahun 2018, aku nutup akun Instagram dan bertekad ke diriku sendiri apapun yang terjadi selama tahun ini seperti menikah, berkarir, konferensi ke luar negeri, atau lulus beasiswa S2 misalnya takkan ku-upload sepanjang tahun. Alasannya aneh banget sih: pengen bahagia.


Lewat Whatsapp juga banyak yg ingin konsultasi, curhat, minta nasihat, seakan-akan aku ini udah sukses. Padahal aku belum sukses sama sekali. Aku pun jadi risih dengan pujian-pujian itu, mau bahasanya nyebelin atau gak, tetep ngerasa risih. Jadi Whatsapp pun sering kali buka hanya 1 kali 1 hari di malam hari. Instagram non-aktif.

Kalau facebook masih kuaktifin karena gak serame Whatsapp dan Instagram.

Kemungkinan IG akan kuaktifkan lagi sih suatu hari nanti, tapi nanti... kalau aku harus promosi novel perdanaku yang masih pertengahan draft pertama (belum draft final). Wkwk.  Novel ini judulnya “Indonesia Terakhir” yang bisa kalian baca di blog aku juga versi cerbungnya: Indonesia Terakhir Part 1.




Udah lama sih kutulis tapi masih pertengahan draft pertama soalnya kurombak ulang agar jauuuuh berbeda dari versi cerbungnya. Kalau di cerbungnya, Danny adalah seorang anak angkat seorang Presiden sekaligus punya sifat-sifat hero (pemberani, membela kebenaran, dan menerima kebenaran/islam). Kalau di novelnya, Danny adalah anak angkat perempuan yang menyamar jadi peramal kuno dan Danny punya sifat-sifat anti-hero (menolak kebenaran). Danny tinggal di Distrik 11 slum area cyberpunk city, Gomera dan dia sekolah di universitas terbaik di kotanya tersebut.

Terus ya... alasanku nulisnya cukup lama adalah karena ada konsep fisika yang harus kupelajari (setidaknya konsep dasarnya) biar kalau sampe ada ilmuwan fisika yang baca, gak nutup mata mereka karena maluu. Wkwk. Richard Muller, salah satu ilmuwan fisika yang tulisan-tulisannya sering kujadikan rujukan konsep Fisika juga bilang, dia paling gak tahan sit-com berbau science fiction kalau udah sudah terlalu mengada-ada. Misalnya fisika klasik dasar yg kita pelajari saat SMA: termodinamika 2—tapi  fisika dasar itu banyak diabaikan demi plot menciptakan time-machine ke masa lalu.

Tantangan selanjutnya yg terbesar adalah: aku  menciptakan dunia baru sendiri dengan hukum sendiri. Seperti JK. Rowling menciptakan dunia sihir dan sekolah Hogwarts, JRR Tolkien menciptakan the Middle-Eearth dalam The Lord of the Rings dan hukum-hukum yang berlaku disitu... Well Indonesia Terakhir juga rencananya Insyaa Allah karena terjadi tahun 2240, dunianya akan jauh berbeda dari dunia manusia sehari-hari sekarang ini. Well, the sky is not the limit, the imagination is.


Menuliskan ini awalnya kayak aku ngerasa akan menuliskan novel terbaik yang pernah ada. Wkwk. Honestly, that was really what I felt... 0% penulisan cerita aku bulak-balik kalang kabut antusias memikirkan kalo aku akan menulis sebuah the best novel ever in the world.

Lalu 20% penulisan cerita, aku mulai berpikir mengapa kepalaku ini gak bisa berpikir... antara aku ini penulis atau ‘orangutan’. Saat-saat penulisan 20% ini pula aku mengubah kalimat pertama dan juga prologku berkali-kali. Berminggu-minggu, berbulan-bulan... dan kusadari aku tidak menuliskan satu kalimat apapun. Mungkin satu-satunya solusi adalah beli kopi yang banyak dan beli meja kayu yang cukup kuat, biar kalau abis minum kopi aku bisa bentur-benturin kepalaku di meja tanpa ngancurin mejanya.

40% cerita tampaknya aku sudah mulai rocking this story. Bahkan ide-ide yang tidak kusangka akan muncul sendirinya di dalam kepalaku dengan syarat—aku terus menulis, menonton film science fiction, dan membaca (novel, artikel ilmiah, dsb). Kata kakakku cerita yang baik adalah cerita yang punya banyak layer (lapisan) dimana setiap layer memiliki pengaruh dalam sebuah konsep cerita keseluruhan, sebab dan akibat karakter memiliki persepsi dan perilaku tertentu. Bukan hanya layer-layer, melainkan juga signs & clue yang bersebaran di kejadian-kejadian atau karakter yang tidak disadari.


"I just write what I wanted to write. I write what amuses me. It's totally for myself."~JK Rowling

Kalau dipikir-pikir, aku mulai rocking ceritanya semenjak menanamkan dalam-dalam di benakku bahwa JK Rowling aja menuliskan Harry Potter bukan untuk menginspirasi pembacanya, melainkan murni untuk menghibur dirinya sendiri. Tereliye pun begitu; makanya beliau bisa begitu produktif, menulis untuk menghibur dirinya sendiri tanpa ada niat untuk menginspirasi sama sekali. Lalu kucoba amalkan, menulis semauku dan BOOM! Keajaiban terjadi. Bahkan aku sering menuliskan 1 hari lebih dari 10 halaman. Yang mana kejadian satu ke kejadian yang lain adalah layer-layer yang memberikan sebab akibat berbagai arah.

Berhari-hari aku sempat menulis tanpa teralihkan drama Korea dsb, dan ada kalanya aku berpikir bahwa kadang-kadang aku berubah menjadi ‘orangutan’ dan adakalanya aku berubah menjadi JK Rowling, setelah itu ada kalanya aku berubah menjadi 'orang utan' lagi. Wkwk.

Perasaan apapun yang nanti akan kurasakan setelah lebih dari 50% penulisan, atau mengalami fase penurunan, stress, merasa tidak fokus, kapok jadi penulis, dsb... well apapun itu... akan kuhadapi. Tapi setidaknya perasaan antusias ini yang membawaku menulis tulisan ini. Sebuah proses naik turun di dalam otakku sendiri dalam menuliskan plot cerita. Wkwkwk. Apa sih.

Untuk karakter cerita itu sendiri, aku mengikuti arketip psikolog Jung dalam kategorisasi karakter. Seperti the hero, the sidekick(s), the maiden, the nurturing mother, the wise old man, the eternal child, the villain, the shapeshifter, dan the trickster. Biasanya cerita yg mengikuti arketip Jung ini novelnya mega best seller; misal Harry Potter, The Lord of The Rings, The Hunger Games, Star Wars, FireFly, dsb. Well.. tergantung penyajiannya juga sih... tapi konsep karakter insyaa Allah seperti ini.



Sementara untuk konsep cerita itu sendiri adalah campuran inspirasi dari (novel/film) Harry Potter, NSJ 2122, The Source Code, Inception, Particle Fever, Alif Lam Mim, Big Hero 6, Idiocracy, Maze Runner, dsb (film dan buku yang kubaca tapi gak inget mungkin konsep ceritanya menginspirasi).

Juga beberapa unsur cerita yg kusuka (belum tentu yg pembaca suka karena novel ini murni untuk diriku sendiri, wkwk) adalah: 
  • Aku suka cerita yg bacanya dari awal sampai akhir bikin tegang seakan berada di 'ujung jurang' (the edge of cliff).
  • Aku suka cerita yang tokoh utamanya memiliki cacat, karakternya dinamis, dan juga kompleks. Situasi juga memaksanya terlihat seperti orang jahat atau anti-hero (tidak untuk dicontoh). Well, tokoh yg paling aku gak suka adalah tokoh yg terlalu sempurna sehingga sulit untuk relate.
  • Aku suka cerita yg antagonisnya adalah protagonis dalam dunia mereka sendiri. Setiap orang melakukan kejahatan tentu punya alasan mendasarinya dong.
  • Aku suka cerita yg jika karakter bisa dilabeli 'baik' dan 'jahat' di kepala mereka, akan ada banyak karakter yg susah untuk dilabeli.  Lagipula, orang memiliki sisi baik dan jahat dalam diri mereka, 'kan?
  • Aku suka cerita yg dibuat karena si tokoh utama sudah tercipta sebelum plot, bukan cerita yang dibuat karena ada plotnya baru menciptakan tokoh.
  • Aku gak suka plot yg bertele-tele atau karakter yg diciptakan untuk plot movement tool. Setiap tokoh harus punya dimensi mereka sendiri.

Untuk ringkasan singkat mengenai cerita ini adalah tentang seorang remaja laki-laki (Danny) dibekukan dalam hibernation-pod selama 200 tahun lamanya. Ketika dia bangun, dia mendapati dirinya lupa ingatan. Setelah beradaptasi dengan seluruh kemajuan teknologi di tahun 2240 selama 5 tahun, dia akhirnya terobsesi untuk dapat menciptakan mesin waktu  untuk dapat memperoleh ingatannya kembali. Sounds too weird? Tak ada batas imajinasi dalam science fiction, huh?

Tulisan ini dibuat murni untuk journey-ku pribadi. Sebelum novel terbit aku akan menuliskan part 2 dan part 3nya. Terus pas novel terbit... oalah... inilah gejolak emosi yang kurasakan.

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...