Senin, 07 November 2016

Pengalaman Visa Amerika Ditolak Hingga Diterima



Tepat tanggal 27 agustus 2016 adalah penerbangan pertamaku keluar negeri. Sebelumnya aku belum pernah keluar negeri, meski ke negara-negara ASEAN pun belum. Namun bermodalkan nekat dan penasaran, aku mendaftar sebuah program summit bernama Merit 360 yang acara puncaknya di kantor pusat PBB New York Amerika Serikat. Dimana temen-temen sendiri tahu, New York termasuk salah satu kota termahal di dunia, dan berada di negara dengan kurs di atas 10.000. Negara adidaya yang terkenal sangat liberal.

Mendengar sharing dari teman-teman Indonesiaku yang lainnya, katanya mengajukan visa amerika itu sangatlah mudah. Hanya beberapa menit dan langsung accepted. Sehingga aku pun lebih menyepelekan dalam hal mengurus visa ini. Dalam persiapan pengurusan visa pun, aku hanya searching-searching di google “Cara Mendapatkan Visa Amerika.”. Dan rata-rata, isi postingannya bilang kalau mendapatkan visa ke Amerika itu mudah. Namun aku gak sadar bahwa para blogger-blogger itu sudah sering keluar negeri beberapa kali.


bersama dengan delegasi dari Indonesia


Aku pun mulai pengurusan pembuatan visa pertama 1 bulan sebelum keberangkatan, bayar ke bank CIMB Niaga $160 atau sekitar Rp 2.160.000,- pada hari Kamis dan Jumatnya aku sudah bisa menentukan jadwal wawancaraku kebagian hari Selasa Siang (batch 2). Pas datang di kedutaan, banyak orang-orang keturunan Chinese mengantri di depan gerbang kedutaan. Mereka memakai pakaian, tas, dan sepatu branded. Antrian semakin siang semakin panjang, beberapa pengaju visa yang lain datang, turun dari mobil mewah mereka (Mercedez, Toyota Alphard, dll). Dan mereka pun rela mengantri panas-panas di luar gerbang.

Entah apa mereka yang terlalu mewah, atau dandananku yang terlalu ‘muslimah. Tadinya aku pikir aku sudah cukup rapih, tidak sampai melihat dandanan para pelamar visa yang lain.

Saat masuk dan kami melewati serangkaian pemeriksaan barang bawaan. Barang-barang elektronik dititipkan dan makanan harus dibuang sebelum masuk ke kedutaan. Di dalam kedutaan pun, para pelamar visa diminta duduk di sebuah ruangan yang tidak ber-AC karena langsung berada di alam di samping tempat parkir mobil. Aku bertanya-tanya, apakah di kedutaan lain juga pelayanannya seperti ini?

Sampai akhirnya giliranku masuk dan aku diminta melakukan sidik jari. Setelah itu nomorku dipanggil. Dan aku menghadap seorang wanita bule berambut pirang dan kurus. Dia menanyakan beberapa hal, seperti mau apa aku kesana, apakah aku sudah pernah pergi keluar negeri sebelumnya, dengan siapa aku kesana, dan apakah aku sudah punya pekerjaan. Dia menanyakan dengan singkat-singkat tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, sampai akhirnyat tidak sampai 2 menit wawancara, “I am sorry your visa has been rejected.”




Duar!! Rasanya seperti bumi runtuh seketika saat itu juga. Padahal aku mengikuti semua saran-saran dari internet tentang cara mendapatkan visa amerika, aku juga melakukan wawancara dengan percaya diri. Tapi…. kenapa? Si bule pun memberikan aku kertas merah, lalu aku bertanya “Why..?” Dia bilang kalau misalnya situasiku saat ini belum bisa ke Amerika sekarang. Mungkin beberapa tahun lagi katanya. What what what??? Seriously…

Emosiku masih belum stabil saat itu dan duduk beberapa lama di kedutaan untuk memikirkan apa yang barusan terjadi dan ada masalah apa dengan aplikasi visaku itu. Karena wawancara visa yang tidak sampai dua menit tersebut, aku langsung memikirkan apakah ini karena penampilanku yang terlalu ‘muslimah’ atau bagaimana?

Sepulang dari kedutaan dan sampai di rumah, emosiku sudah mulai sedikit lebih stabil. Yang menakutkan bagiku adalah catatan namaku di kedutaan pengalaman visa pernah ditolak. Maka, sekali ditolak untuk kesananya bakal lebih sulit ditolak lagi karena belum ada perubahan hidup yang berarti padaku. Ummiku kan punya channel ke para pejabat tinggi negara, begitu pula kakakku yang temannya bekerja di kedutaan Amerika Serikat. Namun sayangnya pejabat tinggi negara hingga staf kedutaan Amerika pun tidak sanggup membantuku jika namaku sudah punya “catatan hitam” di bagian visa. Justru aku malah balik dimarahi.

Aku pun membaca kertas merah yang kudapatkan dari si bule, dan dituliskan bahwa aku dikenai pasal 214(B) yang berkata bahwa “Failured Establish Ties to Origin Country.” Itu artinya “Aku Gagal Menunjukkan Ikatan Kuat dengan Indonesia.”

Karena si bule gak ngejelasin ini maksudnya apa dan aku gak mengerti juga. Jadi aku searching-searching sendiri ini maksud tulisannya apa. Kalau sebelumnya aku searching “Cara Mendapatkan Visa Amerika.” Sekarang searchingan ku diubah menjadi “Visa Amerika Ditolak.” Dan ternyata, cerita mengenai visa Amerika ditolak lebih banyak. Mungkin karena kegagalan lebih memberikan pelajaran daripada keberhasilan guys, dan lebih berkesan di hati.

95% cerita yang kubaca, mereka juga dikenai pasal 214(B). Meski sudah membawa Invitation letter dari pihak penyelenggara di Amerikanya atau surat undangan dari saudara di Amerika, tetaplah ditolak. Sebagian besar, mereka bilang alasan visa mereka ditolak adalah karena belum pernah keluar negeri sebelumnya. Jadi pihak kedutaan Amerika akan menduga bahwa kita orang ‘miskin’ yang mau langsung ke negara Amerika dan akan menjadi ‘gelandangan’ baru. Padahal para pelamar yg gagal ini sudah menyajikan serangkaian bukti bahwa hidup mereka disana akan terjamin.

Usut punya usut, karena bacain cerita curhat mereka, dari analisisku…. sebagian besar cerita yang ditolak justru karena mereka menyerahkan ‘invitation letter’ itu. Sebagaimana aku juga memperlihatkan ‘Invitation Letter’ tersebut ke pihak kedutaan. Dan di invitation letter itu disebutkan, bagaimana aku akan mendapatkan akomodasi, penginapan dengan air hangat, transportasi, dan makanan 3x sehari. Dan tidak mungkin aku juga menjadi gelandangan dengan full service seperti itu.


bersama tim SDG3 di PBB


Jadi… kesimpulannya adalah, justru pihak kedutaan khawatir kita akan terlalu betah di Amerika dan tidak mau kembali ke Indonesia. Malah menjadi imigran gelap disana. Well, sebagaimana kita tahu bahwa di Amerika sendiri sudah terlalu banyak imigran. Sementara aku belum pernah keluar negeri, yang membuktikan aku sebelumnya akan kembali lagi ke Indonesia meski pernah merasakan tinggal di luar negeri. Sehingga alasan jika belum pernah keluar negeri langsung ke Amerika akan susah mendapatkan visa itu tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah. Hanya saja itu bukan alasan langsung. 

Setelah tahu seperti ini, sebelumnya Alhamdulillah aku sebelumnya pernah mengajukan dua proposal dan surat pada Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla. Proposal tersebut adalah tentang partisipasiku ke PBB dan aku meminta bantuan dari istana. Dan alhamdulillahnya, memang saat itu juga aku mendapatkan surat dari Kepala Sekretaris Negara dan Kepala Sekretaris Wakil Presiden tentang sampainya suratku ke istana, bahkan hingga ke tangan Pak Jusuf Kalla.

Dua surat tersebut yang menjadi modal senjata untukku, dan selanjutnya aku mengajukan permohonan dana ke kemenpora. Selain dari kemenpora, dari kemenristek dikti juga aku mendapatkan sebagian reimburse dari perjalananku. Dan mungkin aku yang merasa atau bagaimana, karena surat dari SekNeg itu yang bikin aku dapat perlakuan spesial di Kemenpora. Bahkan salah seorang ibu karyawati di bidang kepemudaan bertanya padaku, “Kamu kenal siapa di SekNeg?”

Selain dari kemenpora, aku juga minta surat dukungan dari Bupati Kabupaten Kuningan dan surat dukungan dari Kampus. Aku juga meminta pihak World Merit untuk mengirim email langsung ke kedutaan AS bahwa aku akan kembali ke Indonesia pada waktu tertentu yang telah disepakati. Selain itu juga, terdapat artikel tentangku di sebuah Koran Nasional satu halaman penuh. Dimana bukan hanya pemerintah, seluruh rakyat Indonesia setidaknya bakal jadi saksi bahwa aku akan kembali ke Indonesia (lebay banget emang).

Jadi berikut list untukku mengajukan banding untuk permohonan visa ulang:
1.      Surat resmi sekretaris negara.
2.      Surat resmi kepala sekretaris wakil presiden.
3.      Surat resmi dari Kemenpora.
4.      Surat resmi dari Pemerintah Kabupaten Kuningan.
5.      Surat resmi dari kampus.
6.      Email dari penyelenggara konferensi (World Merit) ke kedutaan.
7.      Artikel tentang partisipasi di Koran nasional.

Akhirnya aku pun membayar kedua kalinya $160 ke bank CIMB Niaga dan mengajukan permohonan visa ulang yang jauh lebih lengkap. Dan yang membiayai perjalanan waktu itu kutulis adalah kemenpora.

Dua minggu sebelum keberangkatan, akhirnya aku melakukan wawancara visa kembali. Hari selasa juga, namun kebagian pagi hari. Well, dalam hati mungkin juga berharap bulenya masih seger dan masih fresh sehingga moodnya bagus.

Dan tidak lupa, dandananku diubah dan dipoles dikit. Gak terlalu muslimah dengan jilbab panjang banget, tapi dipendekin jilbabnya dan memakai celana. Pakaian warna cerah, tas branded dan perhiasan mahal, juga sedikit make up. Beda banget sama sebelumnya yang pakai jilbab panjang warna hitam dan rok hitam. Aku deg-degan banget saat itu karena aku udah punya catatan hitam di kedutaan Amerika Serikat. Kalau ditolak lagi kayaknya mau tenggelem aja ke perut bumi.

Akhirnya tiba giliranku, dan si bule pun langsung bertanya, “What’s the different from yesterday, Maryam?”. Pertanyaan ini mengingatkanku bahwa si bule pasti research dulu tentangku, dan menguji kejujuranku. Beginilah kira-kira percakapannya:
Aku     : “Good morning.”
Bule     : “What’s the difference from yesterday, Maryam?”
Aku     : “The ministry will cover my flight cost, and I have to go back to Indonesia to give the report of the conference.”
Bule     : “Who’s going to pay for the flight cost?”
Aku     : “The ministry of youth and sport. I have the official letter from the ministry.”
Bule     : “Hm, it’s okay. Why they want to pay your flight cost?”
Aku     : “Because this is a job from the government. I am working for the regent of Kuningan west Java and also I am a vice president of a local NGO.”
Bule     : “Did you travel overseas before?”
Aku     : “I didn’t, but I have attended a lot of international conferences in Indonesia and this is the series of the event.”
Bule     : (angguk-angguk dan ketik-ketik)
Aku     : “World Merit has sent an email to you, that I’ll go back to Indonesia.”
Bule     : (angguk-angguk) “Congratulations, your visa has been accepted.”

Dan begitulah percakapan 3 menit yang mungkin akhirnya menjadi life-changing experience buatku. Visaku diterima saat itu juga dalam waktu singkat. Jika dilihat lagi, terdapat pertanyaan-pertanyaan jebakan yang ditanyakan sama si bule seperti “Did you travel overseas before?” seperti itu. Padahal dia sendiri tahu bahwa dalam catatan pasporku, aku belum pernah keluar negeri sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk menguji kejujuran kita saja.

Singkatnya, aku seneng banget akhirnya visaku diterima. Bahkan seorang agen perjalanan internasional dimana aku beli tiket pesawat ke Amerika aja bilang tidak mungkin aku akan mendapatkan visa Amerika dengan kondisiku seperti ini. Kecuali aku punya rekening gendut di atas 50 juta rupiah.

Singkat saja, beberapa tips dariku untuk mengajukan visa amerika:
1.      Ikuti prosedur di website http://www.ustraveldocs.com/ dan baca baik-baik aturan yang tercantum disana. Persiapkan juga semua dokumen yang diminta dan memenuhi persyaratan seperti tertulis di website.
2.      Penampilan yang menunjukkan bahwa kita orang ‘berada’. Jangan juga membawa ransel. Dan usahakan menggunakan pakaian berwarna cerah.
3.      Jika invitation letter tidak diminta, jangan ditunjukkan. Lebih baik menunjukkan surat-surat yang menunjukkan bahwa kita punya ikatan kuat dengan Indonesia.
4.      Jawablah wawancara dengan jujur dan percaya diri.




BACA JUGA:





Reaksi:
Comments
9 Comments

9 komentar:

  1. Halo Maryam, Salam kenal, visa saya juga baru saja ditolak. huhuhuhuh. Saya ada email ke satohiroshi87@gmail.com, semoga berkenan untuk membalas :) Thank you

    BalasHapus
  2. Silakan hubungi whatsapp saya di 081222333330

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Hai maryam. 2 minggu lagi saya mau apply visa ke sana. Deg2an di tolak nih karena saya masih mahasiswa dan semua cost dan rekening yg saya lampirkan atas nama orang tua ku. Dengar2 mereka agak anti sama yang berkaitan sama islam & saya kuliah di universitas muhammadiyah. Kira2 bakal ngaruh ga ya???

    BalasHapus
  5. Hai maryam. 2 minggu lagi saya mau apply visa ke sana. Deg2an di tolak nih karena saya masih mahasiswa dan semua cost dan rekening yg saya lampirkan atas nama orang tua ku. Dengar2 mereka agak anti sama yang berkaitan sama islam & saya kuliah di universitas muhammadiyah. Kira2 bakal ngaruh ga ya???

    BalasHapus
  6. Hi, tulisan kamu sangat menginspirasi :) Kalau boleh tau berapa lama waktu yang diperlukan dari sejak visa disetujui sampai keluar visanya ya? Thank you.

    BalasHapus
  7. wahh, bagus sekali pengalaman mohon visa US embassy., ;p

    BalasHapus
  8. Artikel pengalaman yang sangat bermanfaat, Thanks.
    bagi rekan-rekan yang ingin informasi seputar Visa Amerika kunjungi Blog

    www.usvisaconsultan.blogspot.com

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...