Minggu, 20 November 2016

Forgiving The Unforgivable

Menjadi pembicara dalam seminar “Forgiveness” 24 November mendatang menjadi tantangan tersendiri buatku. Bukan hanya karena 18 orang anggota kelompok yg setiap hari danus demi pendanaan seminar, bukan cuma karena mereka. Namun juga karena diriku sendiri. Awalnya aku sungguh percaya diri bisa menjadi pembicara hari itu. Namun beberapa hari kemarin, aku mengajukan undur diri. Hey, banyak hal di dunia ini, peristiwa, orang-orang, bahkan diriku sendiri yang belum kumaafkan.
 


Hari itu seluruh isi kepalaku berantakan semuanya. Tugas-tugas kuliah menumpuk, tugas-tugas organisasi… tugasku sebagai anak ummi dan abi, belum lagi ditambah masalah perasaan. Well, jadi baper... Terbangun dari tidur panjangku setelah 3 malam begadang, sore itu aku tidak masuk kuliah dan aku langsung meng-VN sahabat lewat whatsapp. Menangis sejadi-jadinya kayak Awkarin yang baru diputusin Gaga. Aku bilang, “Aku benci diriku sendiri.” Mengatakannya berkali-kali.

Apa yang salah? Kenapa jam biologis tubuhku mendadak berubah? Temanku bilang katanya karena aku tidak siap hapus akun instagram, namun malah kuhapus. Sejauh inikah dampak sosial media padaku? Tapi aku masih bisa main path, facebook, twitter dsb. Dan sebagian diriku memang berkata aku ingin menghapusnya.

Aku pun mencoba menganalisis situasiku. Bahkan aku tidak mengerti mengapa saat terbangun dari tidur panjangku itu, kalimat yang kuucapkan adalah “Aku benci diriku sendiri.”. Aku bahkan tidak terpikir kalimat lain saking otakku tidak bisa berpikir saat itu.

Aku belajar bahwa dalam psikologi, memaafkan itu bukan pembenaran, memaafkan bukan mendengarkan penjelasan, memaafkan juga bukan hanya sekadar berkata “aku maafkan kamu.”. Melainkan dimulai dari menyalahkan dan mendefinisikan rasa sakit. Itulah yang kulakukan sekarang. Aku menuliskan apa saja yang membuatku terluka. Dan yang paling membuatku terluka sepanjang tahun 2016 ini adalah diriku sendiri. Aku seringkali marah pada diriku sendiri atas setiap keputusan yang kuambil, yang mana otak dan hati sering kali bertentangan. Dan tulisanku tentang hati yang hancur bertanya pada otak kutulis disini.

Aku berusaha dan beteriak minta tolong, lagi dan lagi dan lagi. Untuk ditemukan jalan tengahnya, karena dari pengalamanku keduanya (hati dan otak) seringkali berpisah jauh. Bahkan berpindah kutub dalam hitungan detik. Dan berpindah kutub lagi di detik setelahnya. Habislah ratusan halaman buku diari karena aku mencoba menganalisis situasiku.

Seseorang menertawakan perasaanku, berkata bahwa itu kocak dan aneh. Seakan-akan orang yang mengatakan hal itu tidak mengerti bahwa aku juga manusia. Aku mencoba mengubur kenyataan yang sampai saat ini masih terus menyakitiku dan membayangi pikiranku. Aku pun semakin marah dan membenci diriku sendiri selama berbulan-bulan. Tentu aku juga marah padanya, tapi memaafkan orang lain sedikit lebih mudah bagiku.

Karena memang ucapannya benar dan aku juga telah banyak berbuat salah dan menyakiti hati orang lain, sementara aku telah menerima banyak unconditional love dari orang-orang yang paling kusayang, maka aku juga harus bisa memaafkan orang lain. Jika di jalan tak sengaja aku menginjak kaki seseorang, aku akan membutuhkan sedikit unconditional love dari orang itu untuk menerima unconditional forgive. Dalam masyarakat, lingkaran pemaafan ini harus terus berlangsung. Dalam lingkaran pemaafan ini, tidak ada yang statusnya lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya sama. Jika lingkaran ini tidak ada, maka society akan collapse.


Tapi sungguh, memaafkan diri sendiri adalah hal tersulit yang kulalui sejak memasuki tahun 2016 ini. Memaafkan diri sendiri berarti yang menjadi pemberi maaf dan penerima maaf adalah diri sendiri. Maka perasaan itu tidak lepas, melainkan berputar dalam diri antara perasaan harapan, penyesalan, dan kekecewaan. Lingkaran pemaafan itu ada dalam diri sendiri. Maka tak ada lagi yang bisa kulakukan, kecuali menerimanya dan mengikhlaskannya.

Berteman dengan penulis buku terkenal Pak Cahyadi Takariawan di instagram, beliau menasihatiku bahwa dalam tafsiran Al-Quran, hati itu ada 4 tingkatan. Shadr, berarti hati bagian luar, qalb berarti hati bagian dalam, fuad berarti hati bagian lebih dalam, dan lubb berari sanubari atau hati nurani. Dimana dalam lubb ini tidak ada lagi pertentangan antara otak dan hati, maka segala sesuatunya perlu disandarkan kepada lubb. Tempatnya Mahahalus.

Karena perasaan itu terus berputar, aku tak menafikkan bahwa rasa pahit itu singgah kembali. Lagi dan lagi. Namun aku takkan membiarkannya untuk mendefinisikan diriku. Karena maaf adalah sebuah proses. Dan karena maaf adalah sebuah komitmen. Maka aku menjadikannya kesempatan untuk kembali memaafkan diriku lagi, memaafkan lagi, memaafkan lagi.

Memang, memilih hidup seperti ini melelahkan dan membutuhkan kerja keras. Memilih untuk menerima dan mengikhlaskan apa yang terjadi. Tapi ada hal baik juga yang terjadi dengan memilih hidup seperti ini, salah satu cerita yang menjadi favoritku adalah ketika Grinch mencuri pohon natal lalu dia kembalikan. Setiap dia mengembalikannya, hatinya tumbuh tiga kali lebih besar. Jadi aku berkata pada diri sendiri, aku takkan menyesali apapun jika memang sudah disandarkan pada yang Mahahalus.

Well, bismillah untuk seminarnya 24 November 2016.

Teman-teman kelompok, kasih amanah padaku sebagai pemateri.

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...