Selasa, 15 Agustus 2017

Indonesia Lebih Menghargai Peran Perempuan



Dunia barat kian menyuarakan bahwa kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki dan mendengung-dengungkan bahwa mereka adalah propaganda dari pergerakan tersebut. Padahal jauh sebelum dunia barat mendengung-dengungkan hal itu, Indonesia sudah jauh lebih menghargai peran perempuan daripada Barat. Baca resensi buku yang saya tulis Sejarah Perempuan Indonesia yang ditulis oleh Cora Vreede de Stuers dimana dalam buku itu disebutkan bahwa gerakan kesetaraan berasal dari Barat.

Padahal sejak Pemilihan Umum pertama di Indonesia tahun 1955 (10 tahun setelah kemerdekaan), wanita sudah punya hak yang sama dengan laki-laki dalam hal tatanan politik Indonesia. Sementara, bangsa Amerika dan Eropa harus menunggu ratusan tahun setelah kemerdekaan hingga akhirnya perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk memilih. Amerika membolehkan wanita memilih pada tahun 1920, artinya bila mereka merdeka tahun 1776, mereka baru memberikan hak sama pada perempuan setelah 144 tahun kemerdekaan. Tepatnya setelah keluar amandemen ke-19.  Juga jauh sebelum Indonesia merdeka, tahun 1928, Kongres Wanita sudah diadakan pada tahun 1928 yang lalu kemudian dirayakan sebagai hari ibu.

Setelah berdiri salaam 241 tahun dan sebanyak 58 kali mengadakan pemilihan presiden, 45 orang terpilih sebagai presiden, tidak ada satupun wanita yang terpilih menjadi presiden amerika. Sedangkan Indonesia yang baru punya 7 presiden, salah satunya adalah wanita.

Lalu bagaimana dengan hak pilih perempuan di Negara-negara Eropa?

Di Inggris, pada tahun 1918 wanita berusia di atas 30 tahun sudah bisa memilih. Padahal pria berusia 21 tahun sudah bisa memilih. Baru 10 tahun kemudian, pada tahun 1928 hak pilih disamakan. Inggris sendiri pertama kali mengadakan pemilihan umum pada tahun 1708, itu artinya perempuan di inggris harus menunggu selama 220 tahun untuk mendapatkan hak pilih sebagaimana pria.

Jerman memulai pemilihan umum pada tahun 1708 dan memberi hak memilih pada kaum perempuan pada tahun 1918. Itu artinya perempuan harus menunggu 210 tahun untuk punya hak memilih sama dengan laki-laki.

Finlandia merupakan yang pertama memberikan hak pilih pada perempuan yaitu tahun 1906, kemudian disusul oleh Negara-negara Eropa yang lain. Norwegia memberikan hak pilih pada perempuan tahun 1912, Denmark dan Islandia memberikan hak pilih tahun 1915. Uni Soviet pada tahun 1917. Austria, Cekoslowakia, Polandia, dan Swedia memberikan hak pilih pada tahun 1918. Luxemburg menyusul tahun 1919. Spanyol pada tahun 1931, Perancis tahun 1944; Italia, Belgia, Rumania, dan Yugoslavia tahun 1946. Padahal kemerdekaan-kemerdekaan Negara tersebut jauh terjadi sebelum Indonesia.

Secara historis Indonesia lebih menghargai peran perempuan.

Sumber: Gara-Gara Indonesia.

Dilema Menolak Pernikahan Dini



Tahun 2015, saya pernah diminta Dinas Sosial untuk menjadi pembimbing dan motivator bagi ratusan anak-anak putus sekolah Kabupaten Kuningan. Di antara salah satu anak bimbingan saya bernama Siti (15 tahun) dan dia menceritakan alasan dirinya putus sekolah adalah karena orang tuanya menyuruhnya bekerja menjadi seorang buruh cuci.

Menurut ibunya, seorang perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena pada akhirnya perempuan akan berakhir di sumur, dapur, kasur. Tidak lama kemudian, ibunya ingin menjodohkan dirinya dengan seorang yang usianya jauh lebih tua daripada dirinya. Dinas sosial lalu mendapat rujukan untuk mengasuh Siti dari teman-teman SMP Siti agar mendapatkan bantuan pendanaan dari PPA-PKH dan disekolahkan hingga perguruan tinggi. Siti merasa bahwa dirinya tidak berbakti pada orang tua karena menolak pernikahan dan meminta bantuan dinas sosial agar menampung dirinya.

Nina, bukan nama sesungguhnya, juga mengalami hal yang sama. Dia lulus seleksi masuk Universitas Padjajaran jurusan Hubungan Internasional. Sebuah jurusan yang cukup bergengsi di Indonesia. Dia menceritakan salah satu kisahnya dimana setelah lulus SMP dan SMA, orang tuanya selalu berusaha untuk menjodohkan dia dengan pria yang jauh lebih tua. Hingga demi bias membiayai pelarian dirinya dari rumah, dia harus menjual domba dan tinggal di rumah salah satu sahabatnya. Meski di sisi lain, Nina juga merasa tidak enak hati dan merasa dirinya bukan anak yang berbakti.

Saya rasa banyak sekali remaja yang mengalami dilema seperti Nina dan Siti. Dilema antara menolak perjodohan atau menjalankan kewajiban untuk berbakti pada orang tua. Meski pada dasarnya, dua hal tersebut bukanlah hal yang dipertentangkan. Menolak perjodohan bukanlah berarti tidak berbakti pada orang tua asalkan penolakannya disampaikan dengan cara yang baik-baik.

Usia lulus SMP maupun lulus SMA, merupakan usia yang terlalu muda untuk menikah. Untuk melakukan pernikahan, kematangan fisik (biologis) dan psikologis sangatlah penting. Menurut para ahli, secara biologis perempuan yang berusia di bawah 20 tahun memiliki risiko yang sangat tinggi untuk penyakit dan kematian ketika menjalani fungsi alat reproduksi. Belum lagi secara psikologis, usia 16 tahun ini masih sangatlah labil dan belum siap melakukan pernikahan. Kita perlu ingat, bahwa tujuan menikah itu adalah untuk tercapainya sakinah, mawaddah, warrahmahy (QS Ar Rum: 21).

Dampak pernikahan di usia dini telah ditunjukkan oleh berbagai penelitian, seperti terputusnya pendidikan, kemiskinan, kehilangan kesempatan berkarir, rawan perceraian, anak yang dilahirkan kurang perhatian, perkembangan psikologis remaja yang terhambat, dan mudah terpengaruh melakukan perbuatan menyimpang seperti tergoda dengan remaja lain sementara dirinya sudah berstatus istri orang.

Orang tua memang mempunyai kewajiban untuk menjadi wali bagi anak-anaknya ketika anak tersebut menikah, namun kewajiban menjadi wali bukan berarti wajib untuk menjodoh-jodohkan putra-putrinya dengan paksa.  Sebagaimana dalam hadits Nabi:

“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya. (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Al-Bukhari memberikan judul bab terhadap hadits ini, Bab: Jika seorang lelaki menikahkan putrinya sementara dia tidak senang, maka nikahnya tertolak (tidak sah).

Sementara menurut ilmu fiqh, dalam pernikahan, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi. Salah satunya adalah kerelaan calon isteri. Wajib bagi wali untuk menanyakan terlebih dahulu kepada si calon isteri, dan mengetahui kerelaannya sebelum dilakukan aqad nikah. Perkawinan merupakan pergaulan abadi antara suami isteri. Kelanggengan, keserasian, persahabatan tidaklah akan terwujud apabila kerelaan pihak calon isteri belum diketahui. Islam melarang menikahkan dengan paksa, baik gadis atau janda dengan pria yang tidak disenanginya. Akad nikah tanpa kerelaan wanita tidaklah sah. Ia berhak menuntut dibatalkannya perkawinan yang dilakukan oleh walinya dengan paksa tersebut (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah jilid 7).

Secara hukum, kawin paksa adalah perkawinan yang dilaksanakan tanpa didasari atas persetujuan kedua calon mempelai, hal ini bertentangan dengan pasal 6 ayat 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 yang berbunyi: Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

Berdasarkan hadits, ilmu fiqh, dan peraturan perundang-undangan, maka perempuan berhak menolak ketika dia tidak menyetujui perjodohan tersebut dan orang tua tidak boleh memaksakan kehendak terhadap putrinya.

Hadits tersebut di atas menegaskan hak perempuan atas dirinya. Tidak ada seorang pun bahkan orang tuanya yang berhak memaksakan, mengatur kapan, dan dengan siapa perempuan itu menikah kecuali perempuan itu sendiri. Hadits tersebut juga menyiratkan bahwa menolak perjodohan khususnya pernikahan dini bukanlah perbuatan yang membangkang orang tua atau tidak berbaktinya anak pada orang tua. Menerima dan menolak perjodohan merupakan hak bagi seorang perempuan. Berbakti atau tidak berbaktinya seseorang kepada orang tua tidak diukur dari menerima atau menolak perjodohan, melainkan dari cara berkomunikasi anak terhadap orang tua.

Banyak ayat dalam Al-Quran yang menekankan bahwa yang dimaksud dengan berbuat baik kepada orang tua terletak dari cara berinteraksi dan berkomunikasi anak terhadap orang tuanya. Ketika anak tidak setuju dan tidak sepakat dengan keputusan orang tuanya, anak tersebut tidak dilarang untuk menyatakan ketidaksetujuannya. Hanya saja hal itu perlu disampaikan secara baik-baik dengan bahasa yang tidak menyakiti orang tua.

Yang perlu dilakukan oleh seseorang adalah mengomunikasikan ketidaksetujuan dengan orang tua secara baik-baik. Seperti berbicara mengenai dampak-dampak negative dari pernikahan dini dan meyakinkan orang tua bahwa perempuan pun perlu berpendidikan tinggi, dan dirinya bisa tetap menjadi istri yang baik meskipun sambil berkarir atau berpendidikan.

Sumber: berbagai sumber (Google) & Nyai Hj. Hindun Anisah MA

Minggu, 13 Agustus 2017

15 Mitos & Fakta Kesehatan Reproduksi Wanita



Mitos: Anda hanya akan bisa hamil setelah menstruasi.
Fakta: Sebenarnya perempuan tetap akan bisa hamil meski belum mendapatkan menstruasi pertamanya karena hal ini berkaitan dengan kematangan sel telur, bukan tentang sudah atau belumnya menstruasi pertama. Namun hal ini sangat jarang terjadi.

Mitos: Anda tidak bisa hamil jika berhubungan saat menstruasi.
Fakta: Anda tetap bisa hamil bahkan jika berhubungan seksual saat menstruasi. Ini karena sperma laki-laki dapat berada dalam tubuh wanita hingga lima hari. Maka jika periode menstruasi pendek, pembuahan tetap dapat terjadi.

Mitos: Ingin menstruasi lancar, sering-seringlah minum soft drink.
Fakta: Tidak ada penelitian khusus tentang ini. Menstruasi lancar dipengaruhi oleh factor hormone dan psikis seseorang.

Mitos: Loncat-loncat akan mengeluarkan spermatozoa dan mencegah pembuahan.
Fakta: Ketika spermatozoa  telah memasuki tubuh wanita, maka spermatozoa akan mencari sel telur yang sudah matang dan siap dibuahi. Loncat-loncat tidak akan mengeluarkan spermatozoa.

Mitos: Pil KB memicu penambahan berat badan
Fakta: Meskipun hasil percobaan klinis tidak bisa membuktikan hubungan antara pil kontrasepsi oral dan penamabahan badan, tetap saja banyak perempuan yang meyakini hubungan tersebut.
Sebuah review yang menganalisis 44 percobaan menemukan bahwa meskipun beberapa partisipan mengalami penambahan berat badan, tidak ada bukti bahwa pemicunya adalah pil KB.

Mitos   : Menstruasi yang normal itu lamanya pasti seminggu.
Fakta  : tentu saja pendapat ini salah.  Setiap perempuan pasti memiliki masa menstruasi yang berbeda dan tidak selalu harus tujuh hari.  Perempuan yang memiliki masa menstruasi tiga, empat, atau lima hari masih dianggap normal.

Mitos   : Jangan minum es saat menstruasi.
Fakta  : sesungguhnya air dingin tidak memiliki efek apapun saat menstruasi.  Terutama efek menghambat aliran darah. 

Mitos: Pil KB membuat Rahim kering dan sulit mempunyai anak di masa depan.
Fakta: Pil KB adalah salah satu metode paling reversibel, artinya kesuburan bisa dapat langsung kembali setelah pemakaian dihentikan. Jadi tidak usah khawatir.

Mitos: Tidak boleh berenang saat menstruasi karena akan menyebabkan kematian.
Fakta: berenang saat menstruasi boleh dilakukan selama memakai pembalut dan tidak merasa risih. Hal ini sama sekali tidak berpengaruh kepada kesehatan apalagi menyebabkan kematian.

Mitos: Kita bisa mengetahui perempuan masih perawan atau tidak dari cara dia berjalan.
Fakta: Keperawanan ditentukan dari sudah atau belumnya seseorang melakukan hubungan seksual. Keperawanan tidak bisa dilihat dari cara berjalan atau dari kondisi selaput daranya.

Mitos: Pembalut dapat menyebabkan kemandulan.
Fakta: penggunaan pembalut saat sedang menstruasi justru menjaga agar vagina tetap bersih dan tidak lembab. Meski begitu, sebaiknya pembalut diganti setiap empat jam sekali terutama saat haid sedang banyak-banyaknya. Jika pembalut jarang diganti, jamur dapat tumbuh dan menyebabkan keputihan.

Mitos: Perempuan yang masih perawan akan berdarah saat pertama kali melakukan hubungan seksual.
Fakta: Selaput dara bersifat elastis dan tidak semua perempuan akan berdarah saat pertama kali melakukan hubungan seksual. Selaput dara bisa robek bahkan hanya karena hal-hal kecil seperti olahraga dsb. Jika selaput dara seseorang benar-benar elastis, bahkan berhubungan seksual berkali-kali pun belum tentu akan langsung robek dan berdarah.

Mitos: Saya sudah cukup berumur jadi tidak mungkin hamil.
Fakta: Selama Anda masih mengalami menstruasi, kapanpun Anda akan bisa hamil.

Mitos: Hubungan badan yang dilakukan sekali tidak akan menyebabkan kehamilan.
Fakta: Kehamilan disebabkan oleh sperma laki-laki yang bertemu dengan sel telur. Hal ini dapat terjadi meski baru berhubungan seks satu kali.

Mitos: Makan nanas dapat menggugurkan janin.
Fakta: segala makanan yang dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan gangguan pada alat pencernaan, bukan pada alat reproduksi.

Mitos: Saat sedang menstruasi jangan mencukur bulu kemaluan. Atau bulu kemaluan, rambut, dan kuku yang dipotong harus ikut dimandikan bersama saat mandi besar.

Fakta: mencukur bulu kemaluan akan menyebabkan vagina lebih bersih dan terjaga, apalagi saat haid dimana vagina perlu dijaga agar tidak lembab.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Mari Bicara Kesehatan Reproduksi!


Beberapa minggu yang lalu saya diminta oleh Persaudaraan Muslimah Salimah Kabupaten Kuningan menjadi salah satu pembicara Sosialisasi Perundang-undangan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di depan ratusan ibu-ibu se-Kecamatan Jalaksana.

Dalam diskusi saya dengan kepala unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian Resor Kabupaten Kuningan, Bapak Dahroji, sebagian besar kasus yang dilaporkan hingga naik perkara adalah kasus kekerasan seksual. Sehingga dalam penyampaian materi saya hari itu, saya banyak bicara mengenai definisi kekerasan seksual dalam KUHP dan jeratan hukum bagi pelaku dewasa atau pelaku anak-anak menurut perundang-undangan. 

Dari pengamatan saya pada beberapa kasus yang terjadi di Kab. Kuningan Jawa Barat, sebagian besar korban cenderung bersikap ‘pasrah’ saat menjadi sasaran pencabulan atau pemerkosaan. Ada juga korban yang suka sama suka dengan pelaku dan telah melakukan hubungan intim beberapa kali hingga akhirnya terjadi kehamilan meski usia korban masih sangat belia. Saya percaya bahwa permasalahan ini adalah ‘wabah diam’ yang menjamur di tiap lapisan masyarakat, bukan hanya di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Selama ini pendidikan seksual atau perbincangan mengenai kesehatan reproduksi disikapi secara ambigu. Di satu sisi, ia dipandang sebagai hal yang tabu, pamali, saru hingga dianggap tak layak diobrolkan secara terbuka. Namun di sisi lain, ia juga diminati, dicari, dipercakapkan secara malu-malu.

Sikap ambigu inilah yang menjadi persoalan karena sering kali dipenuhi oleh mitos dan pengetahuan yang salah. Apakah korban tahu bahwa dirinya bisa hamil bahkan jika belum terjadi menstruasi? Atau korban dan pelaku beranggapan sekali atau dua kali berhubungan intim tidak akan terjadi kehamilan? Dampaknya pada masyarakat, muncul pelbagai problem sosial akibat ketidaktahuan akan informasi yang benar mengenai hal ini.

Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2012 menunjukkan bahwa jumlah remaja (dengan rentang usia 15-19 tahun) yang melahirkan cukup tinggi yaitu 48 dari 1000 remaja perempuan dan meningkat 37% dalam rentang 5 tahun. Sementara, menurut sumber yang sama 85% remaja perempuan (15-17 tahun) telah berpacaran. Dengan berpacaran itu akan meningkatkan risiko terjadinya kehamilan di luar pernikahan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 33)

Padahal, melahirkan pada usia remaja akan berdampak pada risiko kesehatan baik fisik maupun psikologis. Selain remaja belum siap untuk menjadi ibu, organ reproduksinya pun belum siap untuk hamil dan melahirkan. Hal ini meningkatkan risiko kematian saat melahirkan.

Lalu apa yang harus orang tua lakukan agar tidak gagap dalam memberikan jawaban kepada anak-anak mereka seputar fungsi alat-alat reproduksi? Sebagaimana seringkali dilontarkan putra-putri balita ketika bertanya mereka berasal dari mana? Seperti apakah orang tua harus membicarakannya?

Sebagian orang menganggap masalah ini tabu dan tidak pantas untuk dibicarakan, termasuk bahkan orang tua kepada anaknya. Padahal diskursus keagamaan sebenarnya sangat terbuka dalam membahas tema ini, khususnya dalam ilmu Fiqh terkait dengan alat reproduksi dan seksualitas. Bahkan, di dalam al-Quran, kata farji atau furuj (alat kelamin) tak kurang dari tujuh kali disebut. Dalam hal ini, pendekatan melalui koridor ilmu Fiqih perlu dipelajari dan diamalkan oleh para remaja dan diajarkan oleh orang tuanya. Seperti tata cara bersuci ‘istinja atau bagaimana menyikapi keputihan, tentu dengan bahasa yang sopan dan memperhatikan etikanya.

Orang tua juga perlu menanamkan karakter bertanggung jawab pada anak-anak mereka. Sebagaimana dalam Al-Quran disebutkan “Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.” (QS. AL-Mu’minun:5).  Hal ini menunjukkan bahwa menggunakan alat reproduksi secara bertanggung jawab merupakan hal yang sangat penting dalam Islam. Sehingga diperlukan karakter tanggung jawab bagi seorang muslim dan menghormati alat reproduksi sendiri. 

Selain itu pula, telah disebutkan dalam Al-Quran bahwa memperlakukan perempuan saat sedang menstruasi pun ada akhlaknya!

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh : 222)

Permasalahan mengenai kesehatan reproduksi pada remaja perempuan khususnya sering kali berkaitan dengan: gatal-gatal sekitar kemaluan, keputihan, haid tidak teratur. Akan tetapi bila dikaji lebih luas, permasalahan kesehatan reproduksi bukan hanya bicara masalah tersebut, melainkan juga menyangkut banyak aspek lainnya seperti: masalah asupan gizi, anemia, khususnya pada remaja. Perlu diketahui bahwa masih banyak mitos/larangan/pantangan di kalangan remaja terkait kesehatan reproduksi yang justru malah merugikan kesehatan reproduksi mereka. Seperti misalnya adalah mitos mengenai jangan mencukur bulu kemaluan saat sedang menstruasi.

Selain itu, menikah pun termasuk dalam pembahasan kesehatan reproduksi. Maka perlu integrasi pendidikan kepada para remaja melalui berbagai lembaga pendidikan maupun orang tua untuk dapat menyampaikan mengenai adab-adab suami istri, etika berhubungan, serta dianjurkan untuk menjaga kebersihan. Di dalam ilmu fiqh, pembahasan ini masuk ke dalam bab nikah.

Jumat, 11 Agustus 2017

Pembatasan Kelahiran dan Keluarga Berencana



Akhirnya mengulas lagi tentang Keluarga Berencana (KB). Islam adalah agama universal dan harus mampu menghadapi dinamika perkembangan zaman dan menciptakan maslahah bagi ummatnya. Dan menurut penulis, ber-KB adalah salah satu bentuk ikhtiar demi mecapai kemaslahatan tersebut. Silakan dibaca artikelnya sampai selesai :D




Refleksi sejarah, program KB memang pada awalnya dipicu oleh pandangan Thomas Robert Malthus (1798) mengenai pentingnya pembatasan kelahiran (birth control). Dimana pembicaraan ini menjadi penting dengan dalih bahwa jumlah penduduk cenderung meningkat secara geometris (deret ukur) sementara kebutuhan riil seperti pangan meningkat secara aritmatik (deret hitung). Itu artinya, akan tiba suatu masa dimana terjadi ledakan jumlah penduduk besar-besaran, sementara stok pangan sangat terbatas dan kelaparan merajalela.

Namun, seiring dengan perkembangan wacana tentang “hak asasi manusia” termasuk di dalamnya adalah “hak-hak reproduksi”, konsep pembatasan kelahiran (birth control) ini pun berkembang menjadi yang kita kenal sebagai konsep Keluarga Berencana (family planning) atau KB. Dalam konsep keluarga berencana (family planning) isu yang dibahas terdiri atas dua hal: 1) Birth control dan 2) Planning Parenthood.

Birth control adalah konsep sebelumnya yang dikemukakan Robert Malthus, yaitu pembatasan kelahiran atau menjarangkan keturunan. Dalam Bahasa Arab disebut sebagai Tahdiid al-Nasl (membatasi keturunan).

Sementara Planning Parenthood ini menitikberatkan kepada tanggung jawab orang tua untuk menciptakan kehidupan keluarga yang aman dan sejahtera. Meskipun, membangun keluarga yang aman dan sejahtera ini tidak dengan membatasi jumlah anak. Dalam Bahasa arab, ini disebut sebagai Tandzim Al-Nasl (mengatur keturunan). Dengan masuknya konsep Planning Parenthood, maka bicara KB bukan melulu bicara mengenai membatasi jumlah anak, melainkan juga bagaimana membangun keluarga yang berkualitas.

Berkaitan dengan ini, beberapa ormas Islam di Indonesia sebenarnya memiliki program berkaitan dengan KB. Misalnya NU memiliki program “Keluarga Maslahah” atau juga Muhammadiyah memiliki program “Keluarga Sakinah”. Konsep KB dalam ormas-ormas Islam ini lebih bicara mengenai merencanakan keluarga, bukan membatasi kelahiran. Sesuai dengan tujuan ideal KB yakni menciptakan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Beberapa ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dan Sayyid Sabiq membolehkan KB dalam hal pembatasan jumlah kelahiran dengan beberapa alasan seperti masalah kesehatan ibu dan menghindari kesulitan hidup. Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah membolehkan seseorang untuk melaksanakan KB dengan alasan sang ayah adalah seorang faqir, tidak mampu memberikan pendidikan pada anak-anaknya, dan sang ibu adalah orang yang lemah jika terus melahirkan. Ingat, Kata kuncinya untuk memilih atau tidaknya ber-KB adalah “Ketangguhan Keluarga”.

Sementara itu dalam kitab Imam Al-Ghazali al-Musytasyfa, Islam hadir untuk melindungi 5 hal dasar, diantaranya adalah Hifdz Al-Nasl (hak dasar atas perlindungan keturunan, hak melanjutkan generasi) dimana KB merupakan salah satu manifestasi dari hak dasar tersebut. Karena KB bersifat sebagai ‘Hak’ dan bukan ‘Kewajiban’ maka sudah seharusnya program ini dilaksanakan tanpa ada paksaan dari siapapun. Memilih ber-KB harus dilaksanakan secara sukarela dan disertai informasi-informasi yang cukup.

Sebagai penutup, mengingat konsep “Keluarga Berencana” lebih memiliki makna sebagai perencanaan keluarga dibandingkan pembatasan jumlah anak, maka lebih penting untuk memilih calon suami atau istri yang dapat mengimbangi dalam komunikasi kehidupan berkeluarga. Misalnya dalam pembicaraan mengenai peran pengasuhan masing-masing dan pendidikan yang ingin mereka berikan kepada anak-anak mereka di masa depan. Wallahu’alam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...