Selasa, 13 Juni 2017

Hikmah Peringkat Terakhir



Dari setiap kejadian yg tidak kita sukai atau semenyakitkan apapun itu, percayalah pada suatu hari nanti kita akan menyadari hikmah dibalik peristiwa itu dan terkejut bahwa memang skenario Allah-lah yg terbaik. Salah satu cerita yg sering saya sampaikan adalah saat pergantian semester masa-masa MA di HK. Alhamdulillah ratusan anak SMA sudah mendengarnya, dan mudah-mudahan sedikit terinspirasi.

Ada orang mengatakan bahwa otak saya ini pastilah sangat cerdas, menjadi perwakilan Indonesia di berbagai konferensi internasional, menjuarai berbagai perlombaan, dan menjadi mahasiswi berprestasi. Atau orang tua saya sangat kaya hingga bisa membiayai saya terbang ke Amerika dan menghadiri sebuah forum pemuda di Kantor Pusat PBB. Tidak, sama sekali tidak! 

Wallahi, saya telah bertemu ribuan orang yang jauh lebih cerdas, pintar, berkontribusi pada masyarakat daripada diri saya. Mereka orang yang memiliki kebulatan tekad, komitmen, kerja keras dan sangat dapat diandalkan oleh teman-teman & organisasi dimana mereka bernaung. Meski begitu, saya bersyukur memiliki ‘cerita’ dari pengalaman saya sendiri yang bisa saya share. Berharap mungkin orang lain ingin mendengarnya dan memotivasi mereka yang juga merasakan hal sama.

Dulu saat MA, tempat duduk favorit saya adalah kursi yang paling pojok belakang. Suatu hari, wali kelas membuat tabel rangking di kertas HVS. Lalu sehelai kertas tersebut dioper dari depan ke belakang.... saya melihat nama saya ada disana.... menduduki peringkat 29 dari 30 siswa. Sementara seisi kelas telah melihat kertas tsb karena saya paling terakhir lihat.

Juga ketika daftar akumulasi nilai (mata pelajaran umum) satu angkatan ikhwan-akhwat dikumpulkan menjadi satu tabel besar, dipajang di mading kantor Tata Usaha. Nama saya disana, berada di bagian paling bawah-bawah.

Saya memang sudah sering ditegur guru di kantor, terancam tidak naik kelas, nilai sering nol, mengerjakan tugas satu semester dalam semalam, dsb. Sementara hobi & aktivitas saya semasa MA adalah nulis berpuluh-puluh novel-novelan ala drama korea, yang sebagian ceritanya saya tulis disini. Hingga tiba hari itu... hari dimana nilai saya menjadi tontonan seisi kelas. Tangan saya gemeteran, napas tertahan, dan mau menangis di kelas saat itu juga.

Ketika menceritakan pengalaman ini di berbagai sesi talkshow, entah kenapa banyak siswa-siswi SMA relatable dengan apa yang saya alami. "Koq gue banget ya?". Pernah juga saya mengisi acara anak SMA di satu kelas yg di-judge "Paling Bodoh" siswa-siswanya. Satu kelas itu berisik minta ampun dan saya katakan dengan lantang, "Masa depan kalian tidak ditentukan oleh nilai-nilai kalian di rapot!" dan mereka terlihat tercengang mendengar itu. Yg menentukan masa depan adalah bagaimana sikap kita untuk tidak menyerah & terus belajar. Juga tentunya doa orang tua.

Apalagi ketika memasuki dunia kuliah. Kita akan belajar bahwa selalu ada langit di atas langit. Kita akan menemukan banyak orang yg lebih cerdas, pemikirannya lebih kritis, lebih rakus terhadap buku-buku, dan lebih berkontribusi pada sesama. Mereka cenderung talk less do more.  Ketidakmaluan menjadi penting untuk mengakui bahwa kita ini masih bodoh sambil terus belajar, belajar, dan belajar.

Inilah yg disebut psikolog sebagai GRIT yang akarnya adalah growth mindset (pola pikir yang terus berkembang). Inilah yang akan membedakan si pintar dan si pembelajar. Teruslah merasa bodoh, karena tujuan belajar bukan untuk menjadikan yg amatir jadi ahli lalu berhenti, BUKAN!! Melainkan demi pembelajaran itu sendiri.


“Never stop learning, because life never stop teaching.”

Senin, 05 Juni 2017

Diskusi Saya Bersama Jurnalis AS tentang Pancasila


Diskusi ini sebenarnya diskusi satu tahun yang lalu, ketika saya mewakili Indonesia dalam International Conference on Family Planning di Nusa Dua Bali sebagai moderator. Saya baru tulis sekarang karena teringat 1 Juni kemarin (meski bukan hari lahir Pancasila sesungguhnya), hashtag #SayaIndonesiaSayaPancasila menjadi viral di mana-mana. Jadi ini adalah persepsi saya tentang human right, sex before marriage, Islam dan Pancasila.

Saat conference exhibition, saya diminta teman baik saya dari Uganda bernama Maryam Nakabuubi untuk melihat demonstrasi pemakaian alat kontrasepsi di tenda UNHCR. Bersama saya, Christine seorang jurnalis Amerika dari World Vision USA. Lalu saya berkata bahwa saya masih sangat awam soal hal tersebut. Saya katakan hal itu karena dalam agama saya sex before marriage dilarang. Christine, Maryam Nakabuubi, juga salah satu pria lagi dari UNHCR Uganda (saya tak tahu namanya) pun memasang wajah shock tidak percaya lalu bertanya, “bukankah itu melanggar human right?”

Christine berkata bahwa dia sangat tertarik mendalami Islam dan ingin mengetahui lebih jauh mengenai Keluarga Berencana dan penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia dengan mayoritas masyarakatnya muslim. World Vision USA juga mentranslasi Al-Quran dan dia heran mengapa umat Islam cukup strict dan melanggar hak asasi manusia dengan melarang seks before marriage. Sementara pencegahan penyakit menular seperti HIV/AIDS dapat dilakukan dengan penggunaan alat kontrasepsi.

Saya ingat waktu itu jawaban saya adalah, mempromosikan seks before marriage karena alasan human right dan penggunaan alat kontrasepsi ibarat membocorkan genteng yang tadinya kokoh lalu meletakkan ember-ember di lantai. Untuk apa kita mempromosikan alat kontrasepsi ketika yang Indonesia cegah adalah sex before marriage? Untuk apa meletakkan banyak ember di lantai kalau yang kita cegah adalah genteng yang bocor?

Memang, seringkali media dan elemen barat memandang pejoratif dan stereotipikal terhadap Islam bahwa islam agama yang strict & melanggar human right. Padahal pada kenyataannya, Indonesia dengan 80% penduduknya muslim dengan jumlah terbanyak sedunia yaitu 200 juta penduduk muslim, dengan apa Islam masuk ke Indonesia? Jika kita baca sejarah, Islam masuk dengan jalan damai, dengan pedang intelektual, dengan perdagangan. Maka dari itu Islam mampu diterima justru karena tidak melanggar hak asasi manusia.

Saya juga teringat jawaban Kak Nanda salah satu perwakilan Indonesia yang menjadi youth plenary speaker, ketika beliau diwawancarai oleh puluhan jurnalis asing tentang dilarangnya sex before marriage di Indonesia. Kak Nanda menjawab dengan sangat sederhana. Dasar negara Indonesia adalah PANCASILA. Sila pertama dari pancasila adalah KETUHANAN YANG MAHA ESA. Dimana dalam ajaran agama apapun, sex before marriage itu dilarang. Jika nilai-nilai agama telah menjadi jalan hidup seseorang, maka insyaa Allah itu akan mengarah kepada kebaikan kepada sesama. Dalam hal ini PANCASILA sila pertama mewakilkan ‘genteng kokoh’ dalam paragraf saya sebelumnya.

PANCASILA memang bukan agama. PANCASILA juga bukan sebuah jalan, melainkan titik temu dari banyak jalan. Jika falsafah dasar PANCASILA telah kita pelajari dan amalkan, tidak peduli suku, ras, agama, dsb kita akan saling menghormati dan bersatu dalam indahnya perbedaan di Indonesia. Berbeda itu adalah sebuah keniscayaan, namun saling menghargai & saling menghormati itu adalah sebuah pencapaian yang indah. Sebuah pencapaian yang indah tentunya perlu diusahakan dan diperjuangkan bersama-sama.

Jika orang asing saja tertarik mempelajari nilai dasar dari negara Indonesia PANCASILA, dan tidak semena-mena menanamkan nilai mereka. Kenapa kita orang Indonesianya sendiri tidak mengamalkan secara nyata tiap butirnya dan tidak bangga dengan simbol pemersatu bangsa?

#SayaMuslim #SayaIndonesiaSayaPancasila
Wallahu’alam.

Kamis, 01 Juni 2017

[Eksperimen] Hanya Minum Air Putih Selama 30 Hari



Jadi, selama 30 hari atau mungkin lebih, saya tidak meminum apapun kecuali air putih. Alasan awalnya sederhana: menghemat pengeluaran di akhir bulan April. Hingga akhirnya saya menemukan beberapa artikel di Internet seperti misalnya di situs lifehack ini: This What Happens When You Drink Only Water for 30 Days. Lalu saya pun tertarik untuk melakukan eksperimen sederhana ini pada diri saya sendiri. Dan inilah yang terjadi:

Performansi Meningkat dengan Menyelesaikan 3 Bab Skripsi 8 Hari

Sebagaimana yang dimuat di artikel tersebut, saya pun benar-benar merasakan bahwa otak saya bereaksi lebih cepat sebagaimana hasil penelitian Frontiers in Human Neuroscience Journal. 80% otak adalah air, dan otak butuh lebih banyak oksigen dan air sebagai asupan. Maka jika asupan itu diperbanyak, kinerja otak pun meningkat. Kinerja otak yang meningkat akan membantu kita berpikir tekun, tajam, cepat dan lebih cerdas.

Satu contoh hasil, progress skripsi saya kecolongan start oleh teman-teman satu bimbingan. Seharusnya skripsi dimulai 1 Maret 2017, saya menulis ulang mulai dari nol lagi (mulai dari judul dan bab I) barulah tanggal 3 Mei 2017. Hal ini akibat saya yang berkutat dengan idealisme saya sendiri, bahwa skripsi saya harus tema kualitatif yang unik. Beberapa kali saya gunta-ganti judul skripsi selama dua bulan (Maret & April), karena meskipun saya anggap tema itu cukup mudah, menurut dosen pembimbing saya, tema-tema yang saya ajukan akan sulit diukur variabelnya atau aspek psikologisnya.

Lalu entah mendapat ilham dari mana, saya memutuskan untuk mengorbankan idealisme saya yang ketinggian tersebut. Mencoba tetap berlari meski start saya terlambat dan meski saya merasa putus asa untuk wisuda tahun ini. Alhamdulillah qodarullah selama 8 hari berturut-turut, saya 24 jam di depan laptop (kecuali makan, minum, tidur, sholat, ke toilet, dkk) bab 1 hingga bab 3 selesai + 2 hari revisi (di akhir mei baru setelah menerima feedback dospem setelah beliau kembali dari luar kota).

Tema saya (tentang forgiveness pada wanita) akhirnya di-ACC. Bahkan dospem bilang bahwa tulisan saya sudah cukup padat dan komprehensif, beliau juga menyukai alur pemikiran di skripsi saya karena saya menemukan benang merah inti permasalahan dan meng-highlight bagian tersebut. Beliau juga sempat mengatakan bahwa sebaiknya tulisan saya menjadi bahan diskusi bersama dosen yang lain, diterbitkan sebagai artikel, dan juga dipresentasikan dalam konferensi. Inti masalahnya sederhana, "Mengapa perempuan mudah sekali sakit hati, namun sesakit hati apapun dia tetap sanggup memaafkan?" (meski sejujurnya tidak bisa melupakan :D #ea).

Meski saya tidak tahu apakah dapat mengejar kereta wisuda tahun ini atau tidak. Tapi saya insyaa Allah akan mengusahakan yang terbaik tanpa menelantarkan amanah yang lain. Minta doa semuanya!

Berhenti Kecanduan Kopi

Bentuklah Kebiasaan Baik, Nanti Kebiasaan Baik itu Yang Akan Membentukmu.

This is probably the hardest one to leave since I was kinda all-nighter and studyholic. Saya kecanduan kopi dari usia 15 thn. Semakin parah memasuki dunia kampus ketika setiap malam harus begadang mengerjakan tugas menumpuk. Seringkali saya minum kopi hingga 5 gelas sehari, termasuk beberapa kali kopi hitam. Di tengah berlangsung mata kuliah pun, saya akan meminta izin ke dosen keluar sebentar (untuk minum kopi ke warung) karena jika tidak ada asupan kopi sedikit pun pada hari itu, saya merasa saya tidak mampu berpikir apa-apa kecuali memikirkan kepala saya yang pusing.

Tidak jarang maag kronis kambuh dan merepotkan semua orang kalau saya sudah tidak bisa jalan berhari-hari dan menangis kesakitan di atas kasur. Sampai dokter memvonis bahwa lambung saya sudah luka, dan ummi pun marah-marah setiap maag saya kambuh: "KAMU KALAU MAU MINUM KOPI, MINUM BAYGON DULU SANA!".

Lalu, saya masih kecanduan kopi dan setidaknya jatahnya berkurang dengan sedikit memelas pada ummi pakai berbagai alasan. Mulai kepala pusing, banyak tugas, tekanan darah rendah dsb. Pokoknya saya benar-benar tak bisa lepas dari kopi maksimal 3 hari. Satu hari gak minum aja sebenarnya udah pusing. And you know what? This is my first time in my life (as an adult) saya sudah tidak minum kopi selama 35 hari. Sebagaimana penelitian psikologi bilang, untuk membentuk kebiasaan itu, kita hanya butuh waktu 21 hari pembentukannya.

Bukan hanya kopi, entah mengapa saya pun kehilangan selera terhadap segala jenis minuman manis lainnya seperti teh dan susu. Mudah-mudahan saya telah mengalihkan kecanduan saya kepada yang lebih bermanfaat pada tubuh, kecanduan air putih!

Mengurangi Tekanan Darah Tinggi Sehingga Tidak Gampang Marah

Well, sebenarnya saya juga tidak tahu apakah saya bisa  menuliskan ini atau tidak. Insyaa Allah niatnya hanya sharing. Sejauh ini bulan Mei merupakan bulan dengan amanah terbanyak di tahun 2017. Saya merasa seperti campuran antara emak-emak rumahan + mahasiswa tingkat akhir + aktivis sosial + aktivis organisasi. Amanah menumpuk sementara waktu saya lebih sedikit daripada amanah-amanah tersebut.

Sepuncak-puncaknya emosi saya, adalah ketika saya duduk bersandar di satu sudut commuter line malam hari, menangis, menghela napas berat ketika sebenarnya dalam hati saya ingin teriak sejadi-jadinya... brain drained, physically tired, mentally exhausted. Lalu setelah itu saya ke toko kelontong dan membeli sebotol air mineral yang dingin dan istighfar banyak-banyak. Alhamdulillah, setelah itu pikiran saya bisa lebih tenang dan rileks.

Mengurangi minum kopi dan memperbanyak air putih membantu jantung kita lebih sehat, mengurangi risiko penyakit jantung akibat dari mengentalnya darah. Sehingga hal ini juga akan mengurangi tekanan darah di dalam tubuh.

Kehilangan Berat Badan, Detoksifikasi, dan Meningkatkan Kesehatan

Ketika kita hanya meminum air putih selama 30 hari, tubuh kita akan mengurangi zat garam yang mengikat lemak, melakukan detoksifikasi dengan mengeluarkan racun-racun dari organ-organ penting, dan membuat organ tubuh lebih bersih juga mengurangi perut buncit. Beberapa kali penelitian ilmiah telah mendemonstrasikan korelasi antara mengonsumsi minuman manis dan gangguan obesitas. (Huffington Post).

Saya juga merasa tidak mudah lapar. Saya memang sering masak di rumah dan itu untuk 2 orang adik saya yang pindah ke Jakarta buat kursus dan kuliah. Saya tidak tahu apakah saya benar-benar kehilangan berat badan atau tidak karena saya tidak begitu suka menimbang berat badan, tapi alhamdulillah orang-orang di sekeliling saya berkata seperti itu. Ummi saya yang baru tiba di Jakarta kemarin bertanya, "Det kamu kurang gizi atau apa? Koq tiba-tiba kurus begini?"

Ohya, mengonsumsi banyak air putih sebagai katalisator juga akan menetralisir pH dalam tubuh dan memperkuat imunitas tubuh. Khususnya untuk mempermudah kinerja hati dan ginjal dengan menghilangkan zat beracun, limbah dan garam.

Dan terakhir, meminum air putih menghemat pengeluaran!

Saya menghabiskan lebih sedikit uang ketika berbelanja ke Indomaret atau Alfamart. Harga air putih yang jauh lebih murah daripada minuman manis akan menghemat uangmu setiap kali ingin menghilangkan dahaga di hari yang terik, wait and see!

@maryam.qonita 
1 Juni 2017.


Sabtu, 18 Maret 2017

Tips Mendapatkan Sponsor Acara Keluar Negeri

Tulisan ini hampir seluruhnya adalah tulisan yang kubawakan dalam seminar online di grup-grup whatsapp. Tentang tips mendapatkan sponsor untuk menghadiri acara / event / konferensi internasional keluar negeri


Sebelumnya, menurutku kenapa kita harus ikut konferensi internasional keluar negeri... gini.. kebijakan nasional itu selalu dipengaruhi oleh kebijakan internasional, seperti perubahan iklim, pendidikan, kesehatan masyarakat dll. Dan semua itu terelaborasi dalam satu bingkai kerja bernama "Konferensi internasional."

Dari pengalaman aku sih, banyak alasan mengapa para akademisi maupun aktivis sosial sebaiknya menghadiri konferensi. Seperti memperluas networking, bertemu langsung para ahli & pembuat kebijakan face to face, mempertajam pemikiran, keluar dari zona nyaman, berbagi energi positif, invest pada diri sendiri, dan tentunya bersenang-senang dengan jalan-jalan ke luar negeri.


Well, jadi kemarin September 2016 aku mengikuti sebuah konferensi berupa forum di kantor pusat PBB New York Amerika Serikat namanya Merit 360 (www.worldmerit.org). Konferensi itu bisa dibilang 100% self funded alias semuanya dibiayai sendiri. Atau mungkin partially funded karena terdapat potongan cukup besar di biaya program.

Sementara karena masalah visa terlambat (tulisanku ttg visa bisa dilihat di sini: Pengalaman Visa Amerika Ditolak Hingga Diterima) aku jadinyaa beli pesawat PP H-2 penerbangan yang itu artinya mahal banget tiketnya (ke Amerika rata-rata 40 jutaan PP), belum lagi biaya program dan akomodasi. Aku 1 bulan di USA.... 2 minggu aku ikut konferensi 2 minggu sisa waktu di USA kupakai jalan-jalan keliling New York, Philadelphia dan New Jersey.


Jadi bisa dibilang uang yang kudapat dari sponsorship bisa untukku enjoy liburan ke Amerika selama 1 bulan. Hehehe. Uang sponsorshipnya memang besar banget kalau dibandingin keluhan temen-temenku yang banyak kesulitan mendapatkan sponsor meski hanya 2 - 5 juta rupiah. Sementara nominal yang kudapatkan kemarin lebih dari 40 juta rupiah dari 4 institusi yang berbeda.

Aku yang cair adalah Kemenpora (10 juta) , KemenristekDikti (15 juta) , Baznas (Badan Amal Zakat Nasional) (10 Juta) dan pesantrenku sewaktu SMA (5 juta). Sekadar informasi buat temen-temen, Kemenpora tidak akan memberikan lebih dari 10 juta. Kemenristek dikti juga tidak akan memberikan lebih dari 15 juta (dibagi 3 bagian, bantuan dana 5 juta, 10 juta, dan 15 juta tergantung kebutuhan).  Jadi kalaupun kalian kasih proposalnya tulisannya butuh 50 juta, gak akan dikasih segitu. Jadi apply ke beberapa institusi sekalian.


Langsung aja, berikut tips dan trik agar mendapatkan sponsor untuk menghadiri acara keluar negeri:


Konferensi itu ada banyak banget. Tapi kita juga perlu lihat dari quality conferencenya. Sehingga mempengaruhi persuasi kita dalam membuat proposal. Sebenarnya lolos konferensi self funded itu mudaaah bgt apalagi untuk para akademisi, yang susah itu... cari duit sponsornya. Hehe. Jadi pastikan kalian bersusah payah untuk konferensi yang juga memang worth it untuk dihadiri dan pantas diperjuangkan. Eaa.


Informasi. Banyak konferensi fully funded asalkan rajin-rajin googling, cari info di opportunitydesk.org, oyaop.com, youthop.com dsb. Ini link untuk list konferensi & exchange fully funded buat students: https://www.munplanet.com/articles/events/list-of-fully-funded-student-and-youth-opportunities Untuk konferensi ilmiah self-funded bisa cari di http://www.conferencealerts.com tapi saran saya untuk self-funded cari yg jangka waktunya setahun kemudian. Sehingga bisa maksimal, abstrak dan cari travel grantnya.

Untuk berbagai informasi tentang konferensi, pertukaran pelajar, beasiswa, dll bisa difollow instagram @FutureLeaderLeague



Lihat jangka waktu konferensinya. Kalau saya lebih suka cari aman aja, ambil konferensi paling dekat 4 bulan sampai dengan 1 tahun kemudian baru diadakan. Sekarang saya udah wanti-wanti konferensi di Kanada Summer tahun 2018 (di Quebec tempat syuting Goblin). Masih lama sih, tapi minimal setahun sekali keluar negeri lah dan mewujudkan mimpi ke tempat fantasi di drama Goblin. Hehe.

Kalau jangka waktu konferensinya 1 bulan – 3 bulan. Lihat ketentuan pemberi dana sponsor. Kalau kampusku UNJ minimal 40 hari sebelum proposal diberikan. Kalau di kampus lain berbeda-beda. Institusi lain juga bisa berbeda. Tapi tetap sebar proposal ke institusi yang ngasih dana dalam 4-6 bulan ke depan (contoh kemenpora & kemenristek dikti) biasanya mereka turunnya reimburse.


Pahami ketentuan setiap pemberi dana sponsorship. Seperti proposal lengkap khususnya ke kemenristek Dikti dan Kemenpora (Letter, Konten proposal, LoA, CV, NPWP, KTP, buku tabungan, dll). Saya pengalaman bolak-balik kesana dan melihat langsung box penuh dengan proposal yg diterima dan proposal yang gak diterima. Saya juga sempat obrak-abrik itu box nyariin proposal teman saya. Rata-rata alasan gak diterima karena gak memenuhi syarat verifikasi kelengkapan berkas.


Taruh telur di banyak keranjang. Jangan kasih proposal ke satu institusi aja. Apply 30-50 proposal ke berbagai insitutusi yang berbeda jauh-jauh hari. Itulah mengapa teman saya dan dosen saya saja susah mendapatkan travel grant ke Thailand, sementara saya bisa mendapatkan 40 juta ke Amerika. 40 juta dari modal saya nge-print dan jilid 500ribu. Tetep untung kan? Kenapa hanya 4 yang cair, karena proposal saya banyak typonya dan tidak mengamalkan point berikutnya setelah saya dengar dari teman saya yg lain.

Ini point yang tidak saya amalkan, berakibat saya salah sasaran kirim proposal. Dari 40 hanya 4 yang cair.  Jadi... kirim proposal ke berbagai institusi/perusahaan yg memungkinkan kerjasama. Misalnya nih konferensinya ttg gizi, kirim proposalnya ke Nutri Food atau Wings Food dll. Dengan imbalan, hasil penelitian kita boleh jadi bahan mereka mengembangkan produk mereka. Insyaa Allah ini pasti diterima. Atau konferensi Family Planning, apply nya ke Yayasan Cara Cipta Padu dengan imbalan jika lembaga menyumbang 20% dana dibutuhkan maka imbalannya sekian-sekian, jika menyumbang 50% maka imbalannya sekian2. Misalnya laporan konferensi tersebut dan produk inovasi yg kita ciptakan kita kasih untuk lembaga sebagai bahan mereka mengembangkan produk mereka. Tulis rewardnya di proposalnya.


Manfaatkan Channel.... ini juga penting banget biar dapat sponsor besar. Misalnya kita kenal manajer Bank tertentu, pegawai kantor di dalam atau direktur perusahaan tertentu adalah teman ayah kita. Mereka bisa dimanfaatkan untuk mempercepat proses birokrasi.


Dan tentu tidak lupa untuk berdo'a. Karena segala kesuksesan kita bukanlah milik kita, melainkan pemberian dari Allah SWT.


6 Point Permasalahan Teknis


  1. Semua proposal sudah lengkap disusun, dikirim VIA JNE ke tiap alamat kantor. Jangan langsung mendatangi kantornya, karena ada satpam di tiap perusahaan yang mencegah kita masuk kec. Kita kenal orang dalam atau sudah pengalaman mengirimkan langsung dan disambut baik oleh CSnya seperti Kemenristek Dikti.
  2. Nomor telepon yang selalu aktif setiap saat. Jangan sampai tidak terangkat, karena mereka bisa jadi mau mencairkan dana tapi tidak bisa dihubungi berarti tanda kalian tidak serius. Saya pengalaman dua kali lembaga mau membantu tapi tidak terangkat, dan tidak jadi dicairkan.
  3. Jika lembaga memberikan tanda terima berupa kertas yang perlu ditandatangani oleh Pembantu Rektor atau pihak-pihak tertentu. Atau jika lembaga memberikan berbagai berkas apapun bentuknya, FOTOKOPI berkali-kali dan simpan baik-baik. Kalian akan tahu pentingnya itu semua saat pencairan dana.
  4. Follow UP dengan mendatangi kantor pemberi dana sponsor dengan menanyakan status pencairan dana sudah sampai mana. Apakah berkas masih di verifikasi kembali atau sudah di bagian keuangan dll.
  5. Laporan Pertanggung Jawaban (Kemenpora & Kemenristek Dikti akan meminta ini). Karena tanpa LPJ mereka akan meminta kembali uang yang telah diberikan.
  6. Tiket pesawat, bukti-bukti pembayaran apapun, tiket bus atau subway, bon dsb semuanya disimpan sebagai bahan LPJ. Tentunya foto-foto saat kegiatan berlangsung.

Dokumen


Pencarian:
  • Tips Mendapatkan Sponsorship
  • Tips Mendapatkan Sponsor keluar negeri
  • Cara Mendapatkan Sponsor Acara Internasional
  • Konferensi Internasional
  • Cara Membuat Proposal Sponsorship

Selasa, 29 November 2016

Pengalaman Merit 360 dan Unjuk Ide di PBB


Banyak yang bertanya awalnya mengapa aku bisa ke Amerika…, atau bagaimana ceritanya bisa mewakilkan Indonesia ke PBB. Jadi bermula ketika aku mendaftar sebuah program bernama Merit 360, program ini adalah organisasi perkumpulan para changemakers di dunia yang mau kontribusi secara signifikan dalam memecahkan Sustainable Development Goals 2030.

Sebelumnya… tulisan ini adalah lanjutan dari tulisanku yang sebelumnya:

Merit 360 adalah program partially-funded yang awalnya biaya pendaftarannya mencapai 7000 euro dengan segala fasilitas yang mereka berikan. Namun akibat ketertarikanku sejak setahun sebelumnya, aku mem-bookmark programnya dan akhirnya ada penurunan biaya pendaftaran menjadi 650 euro. Disebabkan banyak organisasi yang mulai bekerjasama termasuk PBB-nya sendiri, strategic partner, media partner, dan donatur akhirnya menjadi partially funded. Meski artinya juga penerimaan jadi lebih selektif.


Karena didukung oleh orang tua, aku dan ummi pun menyusun lebih dari 50 proposal untuk disebar ke setiap institusi maupun lembaga. Termasuk mengirim surat ke istana, dan akhirnya partisipasiku didukung oleh Pak Jusuf Kalla hingga mendapatkan kiriman surat ke rumah dari Kepala Sekretaris Wakil Presiden.

Surat dari Kepala Sekretaris Wakil Presiden
Yang orang-orang pikir aku pintar atau aku banyak berkontribusi pada masyarakat, makanya aku diterima. Sejujurnya gak.. sama sekali. Aku merasa bahwa banyak teman-temanku yang bahasa inggrisnya jauh lebih fasih dan kontribusi pada masyarakatnya jauh lebih besar dariku melalui cara mereka masing-masing. Aku hanya berani mengambil risiko dan mengambil setiap kesempatan yang datang. Ini menjadi sarana pembelajaran bagiku untuk opportunity selanjutnya.

Seleksi penerimaannya juga cukup mudah, yaitu dengan seleksi berkas, seleksi ide project yang ingin diimplementasikan, wawancara online dengan robot & pembuatan video. Tidak melihat TOEFL, recommendation letter, transkrip nilai dll. (emangnya beasiswa? Hehehe).


Program ini tidak sepenuhnya di New York, melainkan lebih banyak di Equinunk Pennsylvania (12 hari di Pennsylvania, 4 hari di New York). Equinunk adalah sebuah desa yang penuh dengan padang rumput. Disana aku ditemukan dengan sekitar 17 orang dalam tim Kesehatan dan Kesejahteraan. 16 dari 17 orang itu adalah mahasiswa kedokteran bahkan sudah menjadi dokter. Hanya aku dan Hassan yang bukan kedokteran. Aku psikologi dan dia jurusan teknik kimia.

Dalam menyusun program bersama untuk dipresentasikan di PBB, terdapat 3 component. Yang setiap component, formatnya beda-beda. Awalnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang tim bicarakan untuk Component 1. Karena selain terlambat, juga ini pertama kalinya aku listening langsung bahasa Inggris dipenuhi perdebatan dan  istilah-istilah kedokteran. Hufft… dan cerita pun dimulai.

KOMPONEN 1


Aku baru menyadari…, tentunya mereka bisa disini karena mereka yang terbaik dari kampus mereka. Orang-orang ekstrovert yang cenderung saling mendominasi satu sama lain, kepala mereka dipenuhi ide & belum lagi dilatarbelakangi oleh kultur yang berbeda-beda. Tentu perdebatan takkan terelekkan dari pagi hingga tengah malam. Masalahnya perdebatannya tentang istilah-istilah kedokteran… obat yang dibutuhkan, tenaga medis, harga obat, dll. OMG what are they talking about?. This is why Psychology should be under medical department.

Ada Catherine dari Nigeria; Jordan, Morenika, dan Chidera dari Inggris; Fem, Iris, dan Lissane dari Belanda; Thom dari Vietnam; Omar dari Mesir; CT dari New Zealand, Hassan dari Sudan; Yara dari Palestina; Teresa dari Spanyol; Sidney dari Austria; Rejja dari Pakistan; dan Zee dari Saudi Arabia. Ditambah satu lagi fasilitator kami Nour dari Mesir.


Dari banyak negara-negara tersebut, Nour fasiltator kami mengomentariku yang dari jurusan psikologi, ketika hari pertama aku mengakui bahwa aku tidak mengerti satupun yang mereka bicarakan. “Hampir di semua negara, psikologi di bawah fakultas kedokteran, Maryam…” ujar Nour.

Aku tersenyum pasrah dan berkata, “In Indonesia, Psychology is under Social Science department. Even in my university, it’s under education faculty. I thought we can talk about something like mental health or social well-being, could we? Or maybe we can talk something about family planning which is also a part of SDG3?

Rada shock memang dan sakit hati juga (tidak lebih juga tidak kurang, hanya di luar ekspektasi ketika tidak ada satupun yang membicarakan kesehatan mental, kesejahteraan sosial, ataupun keluarga berencana padahal bagian dari SDG3.), Namun karena sudah terbang 31 jam. Dan menghabiskan ½ tahun semester pertama tahun 2016 untuk program ini… apa mau dikata, aku harus belajar blend-in dengan mereka. Ketika Zee merencanakan program “NGO berjalan” dan aku blend-in ide seputar lomba film dokumenter..

Zee menjelaskan project NGO berjalan.

Jadi itulah tamparan keras bagiku, oh, aku harus belajar atau aku takkan mengerti apapun yang mereka bicarakan selama 2 minggu disini. Dan untuk component 1 yang disusun selama 3 hari itu, aku sejujurnya tidak berkontribusi apapun. Ide tentang NGO berjalan dan film dokumenter dalam perjalanan itu ditolak akibat tidak realistis. Dan akhirnya component 1 memang harus sesuatu yang realistis sesuai dengan format yang diberikan oleh pihak Merit 360.

Ide komponen 1 ini sangatlah sederhana, yaitu  kampanye #WeENDemic. Tulisan #WeENDemic ditulis di atas telapak tangan dan diposting di media sosial seperti twitter. Ditulis pula nama virus yang ingin dilawan dan setiap orang boleh berbeda-beda. Juga ditulis negara dimana ingin mengakhiri virus tersebut, misalnya #WeENDemic #Nigeria. Karena mudah, simple, dan luas, akhirnya ide ini termasuk dinilai tertinggi oleh juri Merit 360 dibandingkan komponen yang lain.


Rejja menjelaskan #WeENDemic campaign.


KOMPONEN 2

3 hari selanjutnya kami memasuki komponen 2. Jadi setiap komponen disusun selama 3 hari 3 malam. Dan ide setiap komponen itu berbeda-beda. Kami pun diberikan sebuah format yang baru, yaitu partnership platform dan dengan siapa kami mau menjalin partnership untuk setiap komponen yang akan dijadikan final submission ke PBB.

Research organisasi Bill & Melinda Gates Foundation
Setiap anggota tim mengusulkan organisasi lokal dan organisasi internasional yang ingin diajak kerjasama. Banyak organisasi masuk list dan diantaranya yang aku usulkan bersama Catherine adalah Bill and Melinda Gates foundation untuk organisasi internasional. Selain itu Gifted Mom terpilih sebagai organisasi lokal yang terpilih untuk diajak kerjasama.

Wihiii… suaraku didengar. Aku menyanggupi membantu untuk bekerja sama dengan Bill and Melinda Gates, karena pengalaman ICFP 2016 kemarin di Nusa Dua Bali juga voting 15 ribu orang untuk 120 under 40 yang diusung oleh Bill and Melinda Gates. Selain itu juga pernah foto bareng bersama direktur utama Bill and Melinda Gates foundation. Yang sayangnya fotonya ada di tab temanku, Stiven Lim. Intinya gitu deh. Aku bilang, kita butuh uang dan Bill and Melinda Gates foundation butuh pemuda.

Voting  antara Gifted Mom & Bill Melinda
Namun di hari terakhir penyusunan komponen 3, ada instruksi baru dari Merit 360 bahwa hanya satu antara organisasi lokal atau organisasi internasional yang akan dipresentasikan di PBB. Melalui sistem voting, setiap anggota tim punya suara memilih organisasi yang mereka sukai. Dan aku termasuk mendukung Gifted Mom untuk dipresentasikan, bukan Bill and Melinda Gates. Meski kami tetap akan menjalin kerja sama sesuai dengan final-submission.

Component 2 selesai tengah malam.
KOMPONEN 3

Well, dari semua komponen, ini yang paling baper.

Dan tulisan ini akan menjadi tulisan paling baper sepanjang tahun 2016.

Berpikir bersama.
Kenapa? Karena disini, setiap orang punya ide masing-masing, yaitu proposal yang mereka bawa dari rumah. Dan aku pun punya proposalku sendiri tentang pembangunan shelter. Jika ini yang menjadi final-submission, tentunya kemungkinan untuk mendapatkan bantuan dana hibah dari Bill and Melinda Gates foundation akan lebih besar. Dan memang bukankah ini yang kucari dari? Dengan minimal grant yang Bill and Melinda berikan sejumlah $100.000 alias 1,35 Miliar rupiah sesuai tercantum di website?

Dari presentasi proposal setiap anggota tim yang terdiri 18 orang, tim SDG3 memilih 2 besar yaitu punyaku dan punya Catherine. Mereka mungkin tertarik setelah mengetahui bagaimana kesehatan mental juga penting, bukan hanya kesehatan fisik. Juga termasuk jarang dibicarakan selain maternal dan infant mortality.

Catherine menjelaskan SIMI project. Pertanyaan bertubi sesuai BMC.
Namun serius, aku harus belajar banyak dari Catherine. Dia adalah seorang dokter asal pedalaman Nigeria juga sudah sangat berpengalaman bertahun-tahun menangani kasus kematian janin dan bayi (maternal and infant mortality).  Dia mengerti bagaimana menjelaskan program hingga tingkat paling rinci seperti perekrutan volunteer melalui women leaders, obat-obatan apa saja yang akan dibeli, peralatan-peralatan dalam satu pack obat, dan bagaimana bekerjasama dengan organisasi lokal.

Dia juga mengerti betul kondisi di negara asalnya itu yang akhirnya memicu simpati dari semua tim. Dan akhirnya karena rincian program dalam format BMC (Business Model Canvas) yang terpenuhi itulah, tim Merit 360 akhirnya memilih program NGO di Nigeria bernama SIMI Project daripada project-ku.

Well, apa mau dikata. Baper sih baper kehilangan satu kesempatan untuk menyuarakan pentingnya kesehatan mental di PBB. Akibat ketidaksiapanku dalam rincian project melalui format BMC serta keterbatasanku menjelaskan istilah psikologi kepada 17 anak-anak kedokteran full bahasa inggris. My English is very limited, just you know. Tapi ini mudah-mudahan menjadi satu pembelajaran bagiku ke depannya.

Meski menyesal juga, kenapa sampai titik ini life-changing experience sebesar ini… aku masih harus belajar? Kenapaaaaa??? Kenapaaaa….??? Ketika project-ku bisa saja masuk final submission dan dipresentasikan di kantor pusat PBB. Akankah kesempatan kedua hadir kembali untukku?


Memang sih, meski seumur hidup kita takkan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajar.

Dan ya satu lagi… kalau kalian tahu kisah CEO yang tidak memecat pegawainya meski si pegawai sudah merugikan perusahaan jutaan dolar akibat kelalaiannya. Kita mungkin akan berpikir bahwa si pegawai akan dipecat, bukan? Bahkan si pegawai sudah mengajukan undur diri. Namun si CEO malah bilang, “Aku tak mungkin memecatmu. Karena aku sudah menghabiskan jutaan dolar untuk membuatmu belajar.” Catat kalimat itu Maryam Qonita! Ditebelin, distabilo, camkan teruss dalam benakmu!!

Dan perasaanku hari-hari itu mirip dengan si pegawainya saat itu. Dan inilah kontroversi di belakang alasan aku menunda tulisan ini berbulan-bulan.

Dalam hati, “Ya Allah…mudah-mudahan aku masih bisa di-akui sebagai anak oleh ummi dan abi meski tidak memenuhi harapan mereka… tugas anak itu berat ya, meski tugas orang tua jauh lebih beraaat…. dan bikin tugasku makin berat ketika mengetahui tugas orang tua lebih berat. Tapi ummi dan abi pasti punya hati seperti CEO kepada pegawainya itu kan ya? Aku percaya hati mereka jauh lebih besar.” (Nangis dalam hati).

Terus aku berdoa, melihat beberapa teman-temanku yang juga orang tuanya udah gak ada. Mudah-mudahan abi dan ummi diberikan kesehatan selalu, sampai aku bisa benar-benar membanggakan mereka, mengucapkan terimakasih, dan meminta maaf atas semua kesalahan yang telah kulakukan dan kekurangan yang ada padaku. Mudah-mudahan mereka terus sehat… bahkan hingga usia ratusan tahun sehat walafiat… Kalau udah gini baper…, dan baru kemarin nulis di grup whatsapp keluarga dengan penuh linangan air mata.

Tetap senyum paginya.
Besok harinya, aku mulai bisa move on dan melihat dari sisi positif. Aku rada senang juga, setidaknya aku mulai mengerti beberapa istilah medis yang menjadi bahan diskusi sepanjang hari hingga tengah malam itu. Termasuk mencari harga-harga obat di berbagai belahan dunia, dan mengenali berbagai istilah seperti anti-bleeding misoprostol, chlorhexidine dll.  Setidaknya ada yang bisa kukontribusikan.

Merancang costs of simi toolkit.
Aku juga bertugas merancang timeline kinerja SIMI project setahun kedepan dan masuk dalam tim penyusunan naskah pidato ke PBB. Karena hasil voting tim, SIMI project dengan segala rincian yang memenuhi format BMC nya itu, SIMI project lah yang akan dipresentasikan di PBB oleh perwakilan tim, Morenika.

Ketiga komponen pun selesai dirancang.


Final submission semuanya.

11 Hari di Indian Head Camp


Move on dari project sementara, ingin sharing sedikit tentang 11 hariku di Indian Head Camp. Sebuah camp outbond terbaik sedunia yang berada di daerah Equinunk Pennsylvania. Di tengah-tengah camp ada danau luas yang disebut “Reflection Lake” karena merefleksikan pemandangan di sekelilingnya seperti sebuah cermin. Disertai bilik-bilik sederhana di pinggir-pinggir danau.

Saat hari minggu tiba, aku sempat menghabiskan waktu seharian berjemur di tengah danau di atas perahu kayak. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” Menjernihkan pikiranku dengan riak tenang air danau dan desiran angin lembut…”

Pake kaos kaki koq.
The best moment I had in Pennsylvania.

Dan saat malam tiba, beuh.. serius cantik banget momennya. Apalagi ketika senja menyingsing disusul bintang-bintang bertaburan.


Di hari terakhir di Pennsylvania, saat baru saja selesai menyusun naskah pidato bersama tim. Aku ngobrol dan curhat bersama teman-teman sesama perempuan di tim SDG3. Curhat soal cowok sihh... Rejja sudah punya suami, dan suaminya menerima dia apa adanya sebagai pasien kanker yang bertahan hidup bahkan sebentar lagi menjadi dokter yang ingin memberantas kanker. Juga bagaimana Teresa jatuh cinta pada seseorang, dan mereka saling mencintai namun cowok tersebut sudah menjadi pacar orang lain. 

Ketika mereka bertanya padaku adakah orang yang kusuka, mereka gak percaya bahwa aku bahkan tidak menjalin komunikasi dengan orang itu. #GerakanAntiPacaran aneh juga mungkin bagi mereka.


“I don’t have a boyfriend and I don’t have any communication with someone I like. He decided to not make any communication with me. I don’t know the exact reason, maybe because you know, in Islam it’s prohibited.”

“But... how could you getting married with someone if you don’t know the person?” Tanya Teresa.

“That's the question! (I believe it too) At least, I have to know the person in advance before deciding to marry with him or another person. He must be someone I’ve known for years, either he is my friend or something, I will ask him a lot of things. I won't marry someone I don't know...”

Gak percaya bisa curhat sama bule. Wkwkwk.

Terus aku juga bersyukur karena pihak Merit 360 menyediakan dietary needs. Buat mereka yang vegetarian, atau gluten free, punya alergi, atau hanya makan-makanan halal. Dan makanan halal selalu menjadi pilihan.

Insyaa Allah Halal
Kembali ke New York untuk 3 hari terakhir program Merit 360. Ingat pembicaraanku dengan Thom ketika mengelilingi Amsterdam Ave street malam sebelum presentasi di PBB.

“You only eat halal? What is the difference of Halal with other foods?”
“Halal means they killed the animal differently and they didn’t hurt the animal.”
“How do you feel if you don’t eat halal?”
“I am not going in the psychological relax.”
“It’s like Allah… Allah.., right? He will punish you?”
“Yeah, exactly.”


TIM SDG3 UNJUK IDE DI PBB


Dan inilah titik puncak dari semuanya, satu hari kami di PBB. Aku bersama tim SDG3 mempresentasikan ide tentang SIMI Project di Nigeria. Sebuah NGO yang bergerak dalam mencegah kematian janin dan bayi melalui pendidikan ibu dan perekrutan women leaders di ranah akar rumput. Ide yang betul-betul nyaris sempurna disusun oleh Dr. Catherine dari Nigeria. Membuatku belajar banyak darinya tentang bagaimana sebuah proyek disusun sesuai format BMC.

8 jam kami berada dalam satu ruangan, mendengarkan sambutan-sambutan bahkan dari para petinggi PBB langsung dan dihadiri oleh para stakeholders. Mendengarkan presentasi dari setiap tim dan juga diskusi panel dari para aktivis sosial.


Beberapa temanku dari ICFP 2016 kemarin yang sampai sekarang masih menjalin komunikasi, beberapa di antara mereka bekerja di sini, entah di UN Women atau UNFPA atau di WHO. Tapi sayangnya karena sibuk sendiri akunya, padahal kami sudah janjian, tapi memang tidak ketemu. Ingat sebuah quote yang pernah kutemukan, dalam 5 tahun lagi siapa kita akan ditentukan oleh teman-teman kita dan buku yang kita baca.

Bersyukur punya teman-teman seperti mereka semua, menjalin network seluas-luasnya, bersyukur mengambil bagian kecil dari perubahan dunia menuju lebih baik, dan entah kenapa dalam hati merasa yakin… I promise to go back again… United Nations. 


United Nations Headquarters

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...