Senin, 23 April 2018

Kilas Balik ICFP 2016, Mengapa Bisa Diterima?


Tulisan ini ditulis dalam rangka memotivasi teman-teman yang ingin mendaftar ICFP 2018 di Kigali, Rwanda. Deadline pendaftaran Youth Video Contest adalah 21 Mei 2018. http://fpconference.org/2018/youth/

ICFP 2016 atau International Conference on Family Planning adalah konferensi paling besar dan bergengsi dalam bidang keluarga berencana. Dari tahun ke tahun, 3000 hingga 4000 peserta hadir dalam konferensi ini dan 80% peserta adalah bule. Termasuk di antara pembicara adalah para pembuat kebijakan dunia dan para pejabat tinggi negara. Nama yang terkenal misalnya Pak Jokowi, Pak Habibie maupun Melinda Gates. ICFP ini sendiri dari tahun ke tahun diadakan oleh John Hopkins Bloomberg School of Public Health dan Bill & Melinda Gates Foundation.


Waktu itu saya terpilih mewakili Indonesia sebagai moderator. Konferensi ini adalah konferensi pertama dan fully funded yang saya ikuti sebelum akhirnya banyak mengubah hidup saya secara drastis. Saya mendapat fasilitas tiket PP pesawat garuda, kamar VIP hotel bintang 5 termahal di Bali selama 6 malam, uang saku 2.5 juta rupiah, dan biaya pendaftaran konferensi 400USD atau 6 juta rupiah. Btw itu juga pertama kalinya saya naik pesawat. Hihi.



Jadi sebelum itu, saya melihat pembukaan pendaftaran seleksi videonya di opportunitydesk.org. Tapi saya bingung mengisi aplikasinya karena saya merasa tidak aktif dalam berbagai bidang mengenai keluarga berencana. Biasanya kan kita denger KB itu apa sih? Dua anak cukup, kan?

Lalu ketika saya pulang, saya sempat curhat ke ummi kalau saya ingin mendaftar konferensi di Bali tapi harus ada syarat punya pengalaman di bidang keluarga berencana. Karena saya pengen banget daftar, saya pelajari lebih lanjut. Ternyata, KB bukan hanya tentang dua anak cukup; bisa juga masalah pernikahan dini, kesehatan remaja, pendidikan seks, dunia kebidanan, pemberdayaan perempuan dsb. Begitu pula subtema-subtema dari ICFP 2016 ternyata sangat banyak, bukan cuma bicara mengenai metode-metode alat kontrasepsi. Bicara alat kontrasepsi, dulu saya awam banget beginian. Sekarang mulai sering diundang untuk jadi pemateri bahasan-bahasan yang agak dewasa.

Diantara subtema itu ada pernikahan dini. Terus saya teringat kontribusi saya di PPA-PKH tahun 2015 sebagai salah satu volunteer pengajar. Terdapat ratusan siswa putus sekolah SD maupun SMP dan sebagian besar adalah perempuan di PPA PKH 2015. Rata-rata penyebab anak perempuan putus sekolah adalah karena orang tua mereka berkeyakinan kalau perempuan gak perlu berpendidikan tinggi selama udah bisa mengurus anak dan memasak. Terus saya jadikan pengalaman itu dalam esai seleksi ICFP 2016. Saya kontra pernikahan dini. (Baca juga: Perempuan, Berkaryalah. Jangan Ikut-Ikutan Menikah Muda).


Sementara untuk seleksi video saya bicara soal pengembalian keluarga berencana di Indonesia yang dekade terakhir ini stagnan di angka 2.6. Artinya rata-rata keluarga di Indonesia punya anak 2.6. Padahal targetnya adalah 2 per keluarga. Meski video itu sedikit kontroversial dan mengundang banyak perdebatan. Beberapa teman saya di grup-grup whatsapp bahkan bilang kalau saya anteknya Yahudi. Mereka beranggapan bahwa hukum KB asalnya adalah haram. Padahal banyak hadits-hadits lain yang juga menyirakatkan KB itu boleh dilaksanakan. Bahkan diwajibkan untuk beberapa kondisi. Beberapa ulama mahsyur seperti Sayyid Sabiq saja membolehkan KB demi kesehatan istri. (Baca Juga: Pembatasan Kelahiran dan Keluarga Berencana).

Teman-teman bisa lihat video-video pemenang kompetisi Youth Video Contest lainnya disini: Youth Delegate Video Submission from Previous Years . Ada sekitar 30 pemuda seluruh dunia yang akhirnya dibiayai pesawat dan kamar hotelnya oleh penyelenggara. Rata-rata videonya tidak terlalu bagus dalam kualitas editing danpengambilan gambar. Mungkin juri lebih mementingkan konten dari video tersebut daripada visual editingnya.

Beberapa bulan kemudian, sebuah email masuk ke inbox Yahoo saya. Penyelenggara berkata bahwa saya lulus ICFP 2016. Terus saya girangnya bukan main, sambil loncat-loncat di atas sofa. Hehe.


Saya lalu bertemu dengan Kak Nanda dan Steven. Dua orang Indonesia lainnya yang terpilih dalam Youth Video Contest. Kak Nanda baru selesai menempuh pendidikan dokter UNPAD dan Steven jurusan Hubungan Masyarakat di BINUS University, dia aktif dalam organisasi bernama Generasi Berencana. Organisasi pemuda di bawah BKKBN bicara kesehatan remaja. Saya merasa, dibandingkan mereka, saya adalah yang paling minim pengalamannya dalam bidang keluarga berencana. Tapi daripada minder, saya jadikan itu sebagai sarana belajar.


Saat tiba di acara ICFP 2016, saya bertemu dengan teman-teman bule saya yang lain. Sebagian besar dari mereka menempuh pendidikan kedokteran, kesehatan masyarakat, atau kebidanan. Mereka sudah menghadiri berbagai macam konferensi di berbagai penjuru dunia berbicara mengenai kesehatan. Ketika mereka mengirim foto-foto (di grup wa) saat ICFP 2013 dan juga International AIDS conference, saya baru sadar kalau memang pesertanya biasanya itu lagi-itu lagi. Jadi kalau teman-teman hadir dalam sebuah konferensi tahunan atau ICFP 2018 tahun ini, jangan heran kalau misalnya lebih dari 50% peserta sudah saling mengenal sebelumnya. Saat konferensi Women Deliver di Denmark, para peserta pun melakukan reuni lagi. Tapi sayangnya saya tidak sempat mendaftar konferensi itu karena ketinggalan informasi.


Lalu apakah sulit untuk diterima di konferensi fully funded jika lebih dari 50% peserta itu lagi itu lagi? Saya jawab ya... susah-susah gampang. Tapi selama kalian dapat mendemonstrasikan dengan baik kontribusi kalian yang satu visi misi dengan konferensi itu, insyaa Allah kalian juga bisa menjadi bagian dari keluarga tersebut. Dan selalu ada regenerasi untuk peserta yang sudah melewati usia 25 tahun. 

Waktu saya wawancara salah satu senior saya di kampus, info ICFP sebenarnya sampai di kampus-kampus besar seperti UI. Tapi sebagian besar mahasiswa kurang peduli dengan isu KB seperti ini atau tidak terlalu serius ketika diminta berkomitmen untuk menghadiri konferensi. Ada pertanyaan, "Apakah Anda berkomitmen untuk menghadiri ICFP 2016 dari tanggal sekian ke sekian?" terus jawabnya "kalau dosen ngizinin." wkwk.

Hari pertama ICFP 2016, saya dan Steven tertinggal youth meeting selama satu hari karena kesalahan pembelian jadwal pesawat oleh Mbak-mbak dari BKKBN. Tapi selanjut-selanjutnya alhamdulillah saya ikut aktif dalam berbagai diskusi dan juga workshop. Dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas.


Saya terpilih memoderatori sesi bidan, dan saat itu salah satu tokoh idola saya, Pape Gaye (President Intrahealth International) datang menyaksikan sesi bidan itu. Terus saya salting banget. Wkwk. Meski saya sih ngerasa, I could have done better. Dulu speaking saya modal nekat banget dan jelek. Sekarang setelah abis-abisan belajar bahasa Inggris dan juga udah mulai sering rapat sama bule dan hadir di konferensi internasional, saya ngerasa maluuu banget sama bahasa Inggris saya yang jadul. Rasanya mau tenggelem aja di perut bumi kalau inget-inget lagi. Tapi saya masih tulis tulisan ini buat temen-temen... baik kan saya kan? Hehehe.


Teman-teman nih buat yang ingin ikut konferensi apalagi yang maju ke depan untuk ngomong, menurut saya persiapan bahasa Inggris wajib banget. Dulu saya gak persiapan, dan baru nyiapin 1 jam sebelum sesi yang saya bawakan. Hasilnya ancurrr banget bahasa Inggris saya kala itu, bisa dimengerti sih tapi malu ngingetnyaaa. Harusnya kita siapkan dari minggu-minggu sebelumnya, sambil ngaca di depan cermin bawa teks bahasa Inggris kemungkinan isi moderasi atau plenary speaking kita mau kayak apa.


Selain itu dalam sesi exhibition, saya bertemu dengan seorang jurnalis AS dan berdiskusi soal Pancasila dan pre-marital seks saat demonstrasi pemakaian alat kontrasepsi. Terus, mereka terheran-heran karena saya tidak pernah melalukan pre-marital seks. Bahkan saya bilang “I don’t even touch men, how can I do pre-marital sex with them?” Lol. Buat temen-temen yang mau lihat contoh diskusi dalam ICFP 2016, bisa dilihat disini: Diskusi Saya Bersama Jurnalis AS tentang Pancasila.

Hari berlalu dan penutupan ICFP 2016 dilaksanakan. Teman saya Trevor Arnett bersama Otuck William menyanyikan lagu bertema family planning sambil nge-rap. Keduanya teman baik saya. Mereka sering menciptakan lagu tema 17 SDGs bersama Tasya Kamilla di Kantor Pusat PBB. Beberapa bulan kemudian, mereka bahkan mengobrolkan saya dengan Tasya saat di New York City.


Sampai saat ini saya menjaga pertemanan baik dengan bule-bule itu meski berbeda akidah dan pandangan (Mereka pro LGBT, saya tidak. Mereka pro pre-marital sex, saya tidak). Saya berdiskusi dengan mereka, tapi tidak membuat permusuhan atau membuat mereka merasa buruk. Kembali lagi, dengan pancasila sila pertama: ketuhanan yang maha Esa. Nilai-nilai dan norma bangsa ini berdasarkan nilai-nilai agama. Jika ada nilai-nilai yang sama antara nilai Islam dan nilai Barat, maka perlu disatukan dalam sebuah jembatan atas nama kemanusiaan.


Tahun 2018 ini saya mengajukan lagi untuk bisa diterima ICFP 2018. Saya juga mengirimkan beberapa abstrak penelitian saya. Saya sih merasa pengetahuan saya sekarang tentang KB jauh lebih baik daripada 2 tahun lalu. Namun apakah saya diterima atau tidak, itu murni kuasa Allah.

Minggu, 22 April 2018

Kotak Kosong Pernikahan


Orang-orang menikah dengan percaya pada mitos bahwa pernikahan adalah sebuah kotak cantik berisi hal-hal indah yg mereka tunggu-tunggu: kasih sayang, keintiman, pertemanan. Padahal sebenarnya pernikahan dimulai dengan sebuah kotak kosong. Kau harus meletakkan sesuatu dalam kotak kosong itu sebelum ada yang dapat kau peroleh.

Tidak ada cinta dalam pernikahan. Cinta itu ada dalam diri manusia. Lalu manusia meletakkan cinta dalam pernikahan. Tidak ada romantika dalam pernikahan. Romantika ada dalam diri manusia. Lalu manusia lah yang memasukkan romantika itu dalam pernikahan.

Setiap pasangan perlu belajar seni dalam membentuk kebiasaan saling memberi, mencintai, melayani, memuji, dan menjaga agar kotak pernikahan itu tetap penuh. Jika kita mengambil lebih daripada apa yang dimasukkan di dalam kotak itu, kotak itu akan kosong.

Tulisan ini buat ucapan selamat untuk sepupuku yang menikah pada tanggal 21 April 2018. Selamat mengisi kotak kosong itu, Evi Liana Putri sayangnya aku....

Sabtu, 07 April 2018

S2 Dulu atau Menikah Dulu?

Seseorang menasihati bahwa menikah itu bukan soal 'kapan?' (Serem banget udah kayak antrian). Melainkan bekal apa yg dimiliki sebelum menempuh ibadah terlama tersebut. Karena apa yg dilalui setelahnya adalah perjuangan berat nan panjang yang sesungguhnya.

Menuntut ilmu menuju jenjang yg lebih tinggi (S2) selama minimal 2 tahun itu sangatlah sebentar dan tidak ada apa-apanya dengan seluruh sisa umur hidup yg akan dijalani setelah menikah, berpuluh-puluh tahun lamanya.

Ingat, aktualisasi diri itu penting. Karena perempuan akan bekerja 2 kali lipat lebih berat daripada laki-laki. Jika ada seorang perempuan (yg sudah menjadi ibu sekaligus istri) benar-benar berprestasi, pahamilah bahwa usahanya sungguh tak terperi.

Kalau kata orang "sejauh apapun melangkah pada akhirnya perempuan akan kembali pada dapur dan kasur", stereotip yg masih kental di masyarakat Indonesia. Kembali atau tidak ke dapur dan kasur, perempuan juga harus tahu bahwa skill yg dimiliki bukan hanya skill fisik (pandai memasak & beres-beres rumah) tapi juga cerdas mendidik generasi.

Maka setiap cibiran ataupun stereotip orang pada perempuan yg berpendidikan tinggi atau terlalu tua untuk menikah, jadikan motivasi untuk melangkah lebih jauh. Bukan 'gila' pendidikan bukan pula ikut-ikutan... lebih dari itu, perempuan harus membuktikan bahwa dia mampu untuk melakukan lebih daripada sekadar minta atau menunggu dinikahi.

Jika takdir Allah memang harus menikah dulu dan takdir itu tidak bisa dilawan, yang jelas kita harus percaya bahwa rencana-Nya akan lebih indah daripada rencana manusia.




Kamis, 05 April 2018

Capek, Pengen Nikah Aja!

Perempuan mana yang gak mau nikah sih? Kalau disuruh jujur ya saya juga mau. Apalagi perempuan nih, kalau udah capek sama kerjaan, kuliah atau belajar, kerjaannya galau sambil guling-guling gak jelas, “Ya Allah capek..! pengen cepet nikah aja rasanya!”.

Itu yang saya rasakan dua bulan yang lalu sampai-sampai saya curhat di whatsapp story dan curhat ke kakak saya. Soalnya temen-temen seangkatan di whatsapp, instagram, facebook, updatenya tentang nikah melulu..., punya anak, hidup bahagia dan konco-koncone. Sementara saya? Pengacara (pengangguran banyak acara) yang disibukkan dengan belajar TOEFL, GRE,  daftar kuliah sana-sini, penelitian, dan menulis study objective demi lanjut S2. Padahal berhasil lanjut S2 dengan beasiswa aja belum tentu.


Udah mana nikah gak, kuliah gak, kerja gak... capeknya iya.

Terus saya ngomong sama kakak saya yang notabene udah nikah dan udah punya anak. Terus dia ketawa... “Det, kamu tuh lari dari pekerjaan sementara ke pekerjaan seumur hidup! Capeknya itu berkali-kali lipat, lihat nih aku gak tidur jagain Fatih kalau melek malem.”

Sebenarnya saya tahu, saya adalah orang yang sedikit banyak menguasai teori feminisme di kepala sampai ngeloktok. Buku tentang sejarah feminisme masuk Indonesia saya bedah saat diskusi antar jurnalis kampus. (Buku ini juga saya sedikit ulas di blog saya: [Resensi] Perjalanan Perempuan Indonesia.) Temen-temen deket di kampus bilang, pemikiran saya ini agak feminis saat diskusi di kelas.


Padahal sebenarnya bisa diibaratkan: “otak saya ini binatang buas yang saya kasih makan teori-teori kontemporer sementara hati saya berada di tengah ombak dan sedang berlari agar tidak tenggelam di kedalaman samudera”. #apasih.

Sebelumnya, buat orang-orang yang bilang saya feminis, feminis itu ada 4 gelombang dan kalian bilang saya gelombang yang mana? Bagaimanapun, gerakan-gerakan di gelombang pertama yang akhirnya mengakhiri buta huruf kalangan perempuan di Eropa saat abad pertengahan. Lagipula saya gak pernah literally bilang diri saya ini feminis. Saya hanya meyakini bahwa perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki dalam hal kebijakan strategis di politik, pengambil keputusan penting di dunia bisnis dan juga peraih pendidikan tinggi seperti master atau PhD. Kedudukan mereka di mata Allah pun sama dalam beribadah, bukankah begitu?

Lagipula ada jembatan antara nilai barat dengan nilai Islam yang bisa dipertemukan dan tidak melulu harus dipertentangkan. Sehingga jembatan itu dapat menolehkan barat yang anti islam agar dapat melihat bahwa islam adalah agama yang damai. Baca juga tulisan saya saat diskusi bersama jurnalis Amerika Serikat.

Balik lagi dengan hati dan otak saya yang masih bertentangan. Pada dasarnya setiap orang ingin menikah, kan? Tinggal masalah waktu. Kita tahu bahwa otak cenderung memiliki keputusan yang lebih stabil dan tegas. Sementara hati seringkali terombang-ambing terbawa ombak. Karena saya tahu, kalau sampai hati dan otak saya selaras ngikutin otak saya, saya bisa-bisa gak nikah-nikah untuk waktu yang lama. Terus saya takut ngebayangin saya di usia 30-40 tahunan sendirian gitu padahal sebenarnya saya punya naluri keibuan dan hopeless romantic gitu. Berharap pangeran berkuda putih datang menawarkan pernikahan pada sang Rupenzel ea.
Ummi saya mak comblang paling terkenal satu pesantren dan abi saya seorang kiai. Abi sering negur saya, “Kapan kamu mau nikah??! kamu mau nikah usia 40??!”. Padahal dalam hati, kalau saya bilang “mi bi deta sebenarnya pengen nikah aja,” pasti langsung dicariin hari itu juga dan saya langsung berada di pasar bebas penuh promosi. Tapi dengan sekuat tenaga, saya tahan itu berbulan-bulan sampai hati saya berhasil lolos dari ombak di kedalaman samudera ini.


Berikut alasan-alasan ketika hati dan otak saya sudah mulai selaras:

Pertama. Ada satu buku islami gitu yang saya baca, dan dalam hati entah kenapa saya marah sama penulisnya karena si penulisnya meletakkan standar bahwa tidak menikah di usia 30 tahun itu adalah standar yang buruk di masyarakat. Sampai-sampai si perempuan 30 tahun itu dibawa ke psikiater oleh ibu dan adiknya yang “islami” agar perempuan itu mau menikah. Tapi perempuan itu belum juga ingin menikah dan sampai akhir cerita digambarkan bernasib buruk. Kenapa dengan perempuan yang memilih fokus berkarir dan berpendidikan dianggap bernasib buruk dan memiliki gangguan mental? Seriously???

Kedua. Salah satu adegan film Ayat-Ayat Cinta 2, Keira memohon kepada Fahri untuk dinikahi. Juga Aisah yang sampai membakar jarinya sendiri, melakukan pengorbanan-pengorbanan bodoh, dan terpuruk melihat suaminya menikah lagi. Juga Hulya sepupu Aisha yang menjadi istri Fahri dan meninggal demi kebaikan Fahri dan Aisha. Fahri sendiri digambarkan sosok sempurna tanpa cacat, ganteng, dan sholeh. Sementara perempuan-perempuan itu mengejarnya berharap dinikahi. Kenapa perempuan digambarkan seterpuruk itu dan yang bisa mereka lakukan adalah meminta dinikahi?

Ketiga. Para istri-istri di Facebook banyak yang menjelek-jelekkan pelakor seakan-akan pelakor bukan manusia. Padahal yang salah suaminya juga, tapi yang diperlukakan layaknya binatang adalah sesama kaumnya sendiri perempuan, sampai dikirim preman, disawer uang, dihajar habis-habisan. Padahal pelakor itu bukan seonggok daging tanpa perasaan, dia wanita juga dengan rasa takut, rasa malu, rasa sedih, rasa kecewa dan juga harapan. 

Keempat. Finally, saya menonton film berjudul “The Last Woman Standing”. Saya tonton lagi dan lagi tengah malam yang akhirnya hati saya benar-benar tenggelam di kedalaman samudera dan binatang buas di otak saya semakin diberi makan pemikiran kontemporer. Saya adalah seorang perempuan normal, with fears, with hope, with dreams. Akhirnya saya menerima dan mewajari perasaan takut saya jika tidak menikah dalam waktu dekat akan menjadi perawan tua. Akhirnya hati saya yg tadi berusaha kabur dari derasnya ombak samudera kini benar-benar tenggelam~


Film The Last Women Standing berkisah tentang seorang wanita yang di usia 30 tahun Sheng Ruxi belum juga menikah dan dipaksa oleh ibunya dan masyarakat disekelilingnya untuk menikah sama siapapun juga meski dengan pria 15 tahun lebih tua darinya.  Ibunya lalu jatuh sakit alzheimer lalu perempuan itu bertekad untuk segera menikah. Di endingnya, Ruxi tidak menikah juga karena dia merasa tidak bahagia dengan pria 45 tahun itu. Bagian akhir, ayahnya menangis membela Ruxi di depan si calon suaminya dan itu adalah kalimat-kalimat terbaik seorang ayah yang dikatakan demi kebahagiaan putrinya sendiri. Setahun berlalu, Ruxi belum menikah dan tetap merasa bahagia.



Selain itu juga, sahabat perempuan tersebut, Zhang Yu belum menikah di usia 30 tahun dia. Dia masih mencintai mantan pacarnya yang sudah berkeluarga. Tidak harus bersama dengan orang yang membuat dia bahagia, Zhang Yu memilih menjadi seseorang yang membuat dirinya bahagia. Dia melakukan apa yang ingin dia lakukan meski orang lain tidak mengetahuinya. Termasuk ketika mantan pacarnya itu gagal ginjal, Zhang Yu menyumbangkan satu ginjalnya pada mantan pacarnya secara anonim. Seperti baterai yang tidak pernah habis, dia berdiri kuat menyokong orang-orang di hadapannya. Dan dia merasa tidak apa-apa berada di belakang dan kehilangan muka. Meski orang-orang tidak tahu dan dia tidak memenuhi standar kepantasan sosial, tapi hatinya lapang. Kayak cerita temen saya.


 

Beberapa teman saya salah paham mengira saya menargetkan menikah di usia 27-28 tahun. Well, sebenarnya saya tidak menargetkan usia tertentu pernikahan karena itu artinya saya mendahului ketetapan Allah. Kalau orang dan waktunya tepat, kenapa gak juga sih? Hanya saja, aktualisasi diri itu penting. Bukan untuk menjadi istri pembangkang, saya hanya ingin menjadi ibu cerdas bagi anak-anak saya kelak. Saya juga paham, sebagai perempuan saya akan bekerja 2 kali lipat lebih berat daripada suami saya kelak. Sungguh usaha tak terperi yang telah dilalui wanita-wanita tangguh sebelum saya, mengurus anak, menjadi istri sekaligus berusaha jadi perempuan yang bisa bermanfaat di masyarakat. Wallahu'alam.


Michelle Obama talking about Women Empowerment

Free Download Ebook IELTS PDF + Audio Lengkap

Saya adalah orang yang sebelumnya tak pernah sekalipun berpikir untuk mengambil IELTS. Saya selalu fokus pada TOEFL ITP dan iBT. Sebelum download Ebook IELTS PDF lengkap, saya ingin share pengalaman saya di bawah kenapa pindah ke lain hati. Hehehe. 😁

Mengapa IELTS bukan TOEFL iBT?

Tanggal 30 Maret 2018, saya menghadiri sebuah seminar TOEFL di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon. Pembicara seminar tersebut adalah Mbak Sirniawati Maskud yang sudah memperoleh gelar Master of Arts in TESOL (Teaching English for Speaker of Other Language) di Victoria University of Wellington, New Zealand. Beliau juga dosen bahasa Inggris di IAIN Cirebon. Btw, si mbaknya cantik banget. Tapi sayang gak bisa upload foto, karena HP saya pecah sehari setelahnya. Dan ya, akan membutuhkan waktu lama untuk HP baru.


Singkat cerita saya adalah penanya paling banyak karena saya butuh mendapatkan nilai TOEFL ITP untuk beasiswa Australia Awards 30 April mendatang. Sebelumnya saya gagal mengajukan aplikasi Fulbright 15 Februari lalu karena satu dan lain hal yang begitu mendadak. Meski Fulbright dan Australia Awards yang menerima TOEFL ITP, perguruan tinggi di luar negeri tidak menerima sertifikat itu. Jadi pada akhirnya kita akan diminta untuk memberikan sertifikat TOEFL iBT atau IELTS yang harga satu kali tesnya 3 juta rupiah. 

Terus bedanya dengan TOEFL ITP? TOEFL ITP tidak mengukur kemampuan inggris aktif seperti writing dan speaking sebagaimana keduanya diukur di iBT maupun IELTS. Terus, kenapa ini penting? Karena peluang mendapat beasiswa akan meningkat drastis jika kita punya LoA unconditional (lulus tanpa syarat) dan LoA unconditional hanya dapat diperoleh dengan sertifikat TOEFL iBT atau IELTS resmi. Terimalah kenyataan~



Awalnya saya berencana akan mengambil TOEFL iBT daripada IELTS karena saya pikir saya lebih familiar dengan logat Inggris Amerika daripada Inggris British. Tapi setelah ujian bahasa Inggris EF SET kemarin (ujian EF SET gratis dan dapatkan sertifikat bahasa Inggris resmi untuk Linkedin disini: EF SET Certificate Plus) yang notabene listeningnya ber-logat british kental, ngomongnya cepat dan polanya tidak berstruktur, anehnya saya dapat skor listening C1 66/100 yang setara IELTS kisaran 7.0-8.0. Tiba-tiba saya jadi agak pede gitu deh hehehe.


Katanya, seringkali kita emang gak sadar dengan kemampuan listening karena sering nonton film berbahasa Inggris british. Thanks to Harry Potter; serial inggris british yg semuanya saya tonton tanpa subtitle berkali-kali (maksudnya biar bisa niru Hermione Granger ngomong atau jadi Andhika Wira versi muslimah, wkwk). Thanks juga aktor favorit saya Benedict Cumberbatch dan Eddie Redmayne yang dua-duanya kebetulan aktor british. Semua video mereka di Youtube saya tonton yang asli keduanya kelihatan di The Graham Norton Show, tapi kalau udah akting, apalagi Benedict pas jadi Naga Smaug di The Hobbit... keren.
 
Duo aktor favorit, berbakat dan lucu.
 
Benedict as Smaug

Selain faktor internal yang memang suka aktor dan film British, saya memilih mengambil IELTS juga dipicu oleh faktor eksternal. Yang baru saya ketahui setelah hadir di seminar TOEFL itu kenapa Mbak Sirni sendiri mengambil IELTS (Dalam hati: Ya Allah, selama ini saya kemana aja???). Berbeda dengan TOEFL iBT, Speaking IELTS berbicara langsung kepada manusia dan sebelum sesi speaking, ada jeda istirahat beberapa hari untuk menyiapkan sesi speaking ini. Kayaknya saya bakal lebih pede ngomong sama manusia deh, kayak ngobrol dengan teman bule aja kali ya.. jadi gak awkward ngomong ke komputer... krik krik grong grong mbek mbek...

TOEFL iBT be like
Selain itu juga TOEFL iBT mengharuskan kita duduk 4 jam di depan komputer dan ketika kita sudah menjawab soal, kita tidak bisa mengoreksi jawaban yang salah dengan kembali ke soal sebelumnya. Sebagai orang yang tidak bisa berpikir jernih saat depan komputer, bahkan semua PDF Toefl saja saya print, saya tentu akan memilih IELTS yang menggunakan kertas.

Semua ebook PDF TOEFL saya print. Bahkan 2 ebook yg 600 halaman.
Jadi dua faktor eksternal ini, kalau ujian reading, writing dan listening IELTS menggunakan paper and pencil sementara speakingnya juga langsung dengan manusia.. saya akhirnya hari itu juga berkata, oke saya ambil IELTS aja deh. Terus saya coba daftar IELTS british council, saya lihat..., OMG sertifikat IELTS tiba dalam 13 hari kerja! Sementara TOEFL iBT sertifikatnya akan tiba dalam 2.5 bulan karena dikirim langsung dari Amerika Serikat. Tanpa ba bi bu... saya pun langsung memilih IELTS dan mencoba mulai familiar dengan tipe soal-soalnya dari ebook-ebook di internet. Terus spamming abis-abisan di blog dengan IELTS. Wkwkwk.

Saya pas baru saja mempelajari IELTS
Well, meski suatu hari nanti saya akan mengambil TOEFL iBT karena saya bercita-cita masuk Harvard University buat PhD in Social Psychology. Aamiin.. hehe. Harvard University hanya menerima TOEFL iBT sebagai proof of english proficiency mereka. Seperti teman-teman bisa lihat di sini: Harvard TOEFL Requirement: The Score You Need


Agustus 2018 sebenarnya saya ada presentasi di kampus ini fakultas kedokteran Harvard untuk publikasi jurnal, tapi saya batalkan. Semua konferensi self-funded saya batalkan dan uangnya saya jadikan  untuk belajar. (Baca artikel berkaitan: 14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional) Ini namanya mengorbankan 1 minggu ke Harvard demi 2 tahun kuliah di sana... ea.. aamiin. 

Kayak Budi Waluyo (founder Sekolah TOEFL) yang mengantar temannya ke bandara untuk 2 minggu konferensi di Amerika, terus dalam hatinya berkata "Gak apa-apa dia 2minggu di Amerika, saya 2 tahun di sana.". Dan ya terwujud! Maka berusahalah yang terbaik untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Jangan pernah berhenti untuk meningkatkan kualitas diri.

Oke langsung saja berikut adalah link-link download material IELTS yang super lengkap. Tulisan ini akan terus diperbarui kalau saya mengupload material IELTS yang lain. Jika ada link yang tidak berfungsi, silakan tulis di komentar blog :D
Download Ebook IELTS PDF + Audio Lengkap
Download Cambride IELTS Trainer with Answer
Download Official IELTS Practice Materials
Download Cambridge IELTS 10-12th Edition
Download The Official Cambridge to The IELTS
Download New Insight into IELTS
Download Barron IELTS Practice Exams Book
Download Ebook English Collocations in Use
Suplemen Tambahan untuk Vocabulary
Download 13 Ebooks Check Your English Vocabulary
Download Ebook English Vocabulary in Use

Rabu, 04 April 2018

Petualangan itu Bernama Skripsi

 
Dalam sebuah seminar, bapak penelitian Indonesia sekaligus guru besar UGM, Prof Yattman Arianto bertanya pada ratusan mahasiswa tingkat akhir. Kebetulan aku mengangkat tangan pertama kali. Beliau bertanya “Mengapa menulis skripsi?” dan aku menjawab “karena diperlukan untuk lulus S1 dan agar hasil penelitiannya bermanfaat”.

Lalu aku sadar bahwa; jawaban itu kurang tepat dan kedua; ternyata pertanyaan tersebut jebakan. Seakan-akan yang terpenting dalam penulisan skripsi adalah hasil akhir: ratusan lembar kertas kuarto dijilid dan diserahkan pada pihak universitas. Lalu Prof Yattman menambahkan, “berat bicara manfaat pada orang lain, ketika penelitian Anda belum tentu benar!”.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apa yang saya peroleh dari pengalaman ini?”. Menulis skripsi adalah sebuah proses. Hasil dari proses tersebut mengubah kita menjadi seorang penulis yang lebih baik, peneliti yang lebih baik, dan tentunya pemikir yang lebih baik. Proses pengembangan diri itu menciptakan kebahagiaan. “Jika skripsi tidak membuatmu bahagia, jangan menulis skripsi!” kata Prof. Yattman padaku.

Dalam proses penulisan skripsi, banyak hadiah bertubi-tubi yang kurasakan. Aku pun yakin mahasiswa lain merasakannya. Saat kita membayangkan, meneliti, menyusun, merevisi skripsi, kita akan menemukan berbagai pertanyaan kompleks dan penting, bergulat dengan data, menghadapi tantangan teka-teki intelektual dan berjuang mengartikulasikan pemikiran sendiri secara ilmiah.

Bagaimana bisa skripsi tidak dikatakan sebagai petualangan yang gemilang? Kita merasa gembira saat gagasan pribadi muncul dan terheran-heran dengan kemampuan baru yang kita kembangkan... pada akhirnya merasa puas mengarungi sebuah perjalanan sulit namun penting. Bukankah begitu?

Rasanya seperti berenang mengarungi sebuah danau yang indah. Awalnya sih kelihatan dalam dan kita takut untuk tenggelam, tapi ternyata setelah menenggelamkan diri,  kita akan berusaha naik ke permukaan dan berenang ke tepian. Lalu tertantang mengarungi danau lain yang jauh lebih dalam nan indah.
 
 

Download 13 Ebooks Check Your English Vocabulary

Selasa, 03 April 2018

Download Barron’s How to Prepare for the TOEFL iBT Essay


Barron’s How to Prepare for the TOEFL Essay is written by Lynn Lougheed . This book helps the proposed candidates to score more in essay writing sections. This TOEFL preparation book is published by Barron’s Educational Series. Candidates who are preparing for TOEFL can easily write outstanding essays if they follow this book Barron’s How to Prepare for the TOEFL Essay.

Barron’s How to Prepare for the TOEFL Essay details the following topics

  • This book contains solid preparation notes with instructions, organise details and ideas for a topic and then helps you to mould it in a clear and grammatical written English.
  • Covers almost 185 models essays for candidates to read and analyze along with exercises in proofreading and editing.

Choose Barron’s Method for Essay-Writing Success
  • Read and understand the author’s overview of the TOEFL Essay
  • Select an essay topic that interests you
  • Organize your main ideas
  • Write a first draft, then follow the author’s directions for editing it
  • Write a final draft and proofread it carefully
  • Analyze your essay, referring to the book’s model essays for guidanceIt’s Your Path To a Higher TOEFL Test Score
Download Barron’s How to Prepare for the TOEFL Essay 
http://www.mediafire.com/file/5kfddeo8t03pp3k/%5Bwiki-toefl.com%5D_Barrons-How_to_Prepare_for_TOEFL_Essay.pdf 


Download Ebook IELTS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...