Senin, 12 Februari 2018

February 2018 Wishes List

“Stay ambitious by sharing your dreams.”


Tetaplah ambisius dengan berbagi mimpimu. Pertengahan Februari 2018 kali ini sama seperti April 2016 kemarin, aku ingin berbagi beberapa target yang bisa kuraih dalam bulan Februari. Masalah hasil biar Allah yang tentukan, tapi aku ingin terus berusaha. Dan dengan menuliskannya aku akan meningkatkan peluangku untuk berhasil, insyaa Allah.
.
  1. Aku ingin produktif dengan memanfaatkan minimal 112 jam waktuku dalam seminggu selain untuk tidur.
  2. Aku ingin menuliskan 100 halaman draft pertama Indonesia Terakhir sebagai novel perdanaku insyaa Allah.
  3. Melengkapi seluruh persyaratan beasiswa Fulbright.
  4. Mengirim aplikasi pendaftaran S2-ku ke Eropa.
  5. Menyusun proposalku untuk proyek dana hibah dari The Right to Research USA sebesar 32 juta rupiah untuk Open Con 2018 Jakarta.
  6. Mengirim minimal 20 proposal pendanaan penelitian kepada 20 institusi Nasional.
  7. Melengkapi aplikasi travel-grant untuk ke Harvard University.
  8. Menyelesaikan pendaftaranku untuk ke ICFP 2018 di Kigali, Rwanda.
  9. Merekrut tim untuk membuat website dan mengelola akun sosial media Open Access Indonesia.
  10. Mengontak tim DOAJ Indonesia (Directory Open Access Journals) untuk kerjasama dengan Open Access Indonesia dan menjadi tim pembimbing.
  11. Aktif di Rapat Open Con Asia (International Community Call) dan mengirim beberapa ide mengenai Open Con di Toronto, Kanada.
  12. Mendaftar lagi TOEFL ITP jika dibawah 600.
  13. Memposting artikel di blog minimal 5 postingan blog.
  14. Sholat dhuha, sholat malam, muroja’ah dan juga mendoakan orang-orang.
  15. Membeli Schedule board untuk dipasang di kamar.

BISMILLAH :D

Selasa, 30 Januari 2018

Pidatoku di Negerinya Atap Dunia

Dua bulan lalu (2-3 Desember 2017) aku menginjakkan kakiku di negerinya atap dunia—Nepal untuk pertama kalinya.  Kusebut pertama kalinya karena harus ada kedua dan ketiga kalinya aku mengunjungi Nepal. Tentu dalam rangka kegiatan yang lain seperti hiking dan trekking berjalan mengelilingi pegunungan tertinggi di dunia (Himalaya) sejauh 250KM.


Gak kebayang jalan kaki dari Kuningan ke Jakarta dengan suhu -10 derajat celcius. Ulala... ngebayanginnya excited banget! >_<!! Apalagi kalau udah punya suami; suami aku harus orang yang tahan jalan 250KM di bawah suhu ekstrem dengan beban puluhan kilogram di punggung uaaaahhhh..... #apasih.

Well.. tapi sayangnya kemarin aku ke Nepal bukan buat hiking/trekking... melainkan rapat dan rapat dan rapat. Termasuk menyiapkan pidatoku sendiri saat selang-selang rapat karena aku belum menyusun teks apapun selama di Indonesia! Dan yang menjadi penyimak adalah 150 peneliti asia dari China, India, Nepal, Amerika Serikat, Inggris, Bangladesh, Pakistan, dsb.
 
Rapat... rapat.. rapat...

Sebagian besar dari peneliti yang hadir sudah meraih gelar Ph.D (S3) pakar di bidang teknologi pendidikan maupun penelitian. Mungkin cuma aku yang fresh-graduate S1. 150 peneliti asia ini tergabung dalam sebuah Asian Regional Meeting “Open Access Research: Reaching Information Divide.” Acara ini sendiri diadakan oleh Open Access Nepal, SPARC, dan The Right to Research USA. Disponsori oleh Hewlett Foundation.

Aku mendapati seluruh pembicara memberikan presentasi rumit (data-data & materi tingkat advance). 

Sementara aku? Aku fresh-graduate S1 dan bukan seorang peneliti. Aku seorang mahasiswa biasa dan aku tidak punya latar belakang dalam biang teknologi pendidikan maupun riset. Tapi kekurangan itu kujadikan kelebihanku, setidaknya aku menjadi representative mahasiswa S1 korban kebijakan para pebisnis di balik sistem jurnal komersial.
 
Saya pembicara termuda. Wkwk.

For your information, open access adalah sebuah gerakan yang menyuarakan akses terbuka untuk semua jurnal penelitian secara gratis, bebas masalah teknis dan juga embargo. Salah satu mandat utamanya adalah pemangkasan jurnal komersial. Gerakan open access disuarakan oleh The Right to Research USA dan Scholarly Publication Asociation and Research Coalition (SPARC) yang berjasa membantu publikasi jurnal gratis seluruh dunia. Salah satu dari direktori open access adalah DOAJ.org (Directory Open Access Journals). Sementara komunitas penggeraknya di Asia bernama Open Access Asia.

Well berikut ringkasan konten pidatoku kemarin:

Lighting speech in front of bules

“Namaku Maryam Qonita dan aku baru lulus S1 jurusan psikologi UNJ, aku pengangguran sekarang dan aku tidak punya latar belakang apa-apa di bidang teknologi pendidikan (nadanya pede wkwk).

Bicara mengenai ‘open’ aku rasa gak segala sesuatu harus terbuka. Misalnya data pribadi klien yang berkunjung ke psikolog adalah sesuatu yang super duper rahasia. Jadi bukan hanya gak ada latar belakang dalam Open Access, latar belakangku juga sangat bertolak belakang dengan openness. (Candaan garing, tapi penonton tertawa. Pertama kalinya dalam hidupku bikin ratusan bule tertawa sambil pidato berdiri di depan. UAaaah!!! Teriak dalam hati. #MaafNorak).

Sebagai mahasiswa S1, seringkali aku butuh referensi jurnal bagus untuk menyusun makalah dan skripsiku. Sayangnya tiap kali aku dapat jurnal yang bagus, yaah jurnalnya bayar! Aku mahasiswa S1, aku gak punya uang dan aku gak punya pekerjaan untuk mendapatkan uang.

I began to connect the dots, to connect into something much bigger, aku bertanya pada teman-temanku yang lain dan sebagian besar dari mereka juga punya masalah yang sama. Itu artinya sebagian besar dari teman-temanku juga gak punya uang, sepertiku. Aku harap kita semua disini bukan berkumpul karena hal itu (Penonton ketawa lagi. I didn’t believe I could make a joke in english.).

Pertengahan 2015 aku pun mempelajari konsep Open Access, Open Data dan Open Education untuk pertama kalinya. Aku percaya kalau inilah solusi dari masalahku, juga solusi masalah temen-temenku yang lain; khususnya bidang akademia. Aku share dengan teman-temanku mengenai ide dari Open Access dan mereka setuju untuk mengadakan seminar tentang ini secara gratis. Kami mengadakan dua seminar di Jakarta, Open Conference 2015 Jakarta dan Open Conference 2016 Jakarta.
OpenCon 2015 Jakarta & Education Watch
(Panjang lebar menjelaskan mengenai 2 acara yang kuadakan bersama Education Watch UNJ dan Komunitas Peneliti Muda UNJ selama tahun 2015 dan 2016 dengan total lebih dari 300 peserta. Setidaknya, membanggakan almamater di dunia internasional adalah hal yang bisa kulakukan demi mengembalikan nama baik UNJ sebagaimana kampus ini telah memberikan banyak hal padaku terlepas dari kasus politik di dalamnya).
Aku percaya tak perlu jadi pakar untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Hanya perlu melakukan sebuah aksi lokal dan merekrut para ahlinya (dosen teknologi pendidikan, pustakawan, pegawai Kemenristek Dikti) sebagai pemateri. Setahuku Indonesia sendiri sudah memiliki kemajuan dengan adanya National Digital Library yang merupakan langkah dari E-Grand Design; dimana semua perpustakaan provinsi memiliki perpustakan digital masing-masing. Juga dengan adanya aplikasi iPusnas (menunjukkan sebuah aplikasi android) agar setiap orang bisa akses banyak sekali buku secara gratis
Dengan semua kemajuan gerakan Open Access di Indonesia, aku ingin berterima kasih pada Mr. Kanok Manirul Islam selaku ketua Open Access Bangladesh yang telah memberiku ide dan semangat untuk membangun Open Access Indonesia pertama kalinya. Untuk itu aku mohon kerjasama dan bantuan dari teman-teman semua. Terimakasih.”

Pidato sekian dan disambut tepuk tangan. Gugup banget sejujurnya.

I have made a lot of mistakes in my life. Thankfully, this one is not among of them. Aku gak tahu tapi mereka berkata bahwa mereka sangat menyukai isi pidatoku yang apa adanya dan apa yang ada di lapangan kenyataan (dalam hatiku sebagai seorang mahasiswa S1 yang bokek, gak punya uang, dan gak punya pekerjaan). Aku hampir gugup karena pembicara yang lain adalah Ph.D atau Dr. (S3) dan isi PPT mereka terlalu rumit untuk kumengerti... instead of trying to look smart, aku menunjukkan kekuranganku sebagai kelebihanku dan curhat apa adanya yang terjadi di lapangan.
With Nick Shockey di ruang rapat

Dan yang terbaik adalah saat aku mengobrol dengan Nick Shockey (direktur The Right to Research USA) di depan hotel Annapurna, hotel bintang 5 di Kathmandu Nepal tempat Nick menginap. Dia mentorku sejak 2015 dan dia sempat menolak aplikasiku tahun 2015 untuk berangkat ke Open Conference 2015 di Belgia (wajar sih, dari lebih 3000 pendaftar yang diterima hanya 100).

Open Con 2015 di Belgia.

Nick berkata bahwa dia melihatku memiliki banyak sekali kemajuan dan ya dia menjanjikanku untuk menjadi pemateri di Open Conference 2018 di Toronto, Kanada. Twist banget, karena aku baru membatalkan keberangkatanku ke Kanada dalam ICAP 2018 (konferensi self-funded ttg Psikologi) untuk alasan finansial dan semua uangku ingin jadi persiapan S2 (TOEFL, GRE, terjemah ijazah, dsb); justru aku malah tetap dapat ke Kanada tahun 2018 dengan scholarship (travel, akomodasi, hotel, makan dibiayai penyelenggara).
Pertama kalinya ngobrol dengan Nick secara langsung.


Well, honestly... aku mengerti bahwa panitia akan memberikan travel-scholarship cukup besar jika aku berangkat dari Indonesia.. jadi kuharap aku bisa diterima di perguruan tinggi di USA atau Kanada agar pesawatku cuma Rp 4juta PP bukan belasan atau puluhan juta. Bahkan jika aku gak ke Kanada, aku tetap ingin menjadi bagian dari gerakan ini; bukan karena mengharapkan apapun dari tim internal The Right to Research USA atau SPARC (sering keluar negeri gratis dibiayai dsb), melainkan karena aku ingin menjadi bagian dari solusi permasalahan akademia. Jadi kubilang pada Nick, tidak perlu.

Pertengahan Januari 2018 sebuah email masuk dari asisten direktur The Right to Research USA, Joseph McArthur dan apa yang dia kirim benar-benar sebuah di luar dugaan. Mereka memintaku untuk menjadi salah satu juri penerimaan aplikasi Open Conference sekaligus panitia penyelenggara di Kanada. Khususnya juri pendaftar mahasiswa yang masih S1. Itu artinya meskipun kutolak, aku harus tetap berangkat ke Kanada. Ketika menjadi bagian dari tim, mereka benar-benar mempertimbangkan setiap masukanku, termasuk mengundur acara yang tadinya awal November ke Desember. Kalau November, kemungkinan aku akan berada di Kigali, Rwanda (nge-take conference fully funded memang harus jauh-jauh hari guys).
 
Canada.. I am coming!

Thanks to Allah. Aku belajar di setiap kegagalan akan selalu ada hikmah. Dan percayalah kau tak pernah tahu apa yang Allah simpan untukmu di masa depan. Tahun 2015 tahu, aku berada di antara 3000 pendaftar yang aplikasinya ditolak panitia. Dan ya, sekarang aku jadi jurinya. Hehehehee... (senyum jahat #wkwk)

Jumat, 26 Januari 2018

Indonesia Terakhir ~ Novel Journey Part 1

Awal tahun 2018, aku nutup akun Instagram dan bertekad ke diriku sendiri apapun yang terjadi selama tahun ini seperti menikah, berkarir, konferensi ke luar negeri, atau lulus beasiswa S2 misalnya takkan ku-upload sepanjang tahun. Alasannya aneh banget sih: pengen bahagia.


Lewat Whatsapp juga banyak yg ingin konsultasi, curhat, minta nasihat, seakan-akan aku ini udah sukses. Padahal aku belum sukses sama sekali. Aku pun jadi risih dengan pujian-pujian itu, mau bahasanya nyebelin atau gak, tetep ngerasa risih. Jadi Whatsapp pun sering kali buka hanya 1 kali 1 hari di malam hari. Instagram non-aktif.

Kalau facebook masih kuaktifin karena gak serame Whatsapp dan Instagram.

Kemungkinan IG akan kuaktifkan lagi sih suatu hari nanti, tapi nanti... kalau aku harus promosi novel perdanaku yang masih pertengahan draft pertama (belum draft final). Wkwk.  Novel ini judulnya “Indonesia Terakhir” yang bisa kalian baca di blog aku juga versi cerbungnya: Indonesia Terakhir Part 1.




Udah lama sih kutulis tapi masih pertengahan draft pertama soalnya kurombak ulang agar jauuuuh berbeda dari versi cerbungnya. Kalau di cerbungnya, Danny adalah seorang anak angkat seorang Presiden sekaligus punya sifat-sifat hero (pemberani, membela kebenaran, dan menerima kebenaran/islam). Kalau di novelnya, Danny adalah anak angkat perempuan yang menyamar jadi peramal kuno dan Danny punya sifat-sifat anti-hero (menolak kebenaran). Danny tinggal di Distrik 11 slum area cyberpunk city, Gomera dan dia sekolah di universitas terbaik di kotanya tersebut.

Terus ya... alasanku nulisnya cukup lama adalah karena ada konsep fisika yang harus kupelajari (setidaknya konsep dasarnya) biar kalau sampe ada ilmuwan fisika yang baca, gak nutup mata mereka karena maluu. Wkwk. Richard Muller, salah satu ilmuwan fisika yang tulisan-tulisannya sering kujadikan rujukan konsep Fisika juga bilang, dia paling gak tahan sit-com berbau science fiction kalau udah sudah terlalu mengada-ada. Misalnya fisika klasik dasar yg kita pelajari saat SMA: termodinamika 2—tapi  fisika dasar itu banyak diabaikan demi plot menciptakan time-machine ke masa lalu.

Tantangan selanjutnya yg terbesar adalah: aku  menciptakan dunia baru sendiri dengan hukum sendiri. Seperti JK. Rowling menciptakan dunia sihir dan sekolah Hogwarts, JRR Tolkien menciptakan the Middle-Eearth dalam The Lord of the Rings dan hukum-hukum yang berlaku disitu... Well Indonesia Terakhir juga rencananya Insyaa Allah karena terjadi tahun 2240, dunianya akan jauh berbeda dari dunia manusia sehari-hari sekarang ini. Well, the sky is not the limit, the imagination is.


Menuliskan ini awalnya kayak aku ngerasa akan menuliskan novel terbaik yang pernah ada. Wkwk. Honestly, that was really what I felt... 0% penulisan cerita aku bulak-balik kalang kabut antusias memikirkan kalo aku akan menulis sebuah the best novel ever in the world.

Lalu 20% penulisan cerita, aku mulai berpikir mengapa kepalaku ini gak bisa berpikir... antara aku ini penulis atau ‘orangutan’. Saat-saat penulisan 20% ini pula aku mengubah kalimat pertama dan juga prologku berkali-kali. Berminggu-minggu, berbulan-bulan... dan kusadari aku tidak menuliskan satu kalimat apapun. Mungkin satu-satunya solusi adalah beli kopi yang banyak dan beli meja kayu yang cukup kuat, biar kalau abis minum kopi aku bisa bentur-benturin kepalaku di meja tanpa ngancurin mejanya.

40% cerita tampaknya aku sudah mulai rocking this story. Bahkan ide-ide yang tidak kusangka akan muncul sendirinya di dalam kepalaku dengan syarat—aku terus menulis, menonton film science fiction, dan membaca (novel, artikel ilmiah, dsb). Kata kakakku cerita yang baik adalah cerita yang punya banyak layer (lapisan) dimana setiap layer memiliki pengaruh dalam sebuah konsep cerita keseluruhan, sebab dan akibat karakter memiliki persepsi dan perilaku tertentu. Bukan hanya layer-layer, melainkan juga signs & clue yang bersebaran di kejadian-kejadian atau karakter yang tidak disadari.


"I just write what I wanted to write. I write what amuses me. It's totally for myself."~JK Rowling

Kalau dipikir-pikir, aku mulai rocking ceritanya semenjak menanamkan dalam-dalam di benakku bahwa JK Rowling aja menuliskan Harry Potter bukan untuk menginspirasi pembacanya, melainkan murni untuk menghibur dirinya sendiri. Tereliye pun begitu; makanya beliau bisa begitu produktif, menulis untuk menghibur dirinya sendiri tanpa ada niat untuk menginspirasi sama sekali. Lalu kucoba amalkan, menulis semauku dan BOOM! Keajaiban terjadi. Bahkan aku sering menuliskan 1 hari lebih dari 10 halaman. Yang mana kejadian satu ke kejadian yang lain adalah layer-layer yang memberikan sebab akibat berbagai arah.

Berhari-hari aku sempat menulis tanpa teralihkan drama Korea dsb, dan ada kalanya aku berpikir bahwa kadang-kadang aku berubah menjadi ‘orangutan’ dan adakalanya aku berubah menjadi JK Rowling, setelah itu ada kalanya aku berubah menjadi 'orang utan' lagi. Wkwk.

Perasaan apapun yang nanti akan kurasakan setelah lebih dari 50% penulisan, atau mengalami fase penurunan, stress, merasa tidak fokus, kapok jadi penulis, dsb... well apapun itu... akan kuhadapi. Tapi setidaknya perasaan antusias ini yang membawaku menulis tulisan ini. Sebuah proses naik turun di dalam otakku sendiri dalam menuliskan plot cerita. Wkwkwk. Apa sih.

Untuk karakter cerita itu sendiri, aku mengikuti arketip psikolog Jung dalam kategorisasi karakter. Seperti the hero, the sidekick(s), the maiden, the nurturing mother, the wise old man, the eternal child, the villain, the shapeshifter, dan the trickster. Biasanya cerita yg mengikuti arketip Jung ini novelnya mega best seller; misal Harry Potter, The Lord of The Rings, The Hunger Games, Star Wars, FireFly, dsb. Well.. tergantung penyajiannya juga sih... tapi konsep karakter insyaa Allah seperti ini.



Sementara untuk konsep cerita itu sendiri adalah campuran inspirasi dari (novel/film) Harry Potter, NSJ 2122, The Source Code, Inception, Particle Fever, Alif Lam Mim, Big Hero 6, Idiocracy, Maze Runner, dsb (film dan buku yang kubaca tapi gak inget mungkin konsep ceritanya menginspirasi).

Juga beberapa unsur cerita yg kusuka (belum tentu yg pembaca suka karena novel ini murni untuk diriku sendiri, wkwk) adalah: 
  • Aku suka cerita yg bacanya dari awal sampai akhir bikin tegang seakan berada di 'ujung jurang' (the edge of cliff).
  • Aku suka cerita yang tokoh utamanya memiliki cacat, karakternya dinamis, dan juga kompleks. Situasi juga memaksanya terlihat seperti orang jahat atau anti-hero (tidak untuk dicontoh). Well, tokoh yg paling aku gak suka adalah tokoh yg terlalu sempurna sehingga sulit untuk relate.
  • Aku suka cerita yg antagonisnya adalah protagonis dalam dunia mereka sendiri. Setiap orang melakukan kejahatan tentu punya alasan mendasarinya dong.
  • Aku suka cerita yg jika karakter bisa dilabeli 'baik' dan 'jahat' di kepala mereka, akan ada banyak karakter yg susah untuk dilabeli.  Lagipula, orang memiliki sisi baik dan jahat dalam diri mereka, 'kan?
  • Aku suka cerita yg dibuat karena si tokoh utama sudah tercipta sebelum plot, bukan cerita yang dibuat karena ada plotnya baru menciptakan tokoh.
  • Aku gak suka plot yg bertele-tele atau karakter yg diciptakan untuk plot movement tool. Setiap tokoh harus punya dimensi mereka sendiri.

Untuk ringkasan singkat mengenai cerita ini adalah tentang seorang remaja laki-laki (Danny) dibekukan dalam hibernation-pod selama 200 tahun lamanya. Ketika dia bangun, dia mendapati dirinya lupa ingatan. Setelah beradaptasi dengan seluruh kemajuan teknologi di tahun 2240 selama 5 tahun, dia akhirnya terobsesi untuk dapat menciptakan mesin waktu  untuk dapat memperoleh ingatannya kembali. Sounds too weird? Tak ada batas imajinasi dalam science fiction, huh?

Tulisan ini dibuat murni untuk journey-ku pribadi. Sebelum novel terbit aku akan menuliskan part 2 dan part 3nya. Terus pas novel terbit... oalah... inilah gejolak emosi yang kurasakan.

Rabu, 20 Desember 2017

Perempuan, Berkaryalah. Jangan Ikut-Ikutan Menikah Muda.


Saya heran dengan tren menikah muda yg ajakannya semakin kuat di masyarakat saat ini. Memang kedewasaan tidak diukur dengan faktor usia..., yg saya tidak setuju adalah nikah muda menjadi sebuah tren tersendiri. Orang-orang berlomba membuat meme di media sosial, dan anak-anak muda labil jadi iri dgn anggapan menikah itu menyenangkan tanpa tanggung jawab yg lebih berat.

Saya sempat mem-follow akun-akun yg mengajak gerakan nikah muda. Sayangnya jarang sekali akun-akun itu menyampaikan pesan berupa bekal apa saja yg diperlukan sebelum menikah. Isinya malah mengkompor-kompori... misal "Baper lihat temanmu pamer kemesraan di media sosial? Jika bapernya sudah akut, silakan naik ambulance untuk pergi ke KUA terdekat.".

Saya juga lebih heran dengan meme yg bertebaran dimana "jodoh" dijadikan patokan bagaimana Allah memberikan kemuliaan pada hamba-Nya.

Misal: "Ukhti sholat dhuha jangan terlambat, nanti jodohnya juga datang terlambat." Atau... "Akhi... dengan merokok tahukah kamu bahwa dengan begitu kamu telah mengurangi poin sebagai ikhwan idaman?".

Padahal Siti Maryam dan Siti Asiah. Dua wanita penghulu surga adalah bukti bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan siapa suaminya atau kapan jodohnya datang.

Andaikan akun-akun muslimah yg jumlah followernya ratusan ribu atau jutaan itu isinya bukan tentang galau, penantian, atau bobogohan.., tapi quote motivasi berprestasi.. ajakan wanita untuk berpendidikan tinggi.. atau wawasan yg diperlukan dalam mengatasi permasalahan Indonesia dengan pedang intelektualitas.

Sejujurnya, saya memimpikan remaja muslimah di Indonesia yg isi pikirannya bukan hanya ttg bobogohan... tapi bagaimana agar mereka bisa mencicipi dingin salju di bawah kaki Menara Eiffel, hujan bunga sakura di Tokyo, atau menikmati secangkir kopi hangat di Budapest.

Aktualisasi diri itu penting, bukan untuk menjadi istri pembangkang... melainkan menjadi ibu cerdas untuk anak-anak kalian kelak. Tentu suami adalah jembatan menuju surga-Nya dan memantaskan diri sangatlah penting.. Tapi, seni memantaskan diri bukanlah untuknya, melainkan untuk-Nya. Wallahu'alam.


#nikahmuda

Rabu, 18 Oktober 2017

Diundang Menjadi Pembicara Internasional Pertama Kalinya

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat email masuk dari seorang peneliti Nepal, Dr Roshan Kumar Kahn. Beliau adalah executive director Open Access Nepal, organisasi yang mengusung hasil publikasi penelitian secara online dan gratis di Internet. Dalam email tersebut, dilampirkan undangan untuk menjadi pembicara dalam Asian Regional Meeting 150 peneliti asal Asia dengan tema “Open in Action: Reaching Information Divide”.

Meeting ini diselenggarakan oleh Scholarly Publication Association and Research Coalition (SPARC), The Hewlett Foundation, dan Wellcome Trust. Saya akan menjadi salah satu pembicara dalam sesi panel, sharing mengenai pengalaman saya mengadakan Open Conference Satellite event di Jakarta sejak tahun 2015 hingga sekarang.

Ini pertama kalinya saya mendapat undangan untuk menjadi pembicara padahal tidak apply program apapun sama sekali. Alhamdulillah saya bersyukur. Senang? Tentu saja sangat senang dan antusias. Flashback tahun 2016, saya pernah mengatakan pada salah satu teman saya bernama Navin Bhatta, bahwa saya ingin sekali mengunjungi Nepal; atapnya dunia. Navin juga memberikan saya beberapa postcard foto pegunungan Himalaya di Nepal.


Kalau kata Imam Hasan Al-Banna, “Kenyataan hari ini adalah mimpi dari masa lalu, dan mimpi hari ini adalah kenyataan di masa depan.”

Jumat, 06 Oktober 2017

Kesempatan Kecil yang Mengubah Hidup

Sebuah kesempatan kecil bisa mengubah hidupmu secara drastis. Sebagaimana perempuan paling berpengaruh dalam hidupku pernah menasihati, “Ambillah kesempatan baik sekecil apapun itu, antusiaslah dalam melakukannya, fokus jangan tergesa-gesa, lalu hormati dan belajarlah dari yang lebih berpengalaman!”

Saya langganan peringkat nyaris-terakhir saat masa-masa SMA dulu, saya gagal masuk universitas impian & menunda kuliah selama satu tahun. Teman-teman saya pamer almamater ketika saya mengasingkan diri dari dunia. Kejadian yang saya alami mungkin dialami oleh ratusan ribu calon mahasiswa lain di Indonesia sekarang. Tapi jangan sampai setiap kegagalan yang kita alami membuat diri kita berhenti mencoba!

Satu pintu tertutup dan cahaya asa itu  meremang. Tetap yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu menemukan banyak pintu-pintu lain yang masih terbuka! Pintu-pintu itu adalah kesempatan-kesempatan lain; untuk berkarya, berkontribusi, berprestasi dan berbagi. Meski terkadang pintu itu terlihat sederhana, kau tak pernah tahu apa yang ada di baliknya menantimu!

Pintu saya adalah ketika saya mendampingi 100 anak-anak putus sekolah dalam program PPA-PKH 2015 dan mendengarkan kisah-kisah mereka. Sebagian kisah mereka saya tulis dalam aplikasi esai untuk International Conference on Family Planning 2016 di Nusa Dua Bali. Deadline aplikasi adalah jam 12 malam ketika saya submit jam 11 malam. Qodarullah, saya diterima, mendapat tiket pesawat gratis, fasilitas hotel bintang 5, bicara di forum internasional dan menjalin relasi dengan para pembuat kebijakan dunia.

Lalu pengalaman itu mengantarkan saya menjadi mahasiswa berprestasi, nominasi 120 under 40,  delegasi Indonesia ke forum pemuda di kantor pusat PBB New York City, menjuarai perlombaan, memperoleh penghargaan lainnya, dan sekarang memfasilitasi forum internasional IYFI 2017 di Singapura. Bermula dari mendengarkan sebuah kisah anak yang menjadi buruh cuci.

Setiap orang memiliki pintunya masing-masing. Jangan pernah menganggap remeh setiap kesempatan baik sekecil apapun itu. Juga jangan menunda kebaikan. Karena kau tak pernah tahu, #HadiahBertubiTubi apa yang menantinya di balik pintu kesempatan yg tampak sederhana itu.

Selasa, 15 Agustus 2017

Indonesia Lebih Menghargai Peran Perempuan



Dunia barat kian menyuarakan bahwa kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki dan mendengung-dengungkan bahwa mereka adalah propaganda dari pergerakan tersebut. Padahal jauh sebelum dunia barat mendengung-dengungkan hal itu, Indonesia sudah jauh lebih menghargai peran perempuan daripada Barat. Baca resensi buku yang saya tulis Sejarah Perempuan Indonesia yang ditulis oleh Cora Vreede de Stuers dimana dalam buku itu disebutkan bahwa gerakan kesetaraan berasal dari Barat.

Padahal sejak Pemilihan Umum pertama di Indonesia tahun 1955 (10 tahun setelah kemerdekaan), wanita sudah punya hak yang sama dengan laki-laki dalam hal tatanan politik Indonesia. Sementara, bangsa Amerika dan Eropa harus menunggu ratusan tahun setelah kemerdekaan hingga akhirnya perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk memilih. Amerika membolehkan wanita memilih pada tahun 1920, artinya bila mereka merdeka tahun 1776, mereka baru memberikan hak sama pada perempuan setelah 144 tahun kemerdekaan. Tepatnya setelah keluar amandemen ke-19.  Juga jauh sebelum Indonesia merdeka, tahun 1928, Kongres Wanita sudah diadakan pada tahun 1928 yang lalu kemudian dirayakan sebagai hari ibu.

Setelah berdiri salaam 241 tahun dan sebanyak 58 kali mengadakan pemilihan presiden, 45 orang terpilih sebagai presiden, tidak ada satupun wanita yang terpilih menjadi presiden amerika. Sedangkan Indonesia yang baru punya 7 presiden, salah satunya adalah wanita.

Lalu bagaimana dengan hak pilih perempuan di Negara-negara Eropa?

Di Inggris, pada tahun 1918 wanita berusia di atas 30 tahun sudah bisa memilih. Padahal pria berusia 21 tahun sudah bisa memilih. Baru 10 tahun kemudian, pada tahun 1928 hak pilih disamakan. Inggris sendiri pertama kali mengadakan pemilihan umum pada tahun 1708, itu artinya perempuan di inggris harus menunggu selama 220 tahun untuk mendapatkan hak pilih sebagaimana pria.

Jerman memulai pemilihan umum pada tahun 1708 dan memberi hak memilih pada kaum perempuan pada tahun 1918. Itu artinya perempuan harus menunggu 210 tahun untuk punya hak memilih sama dengan laki-laki.

Finlandia merupakan yang pertama memberikan hak pilih pada perempuan yaitu tahun 1906, kemudian disusul oleh Negara-negara Eropa yang lain. Norwegia memberikan hak pilih pada perempuan tahun 1912, Denmark dan Islandia memberikan hak pilih tahun 1915. Uni Soviet pada tahun 1917. Austria, Cekoslowakia, Polandia, dan Swedia memberikan hak pilih pada tahun 1918. Luxemburg menyusul tahun 1919. Spanyol pada tahun 1931, Perancis tahun 1944; Italia, Belgia, Rumania, dan Yugoslavia tahun 1946. Padahal kemerdekaan-kemerdekaan Negara tersebut jauh terjadi sebelum Indonesia.

Secara historis Indonesia lebih menghargai peran perempuan.

Sumber: Gara-Gara Indonesia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...